Senin, 13 Oktober 2014

,

Pencapaian Kinerja DJP dan Permasalahan Komunikasi Bawahan Atasan

Ostroff dalam Jex (2002:131) mengemukakan bahwa organisasi yang tingkat kepuasan pegawainya tinggi cenderung memberikan kinerja yang tinggi terhadap organisasinya.

Sejak tahun 2002  sampai saat ini kondisi tax ratio yang merupakan salah satu faktor pengukur kinerja penerimaan pajak tetap rendah hanya dikisaran 10 % s.d 12 %  dan lebih rendah dibandingkan dengan negara negara lain di Asean. Apabila kinerja organisasi belum mencapai hasil maksimal maka kinerja pegawai DJP sendiri bisa menjadi titik kritis yang harus mendapat perhatian untuk diteliti dan dipertanyakan.

Berangkat dari hasil penelitian yang mengemukakan bahwa organisasi yang tingkat kepuasan pegawainya tinggi cenderung memberikan kinerja yang tinggi, maka tak salah kita mempertanyakan  apakah ada korelasi antara rendahnya pencapaian tax ratio dengan kepuasan pegawai DJP. Jangan jangan disamping banyaknya variabel yang harus diperhitungkan maka pertanyaan sederhana itu pun layak untuk dipertanyakan.

Salah satu unsur yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah proses komunikasi. Brownell dalam Forster (2005:94) menyatakan bahwa riset dalam organisasi telah menunjukan hal yang paling diinginkan pegawai dari manajer senior dan pemimpin mereka adalah komunikasi yang lebih sering dan menambah keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian pertanyaan tentang kinerja pegawai DJP akhirnya dapat kita tarik pada proses komunikasi

Komunikasi bisa dianggap sebagai lem perekat organisasi. Semisal analogi produk sepatu yang terlihat hanya bagian desain muka, sol bawah dan bahan bahan membuatnya. Bagian lem tidak kelihatan jelas padahal itulah yang membuat produk sepatu itu kuat karena menggunakan lem yang kuat. Kalau pemisalan seperti itu dinisbatkan pada organisasi, maka lem komunikasi itulah yang harus menjadi perhatian.

Sebagaimana karakter organisasi pada umumnya, hal yang sering menjadi permasalahan adalah komunikasi atasan bawahan yang sering menimbulkan gap karena pengambilan keputusan lebih banyak di dominasi model top down dan sangat jarang bersifat bottom up sehingga keputusan jarang melibatkan bawahannya.

Dalam prakteknya komunikasi ke atas sulit karena sulitnya memperoleh informasi ke bawah. Empat alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit :

1.    Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikiran mereka. Penelitian menunjukan bahwa pegawai merasa bahwa mereka akan mendapat kesulitan bila mereka berbicara kepada pimpinan  mereka dan cara terbaik untuk naik pangkat dalam organisasi tersebut adalah sepakat dengan pimpinan  mereka.

2.    Perasaan bahwa pimpinan  tidak tertarik kepada masalah pegawai. Pegawai sering sekali melaporkan bahwa pimpinan mereka tidak memperhatikan masalah mereka. Pimpinan mungkin tidak memberi tanggapan terhadap masalah pegawai dan mungkin menahan beberapa komunikasi ke atas karena hal itu mungkin membuat mereka terlihat buruk dalam pandangan atasan mereka.

3.    Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai. Seringkali pimpinan tidak berhasil memberi penghargaan yang nyata atau terselubung untuk mempertahankan agar saluran komunikasi ke atas tetap terbuka.

4.    Perasaan bahwa pimpinan  tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan pegawai. Bisa terjadi pimpinan terlalu sibuk untuk mendengarkan atau bawahan tidak dapat menemukan mereka. Bila penyedia ada di tempatnya, ia tidak tanggap pada apa yang dikatakan bawahan tersebut.



Akibat dari terputusnya komunikasi ke atas maka sangat dimungkinkan pegawai merasa tidak terlibat, tidak bahagia dan tidak puas sehingga tidak bisa memberikan kontribusi maksimal, padahal merekalah garda terdepan yang berjuang bagi pencapaian kinerja DJP.

Kenapa komunikasi dari bawahan penting. Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan oleh mereka yang mengarahkan organisasi, dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya. Selain itu dapat memberitahukan kapan bawahan mereka siap menerima informasi dari mereka dan seberapa baik bawahan menerimanya.  Komunikasi ke atas memungkinkan bahkan mendorong omelan dan keluh kesah muncul ke permukaan sehingga  pimpinan  tahu apa yang mengganggu mereka.

Komunikasi bawahan ke atasan dapat menumbuhkan apresiasi dan loyalitas kepada organisasi dengan memberi kesempatan kepada pegawai untuk mengajukan pertanyaan dan menyumbang gagasan serta saran-saran mengenai operasi organisasi dan  membantu pegawai mengatasi masalah pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut.

Kunci dari semuanya adalah adanya pimpinan yang mau mendengar dan bersedia berbagi dengan anggotanya. Ego pimpinan akan sangat menghambat proses komunikasi. Ketentuan peraturan yang digariskan, beribu ribu lembar SOP, Model Penilaian Kinerja dan Konsep konsep sehebat apapun yang diadopsi dari luar  akan menjadi tak bernilai.

 Ibarat sepatu dari kulit buaya yang hancur sekali pakai karena menggunakan perekat yang kurang baik. Perekat itulah ”Lem Komunikasi”. Sudah seharusnya dan selayaknya komunikasi tidak hanya berupa instruksi semata dari atas tetapi melibatkan bawahan. Merekalah garda terdepan berhubungan dengan semua pemangku kepentingan DJP. Merekalah yang berjuang di garis depan pertempuran merebut hati rakyat untuk peduli dengan bangsanya... Mereka adalah manusia yang pasti ingin juga di dengar. Bahagiakanlah mereka..karena dengan bahagia mereka berkinerja..Kebahagian pertama mereka adalah mereka bisa berbicara.









Daftar Pustaka :

1.    Jex M Step  (2002). Organizational Psychology. John Wiley, Canada

2.    Forster Nick  (2005).  Maximum Performance. Edward Elgar Publishing, Inc  USA.

3.    Pace Wayne, Faules F Don  (2006). Komunikasi Organisasi. . Alih bahasa Deddy Mulyana. Rosdakarya. Bandung.

4.  Haryo Abduh Suryonegoro (2013), SDM yang berkarakter menyongsong DJP Gemilang