Jumat, 03 Oktober 2014

,

“Sederhanakanlah” Menentukan Pilihan


Tatkala terjadi dialog antara Sang Pencipta dan Malaikat tentang penciptaan manusia, timbul pertanyaan mengapa Sang Pencipta menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi dengan segala karakteristik sifatnya. Manusia selain wujud fisiknya dianugrahi rasionalitas, emosional dan tentu bakat bakat spiritual. Semua sudah diatur dalam kadar dan sangat yakin tidak ada kesia-an dalam semua penciptaan.

Sang Pencipta memberikan dua kekuatan yang sekan bertolak belakang. Akan ada dua sisi yang saling bersebrangan..ada siang ada malam, ada bumi dan langit, ada matahari dan bulan itulah perumpamaan yang sering kita lihat sebagai bagian yang harus kita pikirkan karena peringatan bahwa manusia yang luar biasa adalah manusia yang berpikir atas segala apa yang Sang Pencipta ciptakan.

Dalam proses kehidupannya Sang Pencipta juga sampaikan bahwa kadang ada kesulitan dan akan ada kemudahan..Dengan penegasan jelas disampaikan ada kemudahan sesudah kesulitan. Spirit itu yang senantiasa harus kita jaga kita yakini karena disitulah manusia bertahan dengan harapan. Bentuk harapan itu terus menerus diulang dalam keseharian dalam bentuk “doa” karena doa intinya adalah harapan.

Harapan itu sendiri tidak terlepas dari permasalahan yang memang senantiasa akan terus mengiringi…Masalah utama terletak pada sifat dasar yang juga Sang Pencipta telah tentukan yakni adanya ketakutan ketakutan untuk tidak mendapatkan harapan baik yang semua yang kita inginkan. Ketakutan akan kekurangan, kemiskinan,serta  tidak tersedianya kemampuan yang dalam bahasa ekonomi  dikenal dengan istilah daya beli.

Tentu semua akan menghadapi masalah dengan ukuran timbangan yang mungkin berbeda karena potensi berbeda pula yang Sang Pencipta berikan pada masing-masing orang. Harapan yang terlalui rumit dan ketakutan yang yang terlampau jauh itulah yang membuat timbangan kita terlalu berat bobotnya untuk kita timbang.

Tatkala dihadapkan dalam berbagai pilihan yang harus kita pilih maupun yang seakan kita tidak mampu memilih semuanya hakekatnya bergantung pada diri kita yang telah diberikan kelebihan untuk mengimbangi kekurangan, harapan untuk mengimbangi ketakutan.

Sesuai tujuan penciptaannya pada akhirnya semua akan bermuara pada penilaian siapa yang lulus menjalankan amanat yang Sang Pencipta berikan. Amanah kita diberi hidup, diberi keturunan diberikan kepercayaan memiliki pekerjaan dan amanah amanah lain yang menjadi tanggung jawab kita

Dalam lingkup organisasi yang sedang belajar dan anggota yang sedang belajar, maka mulai lah dengan belajar yang sederhana. Belajar memahami dimana kita menginginkan tempat untuk kita tinggal, untuk kita bekerja. Walaupun saat ini atau belum jelas sampai kapan kita tentu tetap punya harapan. Dalam bayang pertarungan ketakutan dan harapan semestinya kita banyak melihat sekeliling bagaimana orang lain bisa sederhana menentukan pilihannya dan memulai dari yang sederhana dengan kacamata sederhana.

Senandung “Sewu Kuto” dari Om Didi Kempot seolah mengiringi tekanan tekanan tut Komputer tatkala kita harus mengisi pihan kita. Organisasi memang semestinya bisa memahami keinginan dan harapan anggotanya. Sangat yakin organisasi menginginkan anggotanya senang dan bahagia sehingga bisa menghasilkan kinerja yang hebat. Kembali kita dihadapkan pada pilihan “homebase” dan “hombas” jauh dan dekat. Kita tidak menapikan harus ada yang jauh dan harus ada yang dekat. Semua mesti disiapkan karena wilayah kerja kita memang jauh terbentang.

Mudah-mudahan Organisasi dan anggotanya sama sama belajar memahami harapan dan ketakutan, karena ada harapan organisasi dan harapan anggota, ketakutan organisasi dan ketakutan anggota, kesulitan organisasi dan kesulitan anggota, kemudahan organisasi dan kemudahan anggota.

Manusia kadang tidak shabar menempuh dan menunggu waktu. Tetapi Yakinlah bahwa Sinar terang akan selalu datang tatkala malam mulai meninggalkan fasenya  dan sinar juga bergantian dalam fase waktunya masing masing.

Mulailah dengan menyederhanakan permasalahan dan mencari solusi solusi sederhana.. Yang dirasa berat adalah bagaimana kita berdamai dengan diri kita sendiri untuk mampu membaca semua isarat Sang Penciptanya dengan sederhana karena sederhana itu membuat sesuatu menjadi “Mudah” dan “indah”. Maka sederhanakanlah pilihan kota mu.

Buat pegawai yang sementara harus jauh dari anak istrinya marilah kita dendangkan lagu Ikrar Kang Iwan Fals…..

Meniti hari, meniti waktu, membelah langit belah samudra.Ihlaslah sayang kukirim kembang, tunggu aku,tunggu aku. Rinduku dalam semakin dalam. Perjalanan Pasti kan sampai. penantianmu semangat hidupku. Kau cintaku,kau intanku. Doakanlah sayang harapkanlah manis, suamimu segera kembali, Doakanlah sayang,harapkanlah manis, suamimu suami yang baik. Kutitipkan  semua yang kutinggalkan, kau jagalah semua yang mesti kau jaga .Permataku Aku percaya Padamu…..

Bahagiakanlah kita memilih, karena dalam hidup Tuhan selalu berikan pilihan dan jalan………………..!


 

Blog Archive