Kamis, 06 November 2014

,

Ada rasa dalam angka, huruf dan warna


Ada yang baru dari rapor anakku tahun ini. Memasuki kelas IV dengan kurikulum baru dan model mata pelajaran baru dengan pembelajaran tematik ternyata juga menyuguhkan model baru penilaian dalam rapor. Penghilangan ranking dan model nilai berbasis huruf dan bukan angka lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua itu saya yakin ada tujuan yang ingin dicapai dan ada strategi yang ingin dibangun dalam memberikan motivasi anak untuk belajar.

Dalam beberapa bulan lagi rapor bayangan dalam bentuk Nilai Kinerja Organisasi akan menjadi rapor tahunan bagi semua bagian, unit, baik KPP, KP2KP,Kantor Wilayah maupun kantor Pusat. Pencapaian yang tentu harus diupayakan baik individu maupun organisasi adalah bagaimana mendapat nilai berupa angka yang bagus dan warna bagus. Kalaupun tidak mendapat warna hijau, minimal kuning bisa diraih. Warna merah akan terasa tidak indah lagi dipandang, layaknya guru yang memberi warna warna merah pada nilai yang kurang memuaskan semasa kecil saat sekolah dulu.

Bulan Nopember dan Desember akan sangat terasa seperti mau menghadapi ujian akhir yang bahkan semasa kuliah berakhir dengan vonis DO. Hal yang sangat menakutkan dan begitu ngeri dibayangkan dengan bawaan koper dan tatapan iba teman dan mungkin nyinyir pandangan orang. Kebanggaan waktu terpilih menjadi hilang sirna dalam sekejap, walaupun mungkin banyak orang yang bangkit dan menjadi lebih baik. Penilaian memang harus ada karena penilaian melahirkan kompetisi dimana yang kalah dan menang tetap terhormat di posisinya dan masih ada waktu kelak untuk meraihnya, baik dan semakin baik.

Kembali ke model penilaian rapor anak, akankan penilaian memberi dampak bagus pada anak. Apakah model angka dan warna sudah tidak jamannya lagi dengan kondisi sekarang?  Pertanyaan ini pula yang dilayangkan pada Nilai Kinerja Organisasi dan capaian kinerja individu . Apakah penilaian kinerja individu dan organisasi dengan model angka dan warna yang menghiasi rapor di institusi kita sudah pas. Inilah sesungguhnya yang menjadi “kerisauan”.

 Model penilaian individu dengan hampir enam puluh persen berbasis capaian angka dengan balutan  warna akan selalu jadi perdebatan begitu model sudah ditetapkan dan anggotanya sebagian “hanya” bisa menerima sebuah keputusan.

Begitu rapor terpampang ada tiga bagian dalam Nilai Kinerja Organisasi yang kurang enak dipandang, yakni warna merah penerimaan, warna merah ekstra effort dan warna merah kepatuhan. Warna ini timbul karena settingan excel atas angka-angka yang tampil. Angka dan warna turunan ini tentu akan “selaras” dengan dengan angka dan warna untuk ukuran kinerja individu. Angka dan warna akan berujung pada target turunannya pada sisi individu. Keindahan warna seketika bisa hilang keindahannya.

Di saat penentuan target  belum jelas perhitungan karena kurangnya dukungan data sebagai bahan analisa, kondisi ekonomi yang senantiasa bergerak dinamis dalam iklim politik yang bergerak turbulen  akan menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua dalam memformulasi target. Target menjadi titik awal penilaian rapor  akan seperti apa nanti angka dan warnanya.

Ibarat muara air yang “kurang” jernih dari hulunya maka sudah tentu bergerak ke hilir air lebih bercampur karena panjangnya perjalanan dan warna air makin susah untuk ditentukan . Kondisi geografi dan ekonomi di daerah yang bervariasi, kondisi politik dan kegaduhan di pemerintah daerah setempat dan adanya perbedaan saat dan tempat pajak terutang makin mempersulit perhitungan.

Belum lagi model pembayaran pajak sendiri dan melalui mekanisme pemotongan pemungutan menyebabkan aliran penghasilan ke suatu daerah telah dipajaki terlebih dahulu di  daerah asal aliran tersebut. Daerah pemukiman akan berbeda potensinya dengan daerah industri, perdagangan dan wisata. Semua itu tentu harus diperhatikan dan diperhitungkan.

Pencapaian  kinerja organisasi dan individu merupakan hasil dari kerja bareng dan bukan hasil usaha individu semata. Ibarat ikatan maka bagian yang satu akan mempengaruhi bagian yang lainnya. Pelayanan, Pengawasan  Penegakan Hukum dan dukungan data dan kenyamanan dan keamanan kesejahteraan akan bergerak masing-masing bersama atau berlawanan. Bergerak ke satu tujuan memudahkan. Arah gerakan berbeda menghancurkan.

Model penilain dengan sistem diturunkan dan tidak diturunkan, aktivitas berbasis kuantitas atau  kualitas, fokus kerja individu atau organisasi akan selalu  menjadi perdebatan  untuk didiskusikan.Ini hasil saya atau anda, kami atau kita mungkin mengiringi dalam kerasnya perjuangan.

Ujung semuanya tentu tidak menjadikan kita lelah berupaya mencari model yang lebih bagus dan lebih adil.  Bukan pada nilai yang dikhawatirkan tentu dampak penilaian yang di takutkan. Di saat nilai menjadi “dewa” maka orang akan berfikir apa yang diinginkan dewa tersebut. Semua akan asik dalam targetnya masing-masing.

Ibarat petani jagung yang asik dengan kebunnya sendiri dengan perawatan yang luar biasa untuk kebunnya sendiri. Semestinya ia hatus memikirkan  kemungkinan panen gagal dan hancur berantakan karena petani tetangganya menanam tanaman yang mengundang hama dan hama tersebut akhirnya hinggap di kebun sang petani. Disinilah perlu peduli dan sinergi. Terlalu fokus pada raihan individu karena tuntutan  nilai harus diwaspadai dan dicegah efek negatifnya.

Model penilaian yang akan menentukan nilai, karier dan mungkin  kesejahteraan anggotanya, harus diformulasi dengan sangat hati hati. Nilai individu seharusnya tidak memasung kreativitas dan ikatan gotong royong warganya.

Ibarat ungkapan formulasi adil kadang tidak sederhana, dan kesederhanaan aturan kadang membuat keadilan tidak nampak dalam hitungan. Mungkin ini hanya bayangan “ketakutan saja”. Orang menjadi tidak peduli yang lainnya karena mengejar model target yang telah ditetapkan. Karena kami yakin ada kelebihan dan kekurangan seseorang maka model penyeragaman akan sulit mewujudkan sisi keadilan. Kodok akan senang berenang tapi tidak dengan binatang lain. Penyeragaman model harus dikritisi dengan berupaya mencari formulasi yang lain.

Ibarat pelangi semua warna menghiasi. Semua anggota mewarnai gerak dinamika organisasi.  Saya percaya pemimpin mampu membuat formulasi  dengan berusaha seadil-adilnya dalam menilai.

 Ada rasa dalam angka, huruf dan warna. 


Blog Archive