Jumat, 28 November 2014

,

Fenomena “Asisten Rumah Tangga dan Majikan” dalam model kepemimpinan DJP

Dalam dunia kesehatan masyarakat dikenal suatu ungkapan “Kejadian Luar Biasa” menghadapi adanya endemi suatu penyakit menular yang berbahaya yang disebabkan oleh suatu penyakit menular. Sebagai contoh kasus, bisa kita ambil kejadian luar biasa demam berdarah. Suatu rumusan telah ditetapkan bahwa apabila ada satu orang meninggal dalam suatu daerah, maka pihak dinas kesehatan setempat menetapkan adanya kejadian luar biasa yang perlu penanganan segera dan bukan penanganan biasa atau bahasa “sunda” nya extra ordinary.

Pasca seleksi administrasi dalam proses lelang jabatan khususnya untuk posisi Dirjen Pajak , ada tahapan berikutnya yakni  uji makalah. Bocoran pertanyaan yang sudah menyebar melalui media masa berpusat pada upaya apa yang luar biasa dan bukan biasa yang akan dilakukan pimpinan DJP dan bagaimana mengelola sumber daya manusianya (SDM).

Tim seleksi menyadari tentang perlunya upaya yang tidak biasanya dan monoton terkait strategi pencapaian penerimaan dan penataan SDM. Inilah yang sebenarnya kita tunggu dan ingin diketahui seperti apa gagasan dan pemikiran calon-calon ini. Hal yang akan sangat luar biasa apabila makalah dan penyajian bisa ditampilkan terbuka sehingga semua tahu kapasitas dari masing-masing calon.

Zaman saat ini, saat  perubahan menjadi sebuah keniscayaan dan informasi begitu cepat menyebar dalam dunia yang datar dan transparan  dengan putaran roda jaman yang cepat dan tak terduga perlu kewaspadaan extra, perlu langkah extra dan sudah pasti kerja  extra. Extra bukan hanya dimaknai sekedar slogan extra effort  tetapi menyuguhkan usaha yang sesunggguhnya yang tidak biasanya.

Belajar dari penataan kejadian luar biasa penanganan penyakit menular ada dua pelajaran yang kita petik.  Pertama, ada penghargaan terhadap nyawa manusia, sehingga kejadian serupa bisa diminimalisir bahkan kalau perlu bisa diupayakan hilang. Kedua, ada prosedur mitigasi risiko yang cepat untuk menyelamatkan masyarakat sekelilingnya dari kejadian yang sama dan mengidentifikasi penyebab penularan penyakit  serta bagaimana penanganan atas pasien yang sudah tertular penyakit sehingga tidak berdampak kematian yang sama.

Pelajaran serupa bisa kita ambil dalam kasus keluarnya pegawai DJP yang mungkin sudah lama mengabdi. Apakah hal tersebut dianggap kejadian luar biasa atau sebatas kejadian biasa. Kalau pola pikirnya hanya sebatas masih banyak orang yang ingin berkarier di DJP dan siap mengambil antrian ujian sehingga tidak menjadi permasalahan yang luar biasa,  jangan jangan institusi ini masih berpola  buruh majikan.

Kita ambil contoh begitu buruh teriak dan demo, maka majikan mungkin berpikir pecat sekalian, biarkan mereka, pasti kembali dan mereka tidak akan berani. Seandainya tidak berkinerja maka pemecatan yang harus didahulukan. Itulah pola pikir majikan.

Fenomena susahnya mencari asisten rumah tangga yang dipercaya dan sungguh-sungguh  membantu harusnya menjadi pelajaran bahwa majikan pun perlu buruh sebagai bawahan yang butuh penghargaan dan bimbingan dari majikannya. Mereka akan kebingungan di saat tidak ada asisten, dan baru menyadari pentingnya kehadiran mereka manakala kita ditinggalkan.

Sebagai institusi yang menjadi tulang punggung negara dan harapan kesejahteraan masyarakat, ekonomi yang berkeadilan, model kepemimpinan DJP yang bercorak buruh majikan harus ditinggalkan. Model kepemimpinan yang hanya mengawasi dan memerintah semata serta hanya bisa menilai adalah model usang yang seharusnya sudah di buang jauh sampai seberang lautan. Apalagi model pemecatan tanpa melihat beban yang dilimpahkan, dapat kita ibaratkan sebagai majikan yang terus memerintah tanpa memperhatikan kekuatan dan kesehatan buruhnya. Semua pasti teriak sebagai suatu yang tidak berperikemanusian. Menjadi ironi tersendiri jika pemimpin kita hanya bisa bicara ganti ganti ganti.

Bagaimana model kepemimpinan DJP yang harus dipilih. Model bapak dan anak semestinya dan seharusnya menjadi pilihan. Tidak ada bapak yang tega menceritakan  aib anaknya. Seorang bapak akan bicara bangga dengan anaknya. Kebanggaan yang akan diceritakan, bukan kekurangan apalagi aib anaknya.  Seorang bapak akan senang menjelaskan bagaimana seorang anak harus bersikap, dan mengajarkan anak sebuah kemandirian. Memberi kepercayaan ditengah kegelisahan dan kekhawatiran. Seorang bapak adalah guru yang akan membimbing, seorang pemimpin yang akan mendorong anaknya maju, memberi teladan dan tidak lupa duduk dan bicara berdampingan dalam setiap permasalahan yang dihadapi anaknya. Mana ada bapak yang berpikir mengganti anaknya, sejelek apapun dia akan mengakui dan meneguhkan hatinya. Hanya anak durhaka yang mungkin tersingkir.

Model kepemimpinan yang abai dengan anaknya yang pergi sama saja dengan petugas kesehatan yang abai tatkala ada yang mati. Virus tidak dikenali apalagi diobati. DJP jangan berpikir hanya mencari pengganti dan memberi vonis semata. Majikan saja mulai sadar dengan peran pembantunya, apalagi seorang bapak dengan kehadiran anaknya. Jadilah pemimpin yang menjadi bapak bagi bawahannya. Mau mendengar celotehan bahkan rengek manja anaknya. Bukan membentak dengan teriakan dan mencaci di hadapan orang, apalagi orang lain.

Bawahan telah terlahir sebagai anak yang akan menjadi bapak dikemudian hari, beri keteladanan, beri pelajaran yang baik dan beri kesempatan yang baik. Hargai mereka, bina mereka, pahami kesulitan mereka. Suatu saat dikala dia menjadi pimpinan, di saat anak sudah dewasa, dengan bangga dia akan bilang semua karena peran bapaknya. Saatnya bawahan bangga dengan atasannya dan kelak dia akan menyadari kasih sayang dan pengertiannya.

Ibarat keluarga,  hubungan kerja di DJP  bukan hubungan majikan dan asistennya tetapi seorang bapak dan anaknya.



Senandung rindu dari Kla Prajoect untuk seluruh pegawai DJP…………………………..Semoga  

~aHe~

Blog Archive