Selasa, 18 November 2014

,

Film Korupsi dan Ironi Kesejahteraan


Sesuatu sekali kalau bisa kita istilahkan dengan “Bahasa Syahrini”. Untuk menumbuhkan “aware” tentang bahaya korupsi, institusi melakukan upaya-upaya luar biasa yang sistematis untuk mencegah perilaku koruptif. Level korupsi  dibicarakan dari level yang besar sampai level terkecil, dari yang nampak maupun yang samar dan dari bernilai uang maupun yang dapat disamakan dengan uang.

Suatu upaya bagus dan luar biasa mengkompanyekan suatu gerakan melalui media, karena media sedang menjadi raja. Sinetron maupun film dapat menyentuh sisi terdalam masyarakat apalagi masyarakat kita yang memang hobi nonoton terutama nonton sinetron.

Film menggambarkan realita masyarakat, karena dia tumbuh di tengah masyarakat dan merupakan hasil karya penggambaran dari apa yang terjadi dalam masyarakat. Film tanpa suara dan hanya kata-kata akan lebih terasa dibanding hanya sekedar tulisan apalagi coretan. Film bisa menggugah, bahkan sampai level air mata. 




Namun film juga punya sisi kekurangan. Dia hanya akan bermakna dan disenangi pada saat pertama kali ditonton, karena selanjutnya masyarakat jenuh dengan film yang sama. Perlu kreatifitas tinggi untuk membuat film film yang menampilkan sisi lain yang belum ditampakan. Dunia film adalah dunia kreativitas tinggi maka wajar media adalah raja yang berkuasa ditengah sokongan kreatifitas tanpa batas.


Saat menonton Film tentang korupsi ada rasa dimana kita dinasehati, dimana kita diingatkan, namun disitu juga ada ironi. Ironi yang digambarkan lebih pada ketidakberdayaan menghadapi keadaan. Ibarat pisau yang sering kita lihat, maka dia akan tajam pada sisi bawah dan tumpul pada sisi atas.Dia akan tegak dengan aturan kebawahnya tetapi acap kali abai pada sisi penyebabnya. Dia akan tajam ke hilir  dan tumpul kepada penyebab yang melatar belakanginya.

Suatu gambaran yang tragis dari institusi dengan korban-korban kasus yang ada. Mereka hanya ada level bawah birokrasi  dan jarang menyentuh sisi teratas birokrasi. Karena hukum memang bicara bukti, dan bukti itu terpaksa dipegang mati bawahan. Seolah martir yang siap membentengi atasannya, maka bukti pasti akan dipegangnya karena dengan “bom” itu dia menyenangkan atasannya.



Coba kita berkaca pada pemberitaan yang ada. Dalam kasus korupsi pemegang bukti awal yang pasti jadi incaran. Entah siapa yang serakah sebenarnya, atasan atau bawahannya. Kadang bawahan terpaksa mengikuti atasannya karena dia mendapati “surga dunia” dengan ketaatannya dan dia mendapati “neraka dunia” karena perlawanannya.

Surga itu dapat berwujud fasilitas uang dan barang, koneksi jaringan informasi mapupun pangkat dan jabatan. Bawahan kadang menggadaikan dirinya karena ketidakberdayaannya. Pemisalan yang kita lihat dari pengemis di jalan yang harus mengorbankan harga dirinya, dihina masyarakatnya di lecehkan dan ditangkap sementara bos besar yang mengumpulkan hasilnya lepas dari pandangan masyarakat. Ia tersembunyi dibalik ketidaktahuan masyarakat. Demikianlah korupsi bawahan dapat dianggap “pengemis” tadi dan atasan ibarat bayanyan tertutup dari tokoh di luar layar yang sebenarnya lebih berjaya dan berkuasa dengan segala keserakahannya.

Bicara korupsi harus tuntas dari hulu sampai hilir. Anda ingat ucapan kala seorang rekanan tertangkap KPK. Ia akan bilang saya hanya apes saja karena semua sebenarnya melakukan hal yang sama. Kebetulan saya “dipaksa” sadar. Argumen dia sampaikan, dapur usaha kami harus jalan dan kami rekanan yang mengharap belas kasihan proyek, maka wajar kalau harus memberi karena mereka butuh priuk nasi. Awalnya semua berawal dari kebutuhan, walaupun pada ujungnya ada keserakahan. Awalnya dia butuh air manis pada akhirnya dia kemanisan sendiri sehingga tidak mungkin lagi dinikmati.


Film korupsi memang penting untuk mengingatkan, tapi kesejahteraan harus dikompanyekan juga. Virus bakteri dan segala sumber penyakit tidak mungkin hilang dan akan selalu ada. Virus harus dikenali, tapi penjagaan kondisi dan stamina serta vitamin juga harus diperhatikan. Jangan harap penyakit hilang di saat kondisi dan stamina tubuh sedang tidak mendukung. Kompanyekan korupsi tapi jangan lupa kompanyekan kesejahteraan.    


~aHe~

Blog Archive