Selasa, 04 November 2014

,

Pemimpin lahir untuk mendengarkan



Hampir tiap tahun seolah berulang-ulang  dalam berbagai forum baik forum resmi atau sekedar obrolan warung kopi yang sekarang berkembang dalam bentuk blackberry messager ataupun whatsApp adalah kinerja penerimaan dan kesejahteraan. Dua isu yang sudah sekian lama jadi asik diperbincangkan tanpa menemui solusi solusi karena kendala lebih mengemuka di depan. Satu yang agak menggelitik bahwa semua ujungnya pembicaraan adalah pemimpin atau atasan dengan segala pernak pernik isu dan pemberitaan.
 Melihat fenomena tersebut, kita melihat ada tiga fokus yang seharusnya menjadi titik sentral pembicaraan yakni hubungan antara kinerja institusi atau lembaga dengan keterampilan mendengarkan pemimpinnya, manusia sebagai sumber daya utama dan komunikasi internal sebagai kunci sukses dan kekuatan penuh organisasi. survei menyimpulkan bahwa komunikasi internal sangat langka dan tidak selalu efektif karena komunikasi satu arah tampaknya menjadi bentuk paling umum dari interaksi dalam organisasi walaupun pemimpinnya sadar akan potensi sumber saya manusianya.
Hal yang menarik yang sekarang sedang asik di media adalah sorotan atas perilaku pemimpinnya, dari mulai Sang Presiden Jokowi dan menteri menteri bahkan media lebih luas menguliti pemberitaan sampai ke keluarganya dan bahkan “terkesan” bebas sebebasnya tanpa norma etika seolah semuanya bebas bicara. Semuanya memang mesti didengarkan.
Dibalik pemberitaan Menteri Susi yang sedang menjadi trending topic, kami tidak lupa untuk selalu memantau pemberitaan bapak Kami dan institusi Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak.
Terkait dengan kemungkinan penerimaan pajak yang mungkin tidak tercapai dan defisit anggaran serta pengumuman rencana kenaikan BBM, pemberitaan mengenai keheranan Jokowi dengan belum tercapainya target penerimaan pajak tak luput jadi pembicaraan yang sedang asik diperbincangkan.  Jawaban dan tanggapan beragam bermunculan, dari yang bangga karena “bapaknya” bicara hal yang menurutnya penting sampai komentar nyinyir bernada sindiran bahkan lebih parah munculnya “meme” yang menggelikan dan bahkan ada juga yang cenderung sarkasme. Ujung pembicaraan tentu akan menyentuh pimpinan di Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak.
Kembali ke hubungan antara kinerja dan keterampilan mendengarkan pimpinan, rasanya saya boleh berargumen bahwa selama ini model model yang terjadi di institusi pemimpin lebih banyak berbicara dengan pegawainya dalam bentuk instruksi arahan satu arah dan sangat jarang mendengar apa yang dikehendaki dan diinginkan anak buahnya. “Seolah” pemimpin selalu lebih hebat dan lebih mengerti permasalahan dan abai dengan garda terdepan anak buahnya yang dengan pengalamannya berhadapan dengan masalah yang sebenarnya.
Komunikasi internal yang kurang terbangun pada akhirnya akan melahirkan prasangka semata. Pemimpin tidak memahami anak buahnya demikian pula sebaliknya. Kecanggihan alat, kenyamanan tempat hanyalah sumber daya pendukung.Sumber daya yang utama adalah manusianya. Sudah saatnya pemimpin turun atau “blusukan” bukan untuk sidak tetapi mendengarkan. Buang jauh semua praduga. Datangi kami, karena itu akan lebih mudah dibandingkan bawahan yang mendekati atasan.Ibarat jempol yang lebih mudah mendekati kelingking.
Pemimpin harus siap mendengarkan semua penjelasan ataupun keluhan anak buahnya untuk dicari solusi penyelesaianya. Muaranya tentu pada kinerja dan kesejahteraan. Ibarat pepatah jawa semua mesti ada pengorbanan. Tirulah blusukan sang Presiden. Dengarkan dengan hati bersih apa yang dikemukakan. Pandanglah kami kami sebagai orang yang pasti penting dalam organisasi. Bicaralah dengan bangga tentang kami pada media. Yakinkan bahwa kinerja kami akan sangat menentukan hidup mati bangsa ini. Jikalau ada kekurangan yang didapati, doronglah kami untuk maju, tuntun kami untuk bergerak dan dampingi kami untuk berani dan mandiri. Bicara dengan kami baru dengan orang lain.

Sumber ide bacaan :
Human Resources Management Concepts Methodologies Tools and Applications IGI Global; 1 edition (May 31, 2012)

Blog Archive