Jumat, 21 November 2014

,

Sakitnya tuh Disini

Hati-hati dengan lagu yang sering dibawakan. Demikianlah ucapan sang trainer saat mengikuti pelatihan komunikasi di Jakarta. Beliau memaparkan fenomen beberapa artis wanita papan atas yang kondisi kehidupan keluarganya persis dengan lagu yang sering dibawakannya. Entah itu ada hubungan atau tidak, yang pasti fenomena yang disampaikannya memang ada dan sulit dibantah. Akhirnya dengan senyum simpul kami mengiyakannya.

Beranjak pada materi, kami disuguhi pemikiran bahwa sesuatu itu seperti apa yang kita pikirkan. Lebih-lebih bila melihat sisi transendental, bahwa  Tuhan pun seperti yang ummat-Nya prasangkakan. Kami berfikir jangan-jangan ada hubungan antara lagu yang sering di dengarkan dengan apa yang  kita pikirkan. Pikiran kita lah yang akan menciptakan peristiwa dan kondisi seperti apa yang selama ini dinyanyikan.

Sejak itu kita bertekad untuk selektif memilih lagu. Padahal lagu sedih,sendu akan lebih terasa rasanya dibandingkan lagu gembira. Coba diperhatikan, lagu putus cinta, penghianatan, susah sedihnya mendapatkan cinta akan lebih terasa rasanya dibanding lagu-lagu gembira dan suka karena kesuksesan. Apalagi lagu-lagu tersebut dipercantik dengan nuansa petikan gitar dan saxophone yang menyayat menusuk relung hati. Nuansa sendu tidak hanya pada sisi musik pop semata,lagu dangdut juga mempunyai kumpulan lagu sendu seperti “gubuk derita”, “cinta hitam” dan banyak lagi yang mungkin tidak  diketahui.

Menjelang penghujung 2014, ada sesuatu yang menggelitik pikiran saya. Masyarakat sedang demam lagu dangdut melankolis dengan judul “Sakitnya tuh Disini” Ada kejadian lucu dan sendu dengan  lagu tersebut. Sekitar pukul  sore 4 WIB atau pukul 6 WIT kami menerima pesan dari WA dan BBM group menginformasikan kabar yang mengejutkan tentang harapan yang hilang, mimpi yang dibangunkan. Judulnya sangat sederhana untuk diingat, “belum ada rencana”. Kata-kata itu cukup jelas, namun harapan mesti kita jaga. Semboyan pun dibulatkan, mudah-mudahan hilang satu tumbuh seribu.

Di saat susah mencari kambing hitam, muncul pikiran yang aneh tapi lucu. Jangan-jangan semua berawal dari lagu-lagu yang sering dinyanyikan. Bayangan itu lebih muncul lagi tatkala presiden mengumumkan kenaikan BBM. Kita mungkin tidak tahu persis argumen apa yang dikemukakan, hitungan seperti apa yang disajikan. Kita mungkin hanya akan membayangkan ongkos hidup yang semakin tinggi dan efek berantai pada pengeluaran. Kesimpulannya, nilai uang yang kita dapatkan  akan turun nilai realnya kecuali ada tambahan penghasilan. Penghasilan tetap sementara biaya bertambah.

Tarian menepuk dada kiri dengan lagu”Sakitnya tuh Disini” seakan menjadi ironi tersendiri bagi masyarakat kita yang berpenghasilan tetap namun harus menerima biaya hidup yang semakin bertambah. Lebih-lebih masyarakat yang sudah sejak awal tidak berpenghasilan dan hanya sekedar mengharap bantuan orang.

Pikiran menerawang, seandainya negara mampu membiayai pendidikan, infrastruktur fisik, dan kesehatan semuanya dari sumbangsih mereka yang berkelebihan dengan mau membayar pajak dengan benar, rasanya BBM tidak perlu dinaikan. Lagu itu tidak seharusnya  dikumandangkan.

Kutipan kata yang semestinya dinyanyikan dengan gerakan yang sama oleh masyarakat seharusnya “Senengnya tuh Disini”.  Lagu itu rasanya akan berubah syairnya, andaikan pengumpul pundi pundi penerimaan dengan senang hati bernyanyi dan menepuk dada kirinya, seperti tepukan Walkot Bandung. Kang Ridwan Kamil dengan Tepukan kemenangan Persib, “Bangganya Tuh Disini”

Aparatur pajak semestinya dan seharusnya bangga dengan institusinya, bangga dengan pekerjaanya, bangga dengan hasilnya, bangga dengan pemimpinnya, bangga dihadapan masyarakatnya dan bangga dihadapan anak dan istrinya.
~aHe~

    Illustrasi : http://www.indopos.co.id/2014/10/gambar-lucu-sakitnya-tuh-disini-cocok-untuk-dp-bbm.html

Blog Archive