Senin, 01 Desember 2014

,

Pemimpin “Bingung” Bawahan “Bengong

Sudah tiga tahun ini setiap menjelang Desember pegawai Kementerian Keuangan khususnya DJP sibuk menginput penilaian kinerja dalam aplikasi “beta” e-performance. Karena semua sibuk, kadang server menjadi tidak tentu kemauannya, ia kadang merespon cepat apa yang diinputkan, kadang “lola” alias loading lama.

Setiap melihat aplikasi tersebut ada beberapa pertanyaan yang ingin rasanya disampaikan. Mulailah dengan  membaca manual Indikator Kinerja Utama (IKU)  tersebut satu persatu lantas kemudian meng”copas” manual IKU dalam file excel ke aplikasi. Suatu pekerjaan yang menurut saya membuang waktu karena aplikasi dibuat untuk merespon cepat apa yang kita kerjakan bukan menambah pekerjaan yang sebenarnya bisa disederhanakan. Idealnya masing-masing pegawai didesain langsung tugas pokoknya dengan jenis ukurannya. Pegawai hanya menginput capaian dari apa yang selama ini dikerjakannya.

Satu hal yang membuat saya kaget, ada pekerjaan yang sudah dikerjakan pegawai dengan sekuat tenaga dan pikiran, tetapi tidak dianggap sebuah hasil pekerja karena belengu IKU. Sebagai contoh seorang pegawai yang melaksanakan sosialisasi perpajakan dengan pekerjaan yang mungkin melelahkan dan membosankan, berangkat dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya, tidak dianggap kerja oleh pimpinan di atasnya. Persoalannya ternyata pekerjaan itu  bukan “IKU” miliknya. IKU menjadi belengu kreatifitas pegawai dalam upaya mengejar kinerja utama organisasinya.

Fenomena saat ini, orang bekerja atas apa yang menjadi IKU nya semata. Menganalogikan pembuat bangunan, IKU saat ini dibuat dengan sangat detail dan kaku. Bayangkan ada IKU pembawa batako, pembawa pasir, pembawa air, pembawa semen, pengecat bangunan, penyusun tembok.Ketika pembawa batako telah selesai membawa batako, maka dia cukup diam, demikian pula yang lainnya. Pembawa pasir tidak mau membawa air karena itu bukan tugasnya meskipun ketika itu  kebutuhan air meningkat.

Peran telah ditentukan, tetapi pembagian peran yang terlalu kaku,  akan menyulitkan sinergi diantara pembuat bangunan. Lebih parah lagi dalam prakteknya ada ketimpangan peran. Misalnya petugas pembawa pasir sekaligus pembuat batako, sekaligus pembuat tembok, sementara yang lain semuanya bekerja hanya sebagai pengecat bangunan.

Model seperti di atas kita coba pahami untuk keseharian pekerjaan di unit vertikal paling bawah dalam Institusi DJP. Membaca peta strategi unit vertikal KPP misalnya dalam perspektif proses internal saya menemukan kebingungan memahami dasar dari dibuatnya proses internal. Apakah pembagiannya dalam bentuk fungsi atau dalam bentuk seksi atau bagian. Dalam peta tersebut terdapat kegiatan pelayanan, penyuluhan, pengawasan,ekstensifikasi, pemeriksaan, perekaman/pengiriman, penegakan hukum.

Seandainya kita petakan kegiatan tersebut dengan mencocokan fungsi dan seksi atau bagian, saya menemukan ada penumpukan di satu seksi atau bagian. Kegiatan pelayanan,pengawasan, penyuluhan ditemukan di seksi pengawasan konsultasi (tiga fungsi dalam satu), kegiatan ekstensifikasi oleh seksi ekstensifikasi (satu satu), sedangkan perekaman oleh seksi PDI (satu satu), penegakan hukum oleh seksi pemeriksaan dan penagihan (satu jadi dua). Pertanyaannya seksi pelayanan yang ads termasuk kegiatan apa dalam peta tersebut.

Meminjam pemisalan pembuatan bangunan di atas, seandainya IKU masing-masing seksi dan masing-masing orang menjadi panglima dan semua bekerja sebatas pencapaian IKU nya, saya yakin bangunan yang dihasilkan tidak akan optimal dan akan memakan waktu yang lama. Bayangkan seorang pembawa pasir duduk saja, sementara pegawai yang satu membawa air,batako dan sekaligus membuat tembok.

Peta stategi dibuat oleh para pemimpin untuk menunjukan bagaimana institusi ini hendak dibangun. Reformasi birokrasi masih menyisakan pekerjaan rumah besar penataan kelembagaan. Ada kebingungan begitu model pembagian pekerjaan berbasis jenis pajak menjadi model berbasis fungsi. Sampai saat ini belum ada kamus apa yang dimaksud dengan pelayanan, apa yang dimaksud pengawasan, apa yang dimaksud penyuluhan.

Sebagai contoh kita akan tanya apa yang dimaksud pelayanan. Apakah pelayanan itu bagian yang merespon permohonan Wajib Pajak. Kalau pemikirannya seperti itu kenapa tugas pokok dan fungsinya ada di seksi pengawasan. Wacana uji coba memecah peran Account Reprresentative (AR) menjadi AR pelayanan dan pengawasan dalam bagian Seksi Pengawasan dan Konsultasi malah makin memunculkan tidak sinkronnya nama bagian atau seksi dengan tugas pokok dan fungsinya.

Melihat fenomena tersebut seolah terlihat kebingungan institusi membuat peta sendiri. Seolah terjadi kebingungan di level pimpinan memetakan peta yang akan menuntun bawahannya bekerja. Lebih parah lagi peta itu dibuat terlalu kaku pada jenis pekerjaannya sehingga menghilangkan kreatifitas bawahannya. Model organisasi yang terlalu berorientasi dari atas ke bawah dalam bentuk arahan dan instruksi semata, lama kelamaan akan tenggelam atau berdiri kaku diam di tempatnya. Tidak ada lagi kreatifitas bawahan yang mungkin memahami apa yang sebenarntya pelanggan butuhkan.

Semboyan kerja,kerja, dan kerja tidak bermakna apa-apa seandainya peta pekerjaan yang harus dikerjakan tidak jelas dan tumpang tindih. Semuanya akan berlari pontang panting ke semua arah yang tidak jelas dan merasakan letih dan lelah tanpa hasil di tangan. Butuh waktu untuk diam sejenak, melihat kembali peta yang sudah ada dan memperbaikinya.

Gambaran contoh model kepemimpinan di negeri  ini yang “panik” dan “emosional” mungkin bukan karena “Beliau” marah atau benci tetapi lebih karena kebingungan semata. Bawahan yang menerima kemarahannya lama-lama akan bengong karena kebingungan yang ditularkan.

Pemimpin harus berani jujur mengakui kekurangannya  di tengah kelebihannya. Saat pemimpin  bingung,  diskusilah dengan bawahan anda siapa tahu anda akan menemukan jawaban dari kebingungan itu . Jangan sampai institusi kita memiliki pimpinan yang “bingung: dan bawahan yang “bengong”.

Mudah-mudahan itu semua hanya anggapan siapapun  yang sangat kurang mengerti dan memahami institusi besar  ini.   

~aHe~