Jumat, 17 April 2015

,

Ketika Negara Galau,Gelisah, dan Merana (GeGaNa)

Fenomena lagu “sakit tuh disini dari Cita citata” seperti lagu wajib yang diperdengarkan dengan hentak irama asik dan menggoda. Suatu ironi sebenarnya dari masyarakat yang mengungkapkan kesedihan, kegalaun dan kegelisahan  dengan sebuah hentakan joged yang terlihat menyenangkan. Barangkali itu mungkin sedikit menunjukan ironi dari sebuah negeri yang masyarakatnya mungkin sedang galau,gelisah,dan merana  tapi berusaha menutupi kesedihannya sementaranya . Seakan pil tidur bagi yang susah tidur, tetapi waktu bangun masalahnya tetap seperti sediakala.

Kenaikan harga-harga yang seakan dipaksa mengikuti harga pasar, harus naik mengikuti perkembangan namun tanpa disertai dengan kenaikan pendapatan masyarakat. Masyarakat tidak mampu kembali tercekik dalam lingkaran kemiskinan,sementara di sekelilingnya kendaraan yang senantiasa padat merayap berkeliaran dengan konsumsi bahan bakarnya penuh memenuhi jalan raya. Walaupun kepemilikan kendaraan tidak menjadi satu-satunya indikator kekayaan seseorang, namun argumentasi umum akan menyatakan bahwa secara kasat mata mereka dianggap mampu.

Ironi sebaliknya terlihat diantara rumah-rumah yang terhalang gincu bangunan megah di bagian depan, tetapi  bagian belakang kumuh kotor dan menyesakan. Pemandangan mal-mal dan tempat kuliner jajanan, dan hiburan seakan berlomba menggaet konsumen kelas menengah ke atas, namun di sisi lain pemberitaan kondisi masyarakat yang menahan lapar dan antri mengobati kesehatan di bangsal-bangsal menjadi sisi aneh pemandangan yang mengejutkan. Pertanyaannya, dimana peran negara.

Idealnya negara mempunyai peran melihat ketimpangan. Tanpa peran negara individu manusia akan menjadi zombie dan memakan manusia lainnya, fenomena begal adalah fenomena sosial dari ketidakberdayaan dan keputusasaan. Fenomena pengemis yang hanya bisa mengangkat tangan membungkuk mengharap belas kasihan juga refleksi dari kondisi kemiskinan,keterbelakangan.

Inilah sejak awal yang sebenarnya menginspirasi pendiri bangsa untuk bangkit berdiri bebas tanpa tekanan penjajah, menyatakan kemerdekaan, menyatakan perlunya negara dengan tujuan luhur beserta solusinya.

Barangkali selama ini masyarakat sudah lupa, cepat lupa terbuai dengan joged tarian dan lagu-lagu yang meninabobokan. Bukan tidak penting mencoba melupakan masalah dengan raut kegembiraan,tetapi yang lebih penting mencari upaya jangka panjang mensejahterakan masyarakat.

Negara harus banyak berperan tetapi masyarakat harus sadar bahwa semua harus dilandasi semangat gotong royong, semangat saling memberi dan semangat saling percaya. Pembangunan baik di bidang pengadaan pangan, sandang, papan dan pendidikan dan kesehatan memerlukan dukungan dana. Dana yang harus segera ada untuk dikonsumsi langsung atau investasi untuk kesejahteraan masa depan.

Undang-undang dasar dengan tegas menyatakan bahwa bentuk partisipasi hak dan kewajiban bernegara adalah pajak. Pajak yang dilandasi undang-undang dengan semangat keadilan sehingga siapa yang berpenghasilan tinggi, siapa yang menggunakan konsumsi yang lebih besar, siapa yang memiliki kekayaan yang besar dengan manfaat besar didalamnya, siapa yang bisa menyimpan harta kekayaannya sangat layak memberikan sumbangsih dana pembangunan yang lebih besar.  Ketika yang terjadi sebaliknya maka yang terjadi adalah si kaya yang pelit dan si miskin yang tidak akan shabar. Fenomena kejahatan sebagai akibat kesenjangan amat sangat layak dijadikan penyebab awalnya.

Pada saat negara mencoba mengatur bagaimana agar sumbangsih pajak bisa adil diterapkan, dimana semakin besar penghasilan, konsumsi dan manfaat yang diterima seharusnya pajaknya semakin besar,sudah semestinya masyarakat mendukung. Keadilan bisa dijalankan bila negara bisa memetakan dengan baik siapa sebenarnya masyarakat yang berpenghasilan tinggi, siapa yang mengkonsumsi lebih banyak, dan siapa yang yang memperoleh manfaat dan dimana harta kekayaannya tersembunyi. Negara harus tahu agar pengenaan pajak dapat dilaksanakan seadil-adilnya. Jangan sampai ada yang sengaja bersembunyi dan mematikan lampu-lampu penerang baik dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Lampu-lampu penerang sebenarnya bisa dibuat melalui regulasi yang mewajibkan seluruh data-data termasuk data perbankan dapat diakses oleh negara. Negara melalui institusi Pajak dapat menggunakannya untuk melakukan pemajakan yang adil dalam artian semua berkesempatan melaksanakan hak dan kewajibannya dengan benar, terbuka dan dengan penuh I’tikad baik. Keadilan dapat tercipta dimana beban pajak ditanggung sesuai dengan kekuatan daya beli dengan memperhitungkan daya pikul masyarakat.

Negara dalam hal ini pihak eksekutif,yudikatif dan legislatif hendaknya segendang seirama memahami kebutuhan negaranya, mengumpulkan potensi ekonomi masyarakatnya, mensejahterakan masyarakatnya, mendistribusi kekayaan dari si kaya kepada si miskin , dari si kuat kepada si lemah. Negara yang besar dengan kebanggaan masyarakatnya,kesehatan,kepintaran penduduknya. Semua bisa memiliki dan menggunakan potensinya sehingga jurang pemisah akan makin lama terkikis. Sungguh indah bila masyarakat sejahtera bersama. Walaupun mungkin berbeda ukuran dan takaran tetapi proporsinya yang tidak terkumpul pada satu dua orang,satu dua kelompok.

Negara galau,gelisah dan merana bukan karena siapa-siapa, tetapi karena masyakat yang abai. Sudah selayaknya telunjuk jari tidak hanya ditunjukan kepada orang lain, kepada negara lain, kepada pihak lain, kepada kelompok lain, tetapi semua menunjuk pada diri sendiri sehingga kebanggaan menjadi kebanggaan bersama. Negara yang telah diberi mandat masyakat hendaknya ikut mendorong bagaimana beban akan secara proporsional terbagi. Semua jari bergerak bersama untuk menikmati sajian makanan yang enak lezat hasil jerih payah bersama.

Negara “gegana” lahir dari masyarakat “gegana”. Harusnya kita putar balik bahwa   galau,gelisah dan merana yang benar adalah bila ada masyarakat yang tidak memberi sumbangsih bersama. Kebanggaan yang harus dimunculkan agar dapat menari asik bersama adalah tarian kebanggaan  berkontribusi, kebanggaan untuk patuh  dan akhirnya kebanggaan  bernegara.

Pajak telah menjadi pilihan pendiri bangsa. Semestinya  warisan cita-cita dan alat mencapainya menjadi pilihan bersama. Bukan saatnya lagi berdebat tentang apa yang menjadi alatnya tetapi bekerja berkontribusi bersama. Negara bisa karena institusi pajak bisa. Institusi Pajak bisa karena masyarakatnya bisa.

~aHe~