Kamis, 21 Mei 2015

,

Bermimpi Mengubah Indonesia

Entah Presiden siapapun, dimanapun termasuk Indonesia akan menghadapi tantangan berupa tuntutan masyarakat baik yang diutarakan dengan lantang melalui demo-demo, maupun secara halus dalam bentuk doa-doa agar negara bisa sejahtera. Mereka menuntut pemimpinnya mampu mensejahterakan masyarakatnya.
Tuntutan bercampur harapan bahkan sampai menembus batas rasionalitas dengan bumbu-bumbu cerita yang entah benar atau tidaknya  tentang harapan adanya “Ratu Adil” yang akan muncul di suatu tempat dalam masa tertentu sebagaimana sering disampaikan dalam bahasa penutur dari mulut ke mulut atau melalui kisah-kisah tulisan yang menginspirasi.

Harapan tentu harus ada, karena dengan harapan itu manusia hidup dan bergerak menuju yang lebih baik. Namun demikian menggantungkan perbaikan hanya pada orang lain tanpa upaya masing-masing individu untuk mengubahnya juga harus patut dipertanyakan.  
Demo-demo yang selama ini menguras energi, yang ujungnya menuntut adanya kesejahteraan individu, kelompok maupun masyarakat  memang harus lantang disuarakan. Dalam lingkup negara masyarakat sudah sadar bahwa negara harus mampu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, cukup sandang, pangan,papan dengan kualitas hidup berupa kesehatan yang lebih baik dan tingkat pendidikan yang mampu membuat msyarakatnya cerdas dan memiliki kebanggan bernegara.

Seandainya masyarakat masih berteriak lantang menuntut, secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa apa yang menjadi harapan belum didapatkan. Jauh bicara mewah dan berlebih, sekedar cukup pun mungkin belum layak disandangkan. Data-data statistik yang bisa saja diperdebatkan menjadi saksi angka-angka kemisikinan, keterbelakangan akrab diperdebatkan bahkan menjadi ajang kompanye untuk saling mengkritisi antar politisi sampai diskusi  masyarakat di warung nasi dan warung kopi.
Kaum yang mengaku “cendikia” sibuk berdiskusi bahkan berorasi bagaimana mengubah keadaan. Masyarakat sudah tidak bicara periode tahunan, lima tahunan tetapi ukurannya sudah hari demi hari sehingga melahirkan rapor sekian hari pemimpinnya. Sepertinya semua pintar membaca hasil namun gagap menciptakan upaya. Seperti seorang guru yang terampil menilai dan memberi warna nilai muridnya tapi gagal menyadari bahwa semuanya berujung pada upaya murid dan terutama upaya “sang” Penilai dalam hal ini guru dalam menjalankan fungsi dan perannya.Selama ini seolah semua berlaku sebagai guru yang menilai, tanpa sadar nilai-nilai itu sebenarnya akibat dari upayanya dan sejauhmana kontribusinya.

Sudah banyak tulisan yang membicarakan jurus yang sebenarnya simpel dan mudah agar menjadi individu, kelompok atau masyarakat yang sejahtera. Kadang kita sibuk mencari kunci di rumah orang padahal kuncinya ada di rumah sendiri. Sebuah buku mengungkapkan  salah satu jurus mengubah nasib  adalah dengan cara “rubahlah nasib dengan mengubah donasi atau sedekah atau derma” . Rubahlah sebuah negara menuju negara sejahtera dengan mengubah donasi masyarakatnya.

Coba kita renungi, apa yang menjadi donasi terbesar masyarakat bagi negara.  Semua akan sepakat bahwa pajak selama ini menjadi kontribusi terbesar. Seandainya ukuran “tax ratio” dianggap sebagai prosentase besarnya donasi, maka akan terpampang bahwa donasi masyarakat kita ada disekitaran kurang lebih 11 %.  Bandingkan dengan negara sekeliling kita. Disinilah masyarakat  harus mulai berkaca, cukuplah donasinya. Seandainya sebagai masyarakat boleh bermimpi  mengubah Indonesia, maka satu jurus  harus dicoba, “ UBAHLAH NEGERI DENGAN MENGUBAH DONASI”.  Lebih baik memberi derma atau donasi kepada negeri daripada sekedar mengumpat apalagi mencaci.

Mulai dari sekarang, mulai saat ini, mulai dari diri sendiri  untuk membayar Pajak dengan semestinya  karena “Pajak Milik Bersama”.