Senin, 04 Mei 2015

,

Menelusuri “gudang” si “Kaya”

Akhir-akhir ini Indonesia sedang keranjingan atau demam batik Akik. Batu dengan nilai seni karena kekuatan dan keindahan tekstur menggoda penikmatnya untuk mencari dan memilikinya. Walaupun mungkin belum terukur dengan jelas nilainya di banding emas dan berlian, tetap saja batu akik yang bernilai seni tinggi diberitakan mempunyai nilai yang sangat fantastis.

Pemberitaan media turut mendorong orang untuk berburu untuk sekedar koleksi biasa atau mungkin buat investasi yang menggiurkan dan dapat menggoda selera kolektor yang bisa membeli dengan nilai yang kadang dianggap irasional oleh masayarakat kebanyakan. Jangan jangan ke depan batu akik menjadi lambang kekayaan seseorang yang menjadi pemiliknya.

Membayangkan logam atau batu atau barang berharga lainnya terlintas  orang kaya bernama “Qorun” dengan harta segudang. Konon kabarnya sampai kunci tempat menyimpannya pun sangat berat dan tidak mampu di angkut oleh satu dua orang. Masa itu orang kaya sangat mudah dikenali dari barang bawaannya, barang yang digunakannya ,maupun peninggalannya. Ukuran kekayaan nampak dengan  wujud terlihat jelas tidak abstrak. Ibaratnya, kelihatan logam mulia bahkan mungkin batu akik bernilai mahal di jemarinya atau tersimpan digudang atau lemari di rumahnya.

Sejak lama di era kerajaan, orang kaya ini diharapkan memberi sumbangsih buat raja agar raja mampu mensejahterakan dan dicintai rakyatnya. Konsekwensinya raja akan memberikan perlindungan, membentuk pasukan kerajaan agar orang kaya ini aman dari gangguan perampok di darat, maupun penyamun di lautan luas. Tentu saja saat itu orang kaya sangat mudah dikenali. Apalagi uang waktu itu bernilai sama dengan nilai alat tukarnya, ada uang emas, perak dan perunggu yang nilainya sama dengan nilai logam mulianya.

Orang kaya menikmati berbagai fasilitas yang dibangun raja. Mereka menikmati mudahnya jalan dan berkendara dengan kuda sehingga dapat bepergian jauh melintasi batas daerah bahkan batas kerajaan. Bayangkan dengan orang miskin yang harus berjalan dan makan serta tidur di alam, bukan dipenginapan seperti halnya orang kaya.

Sejarah manusia ternyata tidak ada yang berbeda, yang berbeda hanyalah medianya saja. Dulu orang bergerak dan bepergian, sekarang juga sama. Hanyalah perbedaan media yang digunakan. Dulu, mungkin dengan kuda sekarang dengan kendaraan dengan kekuatan beribu ribu kekuatan kuda.

Dunia  mencatat ada yang kaya dan  ada yang miskin. Wujud kekayaannya sajalah yang berbeda. Kalau dulu kekayaan tersimpan di gudang masing-masing orang dalam wujud barang-barang yang di simpan berdekatan dengan tempat tinggal atau tempat usaha, saat ini orang kaya menyimpan harta kekayaannya tidak dalam bentuk barang barang tetapi dalam nilai uang dalam mata uang lokal maupun mata uang internasional. Selain itu kekayaanpun dapat dimiliki dalam bentuk surat-surat berharga seperti bukti kepemilikan saham, kepemilikan obligasi maupun surat berharga lainnya. Tempat penyimpanannya pun tersebar bahkan bisa melintasi batas-batas Negara.

Negara saat ini menghadapi tantangan untuk dapat memetakan masyarakatnya. Untuk memetakan orang yang dianggap tidak mampu yang harus mendapat perlindungan sebagaimana amanat Undang-undang dasar, negara sangat sulit mengidentifikasinya. Apalagi memetakan orang-orang kaya dengan kekayaan beragam dan penyimpanannya melintasi batas negara. Untuk jujur sebagai orang miskin saja kadang masyarakat sulit, apalagi jujur menyatakan kekayaannya. Buktinya banyak fasilitas yang seharusnya dinikmati si “kecil” masih saja si “mampu” sekalipun ingin ikut mencicipi bahkan mengambilnya.

Negara bisa memberi peran distribusi dari si Kaya kepada si miskin dimulai dari pemetaan terhadap siapa sebenarnya si kaya. Kalau dulu kekayaan nampak kasat mata, sekarang tempat penyimpanannya kadang tidak kelihatan wujud dan tempatnya. Namun demikian sebenarnya semua bisa ditelusuri karena semua ada dokumen dan tempat penyimpanannya. Orang memiliki uang pasti ada catatan rekening dan mutasinya, orang menyimpan surat berharga pasti ada dokumen kepemilikannya. Tinggal pertanyaannya dapatkah negara mengetahuinya. apakah lembaga tempat penyimpanan mau jujur atau sebaliknya menjadi sarang tempat penyembunyian yang nyaman untuk “kejahatan” keuangannya penyimpannya.

Cerita tentang terbongkalnya skandal perbankan dunia menjadi tempat “penghindaran”  pajak menyadarkan dunia tentang perlunya lembaga-lembaga penyimpanan transparan terhadap Negara atas kekayaan yang dimiliki oleh orang-orang yang semestinya menjadi  pembayar pajak. Karena bagaimanapun semua ada rekam jejak di tempat penyimpanan. Tidak ada orang yang punya uang banyak membawanya kemana saja, tetap saja uang nya akan tersimpan dalam rekeningnya. Tidak ada orang yang membawa barang berharga banyak memenuhi badannya, kecuali sekedarnya dan yang banyak mesti ada tempat penyimpanannya. Negara harus kuat dan jangan gagal oleh kepentingan individu atau kelompok tetapi mengorbankan kepentingan masyarakat luas yang harus disejahterakan.

Era menuju keterbukaan informasi dan pertukaran informasi telah digagas dunia, karena kesadaran bahwa Negara diatas kepentingan pribadi atau golongan. Untuk menyongsong masa itu Direktorat Jenderal Pajak telah sigap memberikan peluang kepada pembayar pajak untuk menghitung ulang kewajiban sebenarnya kepada negara dengan “pemaafan”  atas sanksi yang seharusnya melekat pada pajak yang kurang atau tidak dibayar. Semestinya momentum ini bisa dianggap sebagai bagian dari rekonsiliasi antara Negara dan masyarakatnya untuk ke depan berusaha untuk lebih patuh dan taat membayar sesuai dengan nilai yang menjadi kewajibannya.
Dunia semakin lama akan semakin terang benderang. Kegelapan hanya melahirkan “setan-setan” dan “hantu-hantu” yang tersembunyi yang mengajak pada kejahatan pada sifat kikir dan pelit dan tidak berbagi.  Marilah kita hitung ulang kewajiban kita yang semestinya. Besaran dan peranan kita mungkin berbeda, tetap semangatnya sama. Terkenang kembali sinetron lama yang telah hilang dari Televisi kita…….”A C I” Aku Cinta Indonesia.