Rabu, 08 Juli 2015

,

DISKON TERAKHIR

Menjelang Lebaran banyak supermarket menawarkan diskon yang beragam, diskon sudah menjadi strategi sekaligus tradisi untuk menarik perhatian konsumen. Beragam pola diskon, dari yang rutin sampai diskon-diskon yang khusus. Pertimbangan harga dan kemampuan daya beli konsumen masih menjadi pertimbangan utama. Bermimpi mendapat barang yang diidamkan dengan harga yang sesuai dengan pendapatan.

Kalau kita mau jeli memperhatikan, ada dua katagori kebiasaan diskon. Ada yang senantiasa menampilkan harga yang sudah diskon bahkan sampai level 70 % plus dan seolah rutin . Di lain pihak ada yang menggunakan strategi diskon yang mendadak, diskon saat tertentu dan konsumen sulit menebak kapan harga diskon akan diberlakukan.

Konsumen cenderung memiliki rasa  penasaran dan berusaha menebak serta  mencari tahu kapan diskon akan diberikan. Bandingkan dengan model diskon yang rutin. Konsumen hanya mempertimbangkan harga semata dan berkunjung kalau mempunyai kebutuhan segera. Kunci diskon yang menarik perhatian adalah periode waktu yang pendek, mendadak, dan sulit ditebak. Risiko kehilangan kesempatan mendapat diskon besar menjadikan konsumen awas dan berusaha untuk tahu.

Pada Tahun 2015 DJP mengeluarkan kebijakan Fasilitas Pengurangan Sanksi sebagai bagian dari tahun pembinaan Wajib Pajak 2015. Dengan fasilitas tersebut Wajib Pajak akan mengeluarkan beban lebih kecil karena perhitungan sanksi yang dengan permohonan dapat dikurangkan bahkan dihapuskan. Apakah kebijakan tersebut tepat atau tidak untuk menumbuhkan tujuan pembinaan Wajib Pajak. Kebijakan ini baru bisa di evaluasi hasilnya setelah periode tahun 2015 berakhir

Kunci keberhasilan Tahun Pembinaan 2015 dengan fasilitas “diskon” nya adalah dengan meyakinkan bahwa inilah diskon terakhir, angkutan terakhir yang akan membawa kenyamanan dan setelah periode berlangsung sudah tidak ada model-model diskon yang sama. Ibarat penumpang di terminal yang tertarik segera naik angkutan, karena ia tahu bahwa angkutan tersebut adalah angkutan terakhir yang beroperasi, demikian pula dengan pengunjung yang berjubel mendatangi tempat belanja karena mereka tahu inilah diskon terakhir yang harus segera dimanfaatkan dan kejadian itu relatif tidak berulang dalam jangka waktu yang lama.

DJP harus bisa meyakinkan dan memegang komitmen bahwa fasilitas ini adalah fasilitas terakhir. DJP tidak semestinya meniru strategi supir yang menyatakan angkutan terakhir padahal masih ada angkutang lain yang beroperasi. Respon baik hanya bagi penumpang yang baru di rute tersebut dan tidak menarik bagi penumpang yang sudah lama. Dia akan merespon lambat tawaran dan ajakan karena ia tahun masih ada angkutan yang lainnya. Pembeli tidak tertarik karena sudah bisa menebak ada diskon-diskon lain sehingga diskon hari itu tidak cepat direspon.

Belajar dari model tersebut, maka Tahun penegakan hukum 2016 harus konsisten nanti dilaksanakan. Masyarakat harus diyakinkan bahwa Tahun 2015 adalah  diskon terakhir. Pembicaraan model diskon lainnya akan mengurangi gairah untuk merespon ajakan karena masyarakat masih berfikir ada tawaran lain yang lebih menguntungkan. Fasilitas pengurangan sanksi atau penghapusan sanksi 100 % yang jelas pasti diterima harus diyakinkan hanya untuk tahun ini. Inilah fasilitas terakhir, inilah kesempatan terakhir dan setelah itu upaya penegakan hukum harus jelas dijalankan. Masyarakat harus dibuat sadar bahwa kesempatan baik bisa hilang karena pilihan untuk tidak merespon ajakan.

Masyarakat jangan mudah dapat menebak kapan fasilitas  akan diberikan serta siapa yang dapat menikmati fasilitas. Ada upaya untuk tahu dan mengikuti perkembangan karena risiko kehilangan kesempatan baik sulit ditebak. Seandainya risiko mudah diidentifikasi, maka sudah tidak menarik untuk dipelajari dan dipahami. Kesadaran atas risiko ketidakpatuhan dan kemungkinan dapat diketahui oleh Aparat DJP menjadikan Wajib Pajak  memiliki  kesadaran dan pemahaman bahwa ada risiko membayar besar karena tidak mengikuti ketentutuan semestinya.

Interaksi lahir karena adanya motivasi , dan motivasi itulah yang mesti dipelajari dan difahami. Selalu ada alasan dibalik tindakan.Manusia tidak sekedar mengandalkan insting, namun ada pola pikir yang memberi alasan atas setiap tindakan dan pilihan yang diambil. Sudah semestinya DJP bisa lebih memahami motivasi apa yang melatarbelakangi kepatuhan dan ketidakpatuhan Wajib Pajak. Wajib Pajak mengamati setiap kebijakan aturan dan merespon berbeda terhadap perlakuan yang berbeda. Apapun bentuk Subjek pajaknya pembayar pajak mestilah orang yang mempunyai niat dan upaya yang dijalankan (“person”). Sebagai manusia yang berfikir “individu”  , maka Wajib Pajak akan selalu memaksimalkan keuntungan yang bisa lebih banyak diraihnya.
Perniagaan selalu bicara untung dan rugi, walaupun sudut pandang keuntungan tidak semata-mata berdasarkan perhitungan materi semata. Seperti halnya ketenangan sebagai keuntungan yang sulit terukur namun ada, Semesti perilaku Wajib Pajak bisa dimodifikasi agar menyadari bahwa ada keuntungan secara materi dan keutungan non materi yang bisa dicapainya apabila taat pada ketentuan yang ada. Seharusnya DJP bisa meyakinkan bahwa Wajib Pajak harus berbondong-bondong memanfaatkan tahun pembinaan karena ada keuntungan materi pengurangan beban pajak dan keutungan ketenangan berusaha karena pemerintah bisa memberi banyak jalan kemudahan insratruktutr usahanya dan ketenangan dan kesiapan untuk diuji ketaatannya pada ketentuan yang ada. Kapanpun diperiksa telah siap sedia dan meyakini kebenaran tindakan  yang dilakukannya.