Senin, 07 September 2015

,

Memahami Kharakteristik Usaha


Kharakteristik Usaha Manufaktur, Distribusi dan Jasa Manufaktur
Sumber : Buku Transfer Pricing, Ide, Strategi, Dan Panduan Praktis Dalam Perspektif Pajak Internasional, Danny Darussalam Tax Center)

Manufaktur

Skema 1 - Toll manufacturer: cost center                                                                         


Toll manufacturer, atau yang lebih dikenal dengan penyedia jasa maklon, merupakan entitas yang melakukan fungsi manufaktur atas permintaan dari perusahaan induk (manufaktur), di mana yang seluruh pasokan bahan baku untuk proses tersebut disediakan oleh perusahaan induk. Artinya, toll manufacturer tidak memiliki hak kepemilikan legal atas bahan baku, namun bahan baku tersebut secara fisik berada padanya untuk kemudian diolah. Kompensasi atas aktivitas toll manufacturing ditentukan dengan menghitung mark-up atas processing cost dari aktivitas tersebut. Skema toll manufacturer umumnya diklasifikasikan sebagai pusat biaya.

Skema 2 - Contract manufacturer: cost center                                                          


Contract manufacturing merupakan suatu bentuk dari outsourcing atas penyediaan jasa manufaktur (misalkan mengolah bahan baku, merakit barang setengah jadi, dan sebagainya) berdasarkan suatu kontrak kesepakatan dengan afiliasi. Perusahaan jenis ini juga mengikuti pesanan dan spesifikasi dari pelanggan (afiliasinya) dalam melakukan jasa manufakturnya. Skema contract manufacturing merupakan skema yang tidak jauh berbeda dengan skema toll manufacturing. Hal yang membedakan adalah ketersediaan bahan baku yang tidak dijamin oleh perusahaan induk. Dalam hal ini, contract manufacturer melakukan fungsi pengadaan dengan mengelola ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan memenuhi pesanan perusahaan induk dalam kurun waktu yang disepakati.Perbedaan lainnya contract manufacturing memiliki suatu kepemilikan atas inventori barang dan risiko yang terkait dengannya.Kompensasi atas proses yang dilakukan oleh contract manufacturer dihitung dengan menambahkan mark-up atas total biaya. Dalam hal ini, contract manufacturer dapat diklasifikasikan sebagai pusat biaya. Manufacturing memiliki suatu kepemilikan atas inventori barang dan risiko yang terkait dengannya. Kompensasi atas proses yang dilakukan oleh contract manufacturer dihitung dengan menambahkan mark-up atas total biaya. Dalam hal ini, contract manufacturer dapat diklasifikasikan sebagai pusat biaya.

Skema 3 - Licensed manufacturer: profit center                                                              

Licensed manufacturer pada umumnya memproduksi barang jadi berdasarkan suatu lisensi yang diberikan oleh induk perusahaan. Model perusahaan manufaktur ini akan menggunakan aset tidak berwujud yang dimiliki oleh induk perusahaan. Konsekuensinya, licensed manufacturer diharuskan untuk membayar royalti. Bahan baku serta barang setengah jadi yang dibutuhkan untuk proses produksi tidak disediakan oleh induk perusahaan. Licensed manufacturer akan membeli, mengelola, serta memiliki kepemilikan legal atas bahan baku atau barang setengah jadi tersebut. Risiko yang dihadapi oleh licensed manufacturer umumnya terdiri atas risiko bisnis, risiko persediaan, serta garansi atas produk tersebut.

Skema 4 - Fully fledged manufacturer: profit center                                                        

Fully fledged manufacturer melakukan hampir seluruh fungsi-fungsi yang strategic dari penyediaan bahan baku, proses manufaktur, hingga menjual ke customer. Fully fledged manufacturer menghadapi risiko yang signifikan terkait risiko pasar, risiko atas harga, serta melibatkan aset-aset tidak berwujud seperti know how atau brands.Skema ini diklasifikasikan sebagai pusat laba, Terkait dengan toll manufacturer dan contract manufacturer, dapat disimpulkan bahwa toll manufacturer tidak memiliki kepemilikan legal atas barang hasil produksinya (dan sering kali juga atas bahan baku) karena seluruhnya disediakan oleh induk perusahaan (principal). Untuk contract manufacturer, bahan baku tidak selalu disediakan oleh principal. Contract manufacturer bisa saja mendapatkan return yang lebih tinggi karena adanya kontrol atas bahan baku. Contract manufacturer dan toll manufacturer cenderung dikompensasi dengan fungsi rutin yang mereka kerjakan. Akan tetapi, contract manufacturer cenderung mendapatkan kompensasi yang lebih tinggi dari toll manufacturer karena mereka juga membeli dan mengelola persediaan.


Distribusi


Skema 1- Sales representative/sales agent: cost/revenue center


Sales representative atau agen penjualan melakukan riset atas perilaku pasar, mengelola customer list, dan melakukan negosiasi. Dalam skema ini, tidak terjadi perpindahan kepemilikan legal atas barang yang ditransfer. Risiko yang ditanggung oleh entitas tersebut dapat dikatakan terbatas hanya atas risiko pasar. Kompensasi atas fungsi ini didasarkan pada perhitungan biaya dengan mark-up tertentu atau berdasarkan komisi dari jumlah penjualan yang dihasilkan.


 Skema 2 - Full risk distributor: profit center


Skema lain dalam model bisnis distibusi adalah full risk distributor. Entitas ini membeli dari pihak afiliasi dan bertanggung jawab penuh atas pengelolaan persediaan, logistik, aktivitas pemasaran, serta menanggung semua risiko yang terkait dengan risiko persediaan, risiko pasar, dan juga risiko gagal tagih. Dalam kaitannya dengan konsep pusat pertanggungjawaban, skema ini dapat diklasifikasikan sebagai pusat laba. Distributor dengan karakter ini membeli dan menjual barang atas namanya, dan menanggung laba atau rugi dari aktivitas yang dilakukannya, berdasarkan kemampuannya untuk menjual produk kepada pihak lainnya serta mengeksplor pasar yang belum dimasuki Penyedia Jasa


Jasa

Skema 1 - Services model: cost center                                                                           

Dalam skema ini, unit pengadaan hanya melakukan fungsi yang terbatas pada fungsi koordinasi dan fungsi pendukung lainnya (supportive nature/low level of risks), yang kepemilikan atas barang yang ditransfer tidak pernah berpindah ke unit tersebut. Dalam skema ini, unit pengadaan bertindak mewakili pihak lain (principal). Di dalam transaksi afiliasi, skema ini dapat diklasifikasikan sebagai pusat biaya. Penentuan kompensasi atas fungsi yang dijalankan melalui skema ini ditentukan dengan metode cost plus (C+).

Skema 2 - Commission agent model: revenue center                                                        

Dalam skema ini, unit pengadaan melakukan nilai tambah dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan marketing intelligence yang kepemilikan atas barang tetap tidak berpindah ke pihak unit pengadaan. Profit seperti ini lazimnya diklasifikasikan sebagai pusat pendapatan dengan penentuan kompensasi terhadap fungsi yang terkait berdasarkan pada komisi yang didapat dari persentase tertentu atas nilai pembelian.

Skema3 - Buy/sell model                                                                                                 

Dalam skema ini, unit pengadaan melakukan aktivitas-aktivitas seperti marketing intelligence, pengelolaan persediaan, kontrol atas kualitas, dan logistik. Unit pengadaan menjaga tingkat persediaan atas produk yang dibeli dan menghadapi risiko persediaan dan risiko logistik atas pengiriman produk kepada pembeli. Skema ini dapat diklasifikasikan sebagai pusat.