Senin, 07 September 2015

Laporan Pajak dan Laporan Keuangan


Disajikan kembali dari Tulisan Indrayagus Slamet dengan beberapa penyesuaian

PENDAHULUAN

Misstatement adalah  keadaan dimana penyajian Laporan Keuangan  (financial statement) tidak sesuai dengan standar tertentu.  Standar tertentu yang dimaksud adalah standar yang diterapkan atau beriaku di Indonesia, misalkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), undang-undang perpajakan, undang-undang perbankan, ketentuan dana pensiun, dan sebagainya.

Misstatement ini dilakukan bisa secara disengaja- yang disebut Fraud dan Non compliance, maupun yang tak disangaja- yang disebut kesalahan (error). Mengenai kesengajaan dalam bentuk penipuan atau kecurangan (Fraud), Fraud didefinisikan sebagai Tindakan penyimpangan (irregularities) dan bertentangan dengan hukum dan merugikan perusahaan, berdasarkan kesengajaan oleh pelakunya dan tindakan itu menguntungkan pihak tertentu didalam atau diluar perusahaan.

Tujuan dilakukannya Fraud ada beberapa hal, diantaranya untuk mencari keuntungan pribadi pelakunya (insider atau outsider), dan bisa juga untuk mengurangi pajak perusahaan, yaitu dengan cara melakukan transaksi fiktif yang melibatkan pemalsuan atau penipuan dokumen, bisa juga dengan menghilangkan bukti transaksi secara sengaja, atau tidak melaporkan penghasilan atau tidak memberikan dokumen penting (disembunyikan). Jika Fraud dilakukan untuk mengurangi pajak maka itu namanya penyelundupan atau pengemplangan pajak (tax evasion)

Dalam konteks pajak, Misstatement adalah nama lain dari temuan (findings) atau koreksi akuntansi, yaitu koreksi atas angka-angka dalam laporan keuangan setelah dilakukan pemeriksaan pajak. Pemeriksaan pajak adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengolah data dan/atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang dilakukan oleh Pemeriksa Pajak. Jika misstatement yang ditemukan pada saat pemeriksaan mengarah pada adanya indikasi kesengipan atau kecurangan, maka itu namanya Fraud. Contoh Fraud adalah Pembelian fiktif dan Faktur Pajak Fiktif, export dan import fiktif, dan sebagainya.

Berdasarkan analisa temuan pemeriksaan Pajak temuan pemeriksaan pajak selalu terietak pada dua hal, yaitu :

1.       Temuan Akuntansi, yaitu koreksi atas ketidakbenaran pada penyajian saldo-saldo akuntansi seperti koreksi atas penjualan yang kurang dilaporkan, pembelian yang terlalu besar dicatat, biaya gaji yang terlalu besar dicatat, penghasilan bunga pinjaman dan dividen yang belum dicatat, dan lain sebagainya.

2.       Temuan Pajak terhutang, yaitu koreksi atas aspek perpajakan, misalnya terdapat PPN keluaran yang belum dipungut atas penjualan, koreksi biaya-biaya yang tidak diperkenankan, terdapat biaya yang belum dipotong dan dilaporkan pajaknya, terdapat perhitungan PPh pasal potongan pungutan  yang kurang bayar dan lain sebagainya.

Apabila laporan keuangan  sudah diaudit oleh Akuntan Publik, dengan catatan bahwa Akuntan Publik memang benar-benar professional, independent, dan berintegritas tinggi terhadap profesinya, apakah masih perlu diaudit lagi oleh pajak ? jawabannya adalah YA, tetap perlu diaudit oleh pajak hanya saja beban Tax Auditor menjadi semakin ringan karena tax auditor hanya memeriksa dari aspek perpajakannya saja, seperti menguji kebenaran perhitungan PPN keluaran dan Masukan, pengujian atas biaya-biaya yang tidak diperkenankan, perlakuan atas bunga pinjaman, pengujian atas penghasilan yang final dan bukan objek PPh, pengujian atas kewajiban PPh Potong Pungut, pengujian atas kewajaran transaksi hubungan istimewa, dan lain-lainnya

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Semakin gemuk suatu perusahaan semakin besar kemungkinan penyakit yang dapat dideteksi. analisa laporan keuangan khususnya dalam hubungannya dengan perpajakan, adalah analisa yang dilakukan terhadap suatu laporan keuangan sehingga dari hasil analisa itu dapat diketahui dimana red flag (titik-titik panting adanya kesalahan yang disengaja ataupun tidak) berada. Hasil analisa ini hanya merupakan sebuah petunjuk adanya indikasi kuat suatu misstatement atau temuan, sehingga untuk menentukan kebenaran 100% atas temuan itu diperlukan full audit.

Laporan keuangan memberikan informasi yang dapat diandalkan tentang aktiva. hutang, modal, penghasilan dan biaya-biaya, arus kas, dan perubahan modal. Sifat dasar dari laporan keuangan adalah bahwa laporan keuangan merupakan potret kegiatan ekonomi perusahaan yang sifatnya relatif mendekati kebenaran, bukan absolut. Informasi yang handal dari Laporan keuangan dapat diberikan jika perusahaan memiliki sistem akuntansi yang baik. Walaupun demikian, laporan keuangan memiliki keterbatasan, yaitu antara lain :

1.       Adanya pilihan—pilihan dalam pencatatan akuntansi sehingga menyebabkan perbedaan saldo pada laporan keuangan padahal sumbernya berasal dari transaksi yang sama.

2.       Adanya perbedaan antara Nilai Pasar dengan Nilai Buku, sehingga kurang menceminkan nilai yang sebenamya dan suatu bisnis.

3.       Laporan keuangan ditujukan untuk banyak pengguna, bukan untuk tujuan khusus, sehingga para pengguna diwajibkan untuk memahami isi dan pesan yang disampaikan dalam laporan keuangan.

4.       Menggunakan prinsip Akrual, sehingga pendapatan dan biaya tidak mencerminkan pemasukan dan pengeluaran secara kas.

5.       Menganut prinsip konseryatif, artinya bahwa jika terjadi ketidak pastian terhadap kerugian, maka segeralah dicatat sebagai beban, dan jika terjadi ketidak pastian keuntungan, jangan dulu dicatat.

6.       Adanya estimasi-estimasi dalam pelaporan, sehingga belum mencerminkan kepastian.

7.       Adanya kejadian-kejadian yang tidak dapat dibaca dari laporan keuangan. Kejadian-kejadian tersebut adalah seperti karyawan mogok ,Pemilik Perusahaan "di Belakang Layar", Gaya Management (Tone At The Top),Fraud by Management & Employee, Kemampuan Managerial, hubungan Cinta & Emosional antar pemegang saham, management, dan karyawan, hubungan antara pemegang saham/Direksi (tn. Supplier Utama atau Pelanggan Utama dan hal-hal tak terduga lainnya

Dalam dunia akuntansi, ada berbedaan istilah antara kewajaran dan kebenaran. Istilah "sudah wajar" dalam konteks Standar Akuntansi Keuangan adalah bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh management sudah bebas dari kesalahan pada batas diatas tingkat materialitas. Artinya, tidak ada kesalahan-kesalahan diatas tingkat material dan pada tingkat dibawah material bisa saja terjadi kesalahan. Dalam bahasa rakyat awamnya, istilah "material" itu berarti sudah dianggap "besar". Pertanyaannya, berapa nilai yang dianggap sudah mencapai tingkat material ? Menurut Messier, Glover, dan Prawitt, besarnya tingkat material yang biasanya dipakai dalam audit  adalah 3% sampai dengan 5% dari Laba Bersih Sebelum Pajak

Menurut perpajakan, beberapa literatur memberikan pendapat bahwa laporan keuangan harus disusun berdasarkan prinsip "kebenaran" bukan "kewajaran". Contohnya, apabila perusahaan menyampaikan SPT PPh Badan Tahun 2008 dan menyatakan lebih bayar Rp 1,- (satu Rupiah) maka tetap dilakukan pemeriksaan. Contoh lainnya adalah PT ABC membayar honorarium kepada penceramah sebesar Rp 50.000,- maka harus dipotong PPh pasal 21 sebesar 5% (tariff umum) yaitu Rp 2.500,-. Artinya bahwa pajak tidak mengenal konsep Materialitas. Dilain hal, pemeriksa pajak katakanlah memeriksa PT Anu-Anu, Tbk yang memiliki total asset sebesar Rp 6 triliun. Apabila pemeriksa ingin menguji "kebenaran" angka-angka dalam laporan keuangan, maka secara otomatis seluruh dokumen sumber harus dicocokan dengan buku besar. Iika demikian adanya, maka bisa dibayangkan bagaimana Kantor Pelayanan Pajak (KPP) akan dipenuhi dengan dokumen sumber milik wajib pajak. Jika demikian adanya, maka tidak ada petugas pajak yang mau menjadi pemeriksa pajak karena mereka tidak sempat beristirahat. Maksud contoh tersebut adalah bahwa tingkat materialitas dalam pemeriksaan pajak tetap digunakan, yang ditandai dengan digunakannya metode sampling.

BENTUK RATIO ANALYSIS

Secara umum, teknik Analisa yang biasanya dilakukan dalam menganalisa laporan keuangan dengan menggunakan analisa rasio ada beberapa macam. Teknik-teknik tersebut dapat dijelaskan:

1.       Analisa Perbandingan Saldo (Analisis Selisih)

Analisa ini dilakukan dengan membandingkan saldo laporan keuangan dalam beberapa tahun, baik dalam bentuk selisih nilai Rupiah ataupun prosentase.

2.       Analisa Trend

Analisa yang dilakukan untuk melihat kecenderungan naik turunnya suatu pos tertentu. Dad hasil analisa itu dapat diketahui apakah kecenderungannya tetap, naik, atau turun.

3.       Analisa Prosentase per komponen (common size)

Analisa yang dilakukan dengan cara mencari prosentase berdasarkan data pembanding. Analisa Rugi Laba diambil dari nilai Penjualan, dan Neraca diambil dan nilai Total Asset. Analisa common size ini terbagi menjadi dua bentuk, yaitu analisa horizontal dan analisa vertical. Analisa Horisontal adalah prosentase yang dihitung berdasarkan tahun-tahun kebelakang, sedangkan analisa vertical adalah penentuan prosentase suatu pos tertentu berdasarkan patokan tetap, misalnya ratio Aktiva Tetap  dengan total assets dalam tahun yang sama.

4.        Analisa Ratio Keuangan

Analisa yang dilakukan dengan cara mencari hubungan-hubungan tertentu antara pos-pos dalam neraca, atau pos-pos dalam rugi laba, atau pos-pos dalam neraca dihubungkan dengan rugi laba yang sifatnya sangat berkaitan.

5.        Analisa Arus Kas

Analisa yang mengarah pada sumber dan penggunaan kas sehingga dapat  diketahui sebab-sebab terjadinya perubahan kas perusahaan

Hasil analisa Laporan Keuangan ini adalah suatu indikasi adanya kesalahan dalam pelaporan, baik itu sengaja ataupun tidak disengaja dan temuan ini sifatnya belum tentu benar, juga belum tentu salah. Beban pembuktian ada pada dokumen sumber (full Audit). Biasanya, wajib pajak akan mengaku salah jika analisis dilakukan lebih dari satu pendekatan dan memberi bukti bahwa pembukuan terjadi kesalahan.