Rabu, 25 November 2015

Belajar Pajak Pada Mas Galak Daendels

Sejarah memang memberikan banyak cerita pada generasi ke depannya. Herman Willem Daendels atau lebih dikenal dengan Daendels seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dengan tangan besinya berhasil membangun infrastruktur Jalan di Pulau Jawa. Sejarah yang diajarkan banyak menceritakan betapa kekejaman sang Gubernur Jenderal yang dirasakan masyarakat Indonesia waktu itu banyak memakan korban jiwa. Infrastruktur jalan dibangun dengan tenaga kerja tanpa imbalan layak bahkan mungkin tidak dibayar serta  tidak mengenal waktu plus  ancaman-ancaman mandor-mandor yang siap sedia menghukum pada pekerja yang dianggap malas. Setidaknya itulah gambaran yang terekam dalam pelajaran-pelajaran guru yang senantiasa diceritakan.

 Saat ini jalan yang dibangun dengan keringat dan darah masyarakat Indonesia waktu itu bisa dinikmati anak cucunya mungkin dengan riang dan gembira. Dengan kendaraan yang nyaman bersama keluarga, jalan itu menghubungkan antar kota, antar propinsi di pulau jawa. Kepentingan ekonomi sangat terbantu dengan adanya jalan-jalan tersebut. Pedagang bisa saling membawa barang dagangannya dan selanjutnya membawa dagangan lain ke kota tempat tinggalnya. Perusahaan besar dengan truk truk kontainernya lebih banyak membawa beban berat yang membebani jalan dengan jualannya yang membawa bawaannya dengan kuantitas besar dan harga yang mungkin akan membawa keuntungan berlipat-lipat.

 Kadang pikiran menerawang, apakah infrastruktur jalan tersebut bisa ada seandainya Sang Gubernur Jenderal yang kejam itu tidak memerintahkan pembangunan jalan tersebut. Sebutan pahlawan dan penjahat semasa perang memang tergantung waktu dan tempat. Belanda mungkin akan dicap penjajah yang kejam, tapi tentara nya mungkin akan dianggap pahlawan yang membangun bangsanya oleh masyarakat Belanda disana. Satu masyarakat menyebut pahlawan ditempat lain mungkin akan dianggap teroris.

 Bagaimanapun ada sisi yang bisa dipetik dari pembangunan infrastruktur di pulau Jawa dari sang Gubernur Jenderal. Pembangunan ekonomi dan pertahanan keamanan hanya bisa dibangun dengan membangun infrastruktur jalan terlebih dahulu. Kesadaran bahwa sesuatu itu penting pada awalnya mungkin harus dipaksakan dengan tangan besi dan berdarah-darah. Mungkin itu bagian dari sejarah pendirian sebuah bangsa yang waktu itu belum berdiri, dan hanya kerajaan-kerajaan kecil saja yang ada di nusantara .

 Saat ini Indonesia sudah bukan lagi kerajaan-kerajaan kecil yang dipimpin raja-raja kecil, tetapi sebuah bangsa yang mempunyai cita-cita luhur membangun bangsanya. Selain pembangunan sumber daya manusia, pembangunan sumber daya fisik berupa infrastruktur jalan, jembatan dan lain-lain juga tidak kalah penting. Fenomena anak-anak sekolah layaknya film Indiana Jones dengan menyebrang jembatan seutas kawat hanya untuk dapat pergi ke sekolah menunjukan bahwa pembangunan sumber daya manusia juga memerlukan prasarana dan kekuatan ekonomi sebuah keluarga. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah mungkin karena ketidakmampuan keluarga membiayainya.
 Sungguh indah bila masyarakat di desa bisa berdagang dengan biaya murah membawa hasil pertanian dan perkebunan untuk di jual di kota. Anak-anaknya bisa bersekolah dengan nyaman di desa atau di kota dengan fasilitas jalan dan gedung pendidikan yang memadai. Bagaimana gedung sekolah bisa dibangun dengan layak seandainya material bahannya susah dibawa karena keterbatasan akses atau mahalnya sarana transportasi.

 Saat ini negara sedang butuh infrastruktur jalan untuk menggerakkan ekonomi bahkan sampai ke daerah daerah terpencil. Semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masihkan kita ingin berharap bahwa pembangunan jalan hanya bisa dilakukan oleh pimpinan sekelas Daendels.
 Sejarah memang tidak boleh dilupakan dan sesekali harus kita tengok untuk menjadi pembelajaran. Saat ini kita bisa membangun infrastruktur semua itu bukan dengan keringat berdarah sebagaimana pendahulu kita yang terpaksa menjalaninya. Ada upaya yang telah dirintis pendiri bangsa ini melalui urunan bersama seluruh masyarakat melalui pembayaran pajak. Urunan yang dilakukan bersama penuh kemandirian dengan tidak menggadaikan seperti halnya berhutang.
 Pembangunan jalan dengan hutang mungkin hakekatnya sama dengan model berbeda dengan jaman Daendels. Bedanya dulu masyarakat diperas tenaga dan keringatnya serta darahnya untuk membangun jalan, sementara saat ini kita seolah berkeringat keras untuk membayar pinjaman plus bunga yang menyertainya. Model sama dengan bentuk yang berbeda. “Penjajahan” non fisik seolah terlupakan tetapi sebenarnya bisa dirasakan.

 Kemiskinan sebuah negara bukan karena siapa-siapa, tetapi karena ketidakpedulian bersama warga negaranya. Saatnya semua mengingatkan bahwa semua warga negara harus berperan aktif sesuai batas kemampuannya. Harus ada budaya “malu” untuk tidak menjadi penumpang gelap yang hanya ingin menikmati tanpa mau berkontribusi. Harus ada budaya “marah” jiga ada yang menjadi menjadi pengemplang pajak. Ibarat penumpang yang tidak mau membayar dalam angkutan sekaligus mencopet barang-barang penumpang yang lain.

Semoga negara ini bisa mandiri di kaki sendiri dengan kesadaran dan kepatuhan warganya membayar pajak sehingga negara ini tidak lantas menghiba-hiba untuk meminta pinjaman dan menggadaikan harga diri bangsanya. Alasan ekonomi dibalik moratorium hukuman terhadap penjahat narkoba dengan alasan ekonomi sudah cukup menjadi sinyal bahwa negara telah kehilangan kewibawaannya dengan negara lain karena mungkin kita terlalu banyak menerima kebaikan negara orang

Sudah saatnya masyarakat tidak hanya berteriak-teriak pada negara dan menunjuk-nunjuk pimpinan gagal, sementara dia sendiri lupa akan kewajiban pada negaranya.