Minggu, 01 November 2015

,

Ketika Negara ingin terlihat Cantik



Dunia memang memberi banyak tanda-tanda perilaku manusia. Saat ini dalam dunia televisi wajah-wajah imut ganteng dan cantik menggoda menjadi magnet dunia hiburan. Keberhasilan suatu negara dengan budaya Popnya saat ini tidak terlepas dari tampilan seolah sempurna bintang-bintang yang menjadi pemainnya. Ditengah persaingan yang tidak mengenal batas negara, dimana kemampuan seorang artis atau model sudah semakin sama, maka harus ada pembeda yang akan menjadi nilai jual. 

Masyarakat sudah tidak melihat apakah kegentengan atau kecantikan itu alami atau tidak, polesan, bedah plastik atau trik lipstik seorang professional perias wajah. Era modernisasi sekarang lebih hebat lagi.Riasan sudah bisa diubah dengan teknik komputerisasi menggunakan program aplikasi yang bisa merubah tampilan foto seseorang menjadi lebih terlihat bersih, bersinar dan menarik perhatian. Apa sebenarnya motif yang melatarbelakanginya. Semuanya akan sepakat agar perhatian diraih  dan persaingan dapat dimenangkan.

Dalam ekonomi yang sudah semakin menyempit,persaingan ekonomi justru semakin tajam. Agar ekonomi masyarakat tumbuh dan berkembang, negara harus dapat memberikan kesempatan pada masyarakatnya untuk berusaha atau bekerja sehingga masyarakat dapat menikmati penghasilan. Pemerintah tidak bisa sendirian dan membutuhkan peran sektor swasta. Ciri dasar negara yang mementingkan kesejahteraan sedikit berbeda dengan perusahaan yang sangat memperhitungkan tingkat keuntungan sekaligus kelangsungan usahanya.

Negara dalam hal ini pemerintah akan berusaha menarik peran swasata baik dalam maupun luar negeri untuk melakukan investasi usaha di Indonesia. Pemerintah perlu memahami apa yang menarik perhatian dunia swasta berinvestasi. Swasta akan melihat bagaimana input, proses dan output usahanya. Mereka akan melihat bagaimana ketersediaan dan biaya bahan baku, tenaga kerja serta ketersediaan pasar. Mereka akan memperhitungkan tingkat keuntungan yang akan diraih. Dalam prosesnya mereka harus mendapat jaminan keamanan fisik dan keamanan dananya serta prasyarat infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan serta infrastruktur modal berupa uang. 

Sebagai faktor yang mempengaruhi besarnya keuntungan yang akan dibagikan, pajak menjadi istrumen yang mendapat perhatian investor. Bagaimanapun mereka menginginkan laba setelah pajak lebih besar, sehingga keuntungan yang dapat dibagi akan lebih besar. Rezim pajak suatu negara akan memainkan peran penting dalam menarik investasi sehingga negara mana yang dapat meberikan ‘gula” yang lebih manis buat investor.

Lebih dari 200 negara di dunia bersaing memperebutkan investasi untuk kepentingan ekonominya (inside Tax Edisi 31 Mei 2015). Persaingan ini tentu akan mempengaruhi kebijakan pajak suatu negara sehingga ramah terhadap iklim investasi. Persaingan ini tentu akan menghadapi dilema antara tujuan kemakmuran masyarakat yang ingin dicapai negara dengan tujuan investor bagi sebesar-besarnya kemakmuran. Ibarat bintang film yang ingin terlihat cantik untuk memenangkan persaingan, pemerintah dituntut melakukan hal yang sama antara lain dengan memberikan fasilitas pengurangan tarif bahkan fasilitas penundaan pajak melalui percepatan pengakuan beban dan memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian.

Tidak ada yang salah dengan sebuah kebijakan yang diambil. Bagaimanapun kita adalah negara yang mempunyai pesaing negara lain yang tentu berkeinginan hal yang sama dalam merebut investasi. Namun demikian sudah saatnya upaya meraih perhatian investor melalui kebijakan pajak tidak hanya menyandarkan pada banjir diskon dan hadiah yang lebih berkesan seolah lipstik yang mempercantik namun mudah luntur. Saatnya upaya menarik perhatian diarahkan pada rezim perpajakan yang menekankan aspek keadilan, kepastian hukum dan simetrinya informasi yang dimiliki otoritas pajak dan Wajib pajak.