Kamis, 10 Maret 2016

DJP : Anda penikmat Kopi, Raciklah kopimu disini.

Minggu-minggu kebelakang, dunia pemberitaan nasional gempar dengan berita kopi beracun sianida. Efek sianida yang merenggut nyawa seseorang dengan tersangka J memenuhi lawan media dengan perdebatan dibalik cara dan motif pelaku pembunuhan.
Trauma mungkin saja menghinggapi sebagian penggemar kopi di tanah air. Kata-kata jangan-jangan bisa menjadi momok yang menakutkan.
Tidak demikian dengan pengggemar kopi sejati. Mereka senantiasa menikmati lezatnya minum kopi dan berusaha terus menikmati berbagai variasi kopi. Entah dari daerah mana kopi itu berasal, bahkan mereka menikmati kopi yang berasal dari luar negeri sekalipun mesti membayar mahal.
Penikmat kopi sejati biasanya bukan penikmat kopi seduhan yang terbiasa menikmati takaran orang. Mereka selain menikmati, juga berusaha membuat racikan kopi yang enak diseduh, dan mantap di lidah baik rasa pahit asamnya, maupun panas dinginnya seduhan.
Ada upaya menikmati sekaligus berkontribusi lebih. Point pentingnya adalah mereka yang menikmati, seharusnya juga paling banyak memberikan kontribusi.
Saat ini dunia tambah terasa datar. Orang-orang dengan mudah berkomunikasi dan bepergian antar tempat dalam waktu yang relatif singkat. Transaksi lintas negara bahkan bergerak cepat dibantu media-media online melaui transaksi elektronik.
Semua orang dipersatukan oleh suatu alat seukuran pegangan tangan yang senantiasa dibawa kemanapun pemiliknya pergi. Relasi sosial dan relasi bisnis dijalin dalam dunia maya yang anonim tanpa bisa saling menatap wajah pembeli dan penjualnya.
Pemilik teknologi tentulah mereka yang menguasai dunia. Mereka menciptakan mesin pembuat yang modern yang menggilas pengrajin tradisional. Mereka membuat pasar maya yang jauh menggerus pasar tradisional. Pasar saat ini ibarat kumpulan tanpa orang tapi aktif bertransaksi.
Selaku negara penikmat dan bukan pembuat teknologi, Indonesis hanyalah pasar konsumen dan bukan produsen. Pihak luar lah yang banyak menikmati gurihnya pasar republik ini dan negara seakan tak kuasa membendungnya.
Banyak penikmat kopi dari luar negeri, tapi tidak pernah mau meraciknya di dalam negeri.
Apa dampak utamanya? Indonesia tidak dapat memajaki keuntungan perusahaan yang tidak mempunyai tempat racikan atau dalam istilah pajak dikenal dengan Bentuk Usaha Tetap.
Negara gagal memahami suatu transaksi lantaran transaksinya tersembunyi dalam transaksi yang tidak kasat mata, dan tidak jelasnya kedudukan peracik teknologi tersebut. Sebutlah youtube, facebook,google dan sebagainya.
Mereka yang sudah meracik kopinya di Indonesia sekalipun, negara bisa gagal memajaki karena sulitnya mencari bukti. Indonesia ibarat pemain kampung yang gagap ditengah kompetisi yang hebat.
DJP menyadari hal ini. Negara boleh kecolongan saat ini, tapi tidak untuk kedepannya. Ditjen pajak baru telah membentuk direktorat baru yakni Direktorat Perpajakan Internasional. DJP berusaha memahami penikmat kopi dari luar.
Anda penikmat kopi? Raciklah kopimu disini. Jangan hanya jadi penikmat, tetapi semestinya anda juga memberikan banyak manfaat.
Terimakasih buat penggemar kopi Mas Slamet Rianto, Nufalaq Rachmaningtyas . Terimakasih buat Eri Sunandar atas traktiran kopi bukittingginya.

Blog Archive