Kamis, 10 Maret 2016

Lilin kecil di ujung Jalan

Bukan bahasa undang-undang yang jadi hapalan, bukan bunyi pasal dan ayat tercetak yang jadi penggerak, tapi hatinya yang menggerakan tubuh lemahnya berjalan menuju kantor pos terdekat.

Nenek itu datang bukan untuk menghiba memohon bantuan, berdemo menuntut hak jatah jaring pengaman sosial, tetapi justru lembaran uang itu dia sampaikan ke kantor pos untuk memberi kontribusi pada negeri.
Negeri ini tegak tidak hanya karena pejuang yang mengorbankan nyawa dalam peperangan, tetapi mereka yang turut membantu memberi makan para pejuang. Nenek itu sepertinya mewarisi kharakter pejuang.

Jalannya mungkin sudah tidak setegak dulu, badannya mungkin tidak semanis dulu, tetapi hatinya tetap manis karena ia lebih abadi. Dia nggak peduli bahwa sebenarnya dialah yang mungkin membutuhkan bantuan, tetapi semangat yang ditonjolkan justru semangat memberi, bukan menerima.

Mungkin sudah sulit mencari orang-orang yang mau peduli. Terlalu banyak orang yang ingin kaya dan berfoya-foya. Hidup untuk dirinya dan nggak peduli sesamanya. Itulah mungkin yang dianggap benar untuk logika orang hedonis saat ini. Maunya menikmati sebanyak nafsunya yang akan berhenti sampai dia sadar diri.

Kota besar menunjukan kegemerlapan yang luar biasa. Orang kaya berlalu lalang di Jalanan ibu kota. Coba kita bertanya, berapa persen dari mereka yang sadar diri berkontribusi pada negaranya. Sepertinya sedikit sekali. Coba berapa uang mereka yang dihamburkan hanya untuk kenikmatan sesaat.

Miris, nenek sederhana itu berusaha taat meski kekayaannya mungkin tidak seberapa, tetapi pengusaha itu dengan kekayaannya, bahkan membentengi diri untuk tidak taat. Ketidaktaatan yang sejak awal diniatkan dan dipersiapkan.

Saatnya Pajak mengatur kejahatan pajak terencana. Pidana sebagai alternatif terakhir dalam sistem perpajakan sudah saatnya ditinjau ulang untuk jenis kejahatan terencana.
Terlalu mudah apabila semua bisa dibeli dengan nilai sanksi. Terlalu kontras negeri ini dengan sisi gelap yang terlalu dominan dilukiskan meski masih ada lilin kesadaran jauh di ujung jalan.

Blog Archive