Kamis, 10 Maret 2016

Pajak dan Perilaku Masyarakat.

Dialog sederhana berlangsung tadi sore dengan sahabat karib, senasib, sembari menunggu hujan berakhir. Topik yang didiskusikan adalah bagaimana perilaku laki-laki dalam mengeluarkan sebagian rejekinya untuk kemaslahatan masyarakat.

Entah kesimpulannya benar atau tidak, terburu-buru atau tidak, fenomena yang tampak adalah perubahan pola besaran yang dikumpulkan. Ada perbedaan bila donatur langsung diminta dalam bentuk tunai, atau melalui potongan. Perbincangan kedua menyangkut nilai uang. Orang bisa berbeda respon begitu diminta sejumlah uang dengan sejumlah barang senilai uang. 

Orang rela memberikan barang yang mempunyai nilai uang lebih besar, dibandingkan uangnya langsung dengan nominal yang lebih kecil.

Dalam konteks pemungutan pajak, sistem self assesment yakni mendaftar, menghitung, memperhitungkan, dan melapor sendiri sepertinya kalah tenar dengan withholding tax yakni mekanisme potongan pungutan.
Ada rasa berbeda sewaktu membayar urunan dari kantong, dengan dipotong dari penghasilan yang belum masuk kantong. Mungkin tepatnya bahasa sekarang sebelum dan sesudah masuk rekening.

Manusia memang dianugerahi rasa plus Logika. Ada rasa bahwa sesuatu menjadi miliknya, yang harus dijaga begitu harta sudah masuk dalam genggamannya. Maka wajar orang menjadi berat diminta begitu hartanya sudah terhitung dalam kalkulasi kepemilikannya.

Pikiran selanjutnya melayang pada perilaku orang yang diminta donaturnya dalam suatu saat, suatu waktu, tanpa dingatkan kembali jumlah donasinya. Hal yang ditakutkan mereka akan sedikit menyesal memberi lebih pas kemampuan ekonomisnya berkurang.

Pajak sebagai bentuk sumbangsih warga, juga sepertinya memiliki kemiripan dalam pola perilaku pembayarnya. Meskipun ada perdebatan dengan pola pemajakan melalui potongan pungutan, apalagi model final, rasanya saat ini itulah model yang paling tepat.

Bicara pajak memang tidak melulu bicara ekonomi dan hukum. Pajak kental dengan nuansa perilaku. Mereka yang sejak awal sudah mengkalkulasi hartanya, kemungkinan akan berat berbagi dengan sesamanya, apalagi negaranya.

Menjadi PR besar bagi DJP untuk bisa mengumpulkan pajak pada saat yang tepat dan cepat. Semakin uang itu sudah terlalu merasuk pikiran orang, semakin susah untuk dikumpulkan. Pajaki orang sebelum dia terlalu banyak bermimpi dengan uangnya, dan lupa uang itu datang karena ada peran orang lain disekelilingnya.
Menjadi berada harus menjadi cita-cita, tetapi bukan menjadi penggila harta yang tidak empati dengan sesama.

Teringat paparan peran kehumasan dan lapisan pertahanan. Bukittinggi yang dingin dan sunyi, tapi melahirkan berjuta inspirasi.

Blog Archive