Selasa, 12 April 2016

Apa arti kesejahteraan itu ?



Sore itu kami sekeluarga sedang asik membicarakan nyamannya suasana kereta  ekonomi. Suasana stasiun yang bersih, kebebasan dari tawaran pedagang asongan serta  fasilitas AC,  membuat nyaman pengguna transportasi kereta. Seketika ucapan bernada memuji meluncur pada sang Nahkoda PT KAI. 

Tengah malam, ditengah dinginnya udara, saya harus kembali dengan rutinitas menjemput istri di stasiun. Untuk  menahan kantuk, kopi pun saya pesan. Tampak duduk di samping seorang bapak yang sedang bercerita. Dia harus memulai memikirkan nasib dagangan asongannya yang terlindas sebuah kebijakan. Mungkin dalam hatinya menjerit pedih memikirkan nasib keluarga yang menjadi tanggungannya.

Seketika mulut saya pun terdiam. Diam membisu mendengar ocehan bapak tadi, bingung kata-kata apa yang pas untuk sekedar menyapa. Kenyaman yang kami nikmati ternyata berdiri di atas penderitaan orang lain. Orang kecil yang mungkin dianggap sedikit dan tidak punya hak bersuara. Satu sisi saya merasa terganggu dengan aktivitasnya, tetapi disisi lain memahami kelemahan yang mereka miliki dalam upaya menafkahi keluarganya. Seandainya mereka punya modal, mungkin mereka mampu menyewa tempat yang nyaman, tidak perlu mengasongkan dagangan, cukup senyum dan menawarkan jualannya di tempat yang menyenangkan.

Dunia kadang begitu kejam pada si kecil yang papa. Seolah mereka tidak layak berusaha dan hanya mengotori indahnya suasana kota. Rumah mereka tergusur, usahanya terusir, sementara pemilik modal indah dengan tempat tinggalnya, nyaman dengan tempat usahanya . Hanya doa yang waktu itu terucap di hati, semoga mereka sabar menjalani hidup, dan suatu hari ada jalan terang ditengah gelap gulitanya malam.  

 Kita semua memang harus sabar menjalani hidup. Selalu ada perjuangan dan pengorbanan mesti bentuknya bisa beragam. Belajarlah untuk melihat tunduk ke bumi dan tidak menatap  dengan pikiran melayang melihat tingginya angkasa.   

Pikiran seketika teringat 30 tahun lalu. Dengan lantang pembukaan Undang-undang dasar kami bacakan. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,memajukan kesejahteraan umum,mencerdaskan kehidupan bangsa,  melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, Disinilah negara semestinya berperan. Negara punya tujuan mensejahterakan seluruh masyarakat, bukan sebagian masyarakat, apalagi sebagian kecil masyarakat Indonesia.

Muncul pertanyaan di benak pikiran.Berapa jumlah orang kaya dan miskin di Indonesia. Berapa jumlah orang kaya yang menguasai sektor ekonomi di republik ini, dan berapa orang miskin yang kesulitan bahkan hanya sekedar makan. Seandainya banyak murid gagal ujian mungkin gurunya yang kurang mengajarkan, akan tetapi jika hanya segelintir murid gagal, mungkin ada yang salah dengan muridnya. Jika kondisi masyarakat yang miskin lebih besar dari yang kaya, yang salah mestinya bukan lagi orang miskin, tetapi Negara gagal mensejahterakan mereka, bahkan mungkin negara tanpa sadar bahkan meminggirkan dan memiskinkan mereka.

Kesempatan menikmati hidup yang  sehat, pendidikan yang cukup dan layak bisa menjadi salah satu solusi memutus mata rantai kemiskinan. Bukan dengan cara meminggirkan mereka dari pandangan mata, menaruhnya di tempat-tempat sunyi pinggiran kota, tetapi memberi kesempatan bagi mereka untuk bisa bersaing yang sehat dengan para pemilik modal lainnya. 
Sungguh aneh jika negara menganggap persaingan sebagai sebuah keniscayaan hidup yang harus dijalani, sementara di depan matanya ada ketidakadilan ketika seorang anak  kecil dengan keterbatasannya bertarung dengan orang dewasa yang kuat dan bersenjata. Tanpa peran negara dunia memang seperti layaknya dunia binatang dimana yang kuat membinasakan yang lemah.

Pembangunan  harus terus dilakukan. Keindahan, kenyamanan dan ketenangan hidup menjadi cita-cita setiap orang harus diwujudkan. Akan tetapi bukan pembangunan yang hanya dinikmati segelintir orang. 

Negara jangan kalah oleh segelintir orang, apalagi menghianati amanah yang dipercayakan rakyatnya. Negara harus mampu menghimpun pendapatan yang proporsional dengan penghasilan dan konsumsi yang dinikmati warganya. Negara jangan berani  pada si lemah yang tak berdaya dengan mengusirnya, tetapi lemah untuk sekedar memaksa si kaya menyerahkan kontribusi wajibnya.

Pajak harus memulai mewujudkan keadilan itu, jangan sampai ada lagi senandung pilu apa arti kesejahteraan itu ?

AHE  

Blog Archive