Selasa, 26 April 2016

Beri Anak-anak itu Sedikit Kesempatan!



Entah bagaimana harus mulai berkata-kata. Rasanya berat menyampaikan sesuatu. Takut karena keterbatasan ilmu yang dimiliki menyebabkan salah dalam menilai apa yang hendak dinilai. Sejarah panjang dunia termasuk nusantara sampai republik ini berdiri selalu menyisakan si miskin yang terhimpit, tergusur dan terbuang. Ia mudah disalahkan karena barangkali orang tidak paham dengan keadaannya. Orang memandangnya dengan kaca mata dirinya yang berkecukupan bahkan berlebihan sementara yang dipandang seakan sampah yang layak dibuang.

Pembangunan menyisakan masyarakat yang tergusur, rumahnya digusur atas nama sebuah kertas bertuliskan hak negara berwujud sertifikat. Dia layak disingkirkan karena ia tidak punya hak memiliki kecuali uang berbunyi atas nama transaksi jual beli. Kemana negara yang hanya bisa memberi banyak manfaat pada si Kaya. Si Miskin entah harus dimana meskipun cuman untuk duduk menghirup udara. Kota dibangun bagi mereka yang kaya. Lihatlah hanya untuk kencing saja dia harus mencari sekedar recehan. Ketika ia kencing sembarangan, orang akan memandang sebagai manusia tak tahu aturan. 

Mereka bukan tidak paham keinginan kalian, tetapi apa daya mereka harus hidup dalam sempitnya lorong ibu kota yang pengap ini . Mereka tidak bisa membayar iuran-iuran sampah atau iuran apapun demi lingkungan yang nyaman seperti semua orang-orang idamkan. Kata-kata merintih dalam batin yang terkoyak pilunya perasaan. Mereka harus terpaksa hidup dalam suasana fisik bahkan suasana sosial yang kotor. Anak-anak mereka bertarung dalam kerasnya kehidupan fisik yang bahkan berlanjut perkelahian.

Barangkali ada yang berujar mereka harus pulang ke kampung, pulang ke desa. Desa yang mana? Walaupun ada kampung  dan banyak kampung  disana, mereka bukan pemilik tanah, mereka hanya buruh tani yang bisa mengharap belas kasihan juragan tanah yang memberi pekerjaan, entah dalam hitungan upah berapapun yang mereka ikhlaskan. Tidak ada yang namanya aturan upah minimum karena semuanya memang serba minim.

Sejarah mencatat cerita kelam hidup dalam balutan drama pertarungan elit-elit politik yang memanfaatkan mereka si miskin. Janji-janji politik atas nama rakyat yang mau memerdekakan mereka dari lingkaran kemiskinan berbunyi nyaring menjelang pemilihan. Seketika semuanya redup ditelan senyapnya malam yang berakhirnya sebuah pesta demokrasi bernama demokrasi rakyat. Demokrasi yang sekalipun tidak dipahami dengan baik karena mereka malas berpikir di tengah perut yang keroncongan. Jangan salahkan mereka yang mencoblos siapa yang waktu itu memberi mereka makan. Karena dengan alasan apapun mereka hari itu telah memberi mereka sedikit nasi bungkus pengganjal perut. Mereka tidak tahu mana yang baik, mereka hanya tahu mereka yang peduli meskipun hanya satu hari.

Hari itu tak biasanya mereka mendengar dengan syahdu suara adzan dalam  gemerlap kota yang biasanya bising dengan bunyi kendaraan. Langkah demi langkah dicoba untuk sekedar mendekat. Melihat badan lusuh dengan pakaian kotor rasanya hati nggak tega untuk sekedar mendekat. Takut semua orang terganggu ibadahnya karena mencium sesuatu yang tidak sedap dihidungnya. Langkah balik badan akhirnya terpaksa dilakukan. Digelarlah tikar Koran dalam payung sebuah jembatan. Do’a dipanjatkan, semoga Allah memahami keterbatasan keadaan yang memaksa mereka jauh dari rumah Tuhan yang orang agungkan. Bagi mereka semua rumah Tuhan yang semoga memberi ampun dan memberi mereka keshabaran.

Dalam do’a terpanjatkan semoga yang kaya mau memperdulikan. Mau membantu bukan malah menyingkirkan. Kepada siapa mereka berharap. Tuhan semoga menjadikan pemimpin negara sebagai pintu jalan terbukanya kebaikan. Seandainya tidak menikmati setidaknya anak dan keturunan mereka bisa ikut menikmati meski hanya sedikit. 

Semoga 20 % APBN itu bisa ada dan dapat dimanfaatkan. Setidaknya beri anak-anak mereka kesempatan mengenal hidup yang lebih baik melalui pendidikan.
Pendidikan adalah kunci, anggaran adalah modal dan pajak menjadi jalan terbaik melapangkannya. #Pajak Milik Bersama

AHE