Selasa, 12 April 2016

Duka itu……





Entah saya harus bicara apa, teman yang tugasnya pernah saya perankan 16 tahun lalu, meninggal dalam menjalankan tugasnya. Pekerjaan beresiko selaku juru sita pajak negara memang sarat dengan ancaman penghilangan nyawa. 

Hari ini DJP berduka. Berita itu seketika sampai ke kami di ujung timur matahari. Teman di ujung barat yang sedang menjalankan tugasnya memasukan pundi-pundi uang bagi negara  secara tragis dibunuh. 

Kami sedih, pilu dan berduka saat ini. Di saat beban di pundak sangat berat harus kami pikul, teman kami harus berdarah-darah dan meninggal menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Bukan perlawanan penghindaran atau penyelundupan pajak lagi saat ini yang terjadi, tetapi adanya ancaman nyawa sekarang seolah terbuktikan
.
Kejadian ini tidak sekedar kriminal biasa. Pembunuhan ini tidak  sekedar melawan aparatur negara, tetapi sudah upaya melawan negara. Seandainya negara lemah menyikapinya , jangan harap peran negara ada, karena negara sendiri tidak bisa mengamankan pegawainya.
Melihat ancaman yang sudah mengarah pada perlawanan fisik, saatnya rasa aman aparatur negara dalam menjalankan tugasnya tidak hanya sebatas aman dari kriminalisasi hukum tetapi seharusnya termasuk ancaman fisik yang beresiko nyawa. 

Pemberian senjata pada aparatur negara bukan suatu solusi yang harus terburu-buru disampaikan. Hal yang penting dan mendasar adalah keamanan  saat tugas dilaksanakan atau sesudah suatu tugas dilaksanakan. Bentuk ancaman tidak hanya bagi pribadi pegawai tetapi juga termasuk keluarganya. Negara sudah punya TNI dan Polri sebagai ujung tombak keamanan dan pertahanan negara. 

Mungkin sudah saatnya upaya melaksanakan penegakan hukum dilakukan bersama-sama oleh aparat pajak dan senantiasa, bukan sekedar dibantu oleh kepolisian dan TNI. Upaya penegakan hukum merupakan upaya beresiko tinggi dalam memaksa hak negara agar keberadaan negara tetap ada. Bukannya pertahanan dan keamanan negara ikut melemah karena target pajak tidak dicapai?

Penerimaan negara lebih dari 70 persen bergantung pada penerimaan pajak. Tanggung jawab pemenuhannya telah diserahkan kepada DJP terutama pegawainya. Kejadian hari ini secara psikologis akan mempengaruhi kinerja terutama petugas di lapangan yang berhubungan langsung dengan penunggak, atau “pengemplang” pajak. Kinerja individu yang terganggu akan berdampak pada kinerja institusinya.

Kepemimpinan DJP sedang dalam keadaan diuji. Target yang berat, ancaman yang mulai mengarah pada nyawa petugas harus segera dicari solusinya. Keluarga yang ditinggalkan harus turut mendapat perhatian.

Keamanan semua pegawai harus menjadi priortitas perhatian. Tanpa rasa aman pegawai akan lebih memilih diam ketika bahaya menghadang. DJP harus segera mencari bentuk perlindungan terbaik bagi pegawainya. 

Kawan, semoga amal baikmu diterima Tuhan, kepada keluarga kami turut berduka cita, dan Tuhan anugerahkan kesabaran menerima musibah ini. 
Semoga DJP bisa
AHE

Blog Archive