Kamis, 21 April 2016

"Lawakan Mandiri"

Entah pertanda apa dunia lawakan saat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu lawakan tumbuh seperti srimulat yang berisi kumpulan pelawak. Mereka saling beradu bayolan dalam satu panggung pertunjukan.

Lawakan saat ini didominasi lawakan mandiri atau stand up comedy yang mengandalkan kekuatan kata kata yang dibawakan satu orang pelawak.

Kemampuan individu untuk mengolah bahan lawakan dengan inovasi kata-kata sang pelawak menjadi magis tersendiri yang menyihir penonton untuk tertawa.

Kreativitas muncul sebagai kreativitas pribadi dan bukan lagi kreativitas kelompok. Kekuatan perseorangan lebih dominan dan sengaja memang itulah yang lawakan mandiri tonjolkan.


Zaman selalu membawa tandanya masing-masing. Saat ini mungkin semuanya bermuara pada ketokohan seseorang. Berhasil tidaknya sesuatu sudah tidak dianggap sebagai kerja tim.

Lihatlah pemberitaan media saat ini. Sebuah kota maju karena figur seseorang. Semua seakan lupa ada peran peran lain yang membantu pencapaian tujuan organisasi termasuk institusi.

Masyarakat sudah tidak melihat proses dari departemen atau bagian mana keberhasilan itu pertama kali diwujudkan. Semua dianggap keberhasilan satu pigur. Dia seakan dianggap dewa penyelamat layaknya pahlawan dalam tokoh cerita kartun anak.

Dunia lawakan mandiri menempatkan hanya satu orang sebagai tokoh yang dianggap hebat. Kepemimpinan dianggap sebagai hasil sulapan satu orang yang dianggap sebagai pemimpin tertinggi.
Celakanya kalau keberhasilan dianggap sebagai buah karya seseorang, sedangkan kegagalan sebagai akibat kelemahan tim bahkan kelemahan satu bagian yang harus siap menjadi kambing hitam.

Negara sudah dianggap layaknya dagelan yang sedang mempertontonkan kepiawaian satu orang tokoh hebat yang meramu kata-kata menghibur lara masyarakat yang terhimpit beban hidup.
Model kepemimpinan saat ini muncul sebagai akibat masyarakat yang sudah tidak mempercayai dirinya dan hanya bersandar pada satu pigur yang bisa dianggap pahlawannya.

Figur yang mungkin justru tampil kesiangan, tapi pas muncul disaat masyarakat sedang rindu dan dimabuk impian. Ia seakan komedian mandiri yang melawak dan membuat ger panggung hiburan.
Jangan jangan sekarang sudah tidak perlu lagi kerja tim. Masyarakat tidak butuh karya bersama tetapi sedang butuh sosok jagoan yang satu dan bukan jagoan keroyokan.

Tinggal menunggu waktu bagaimana negara yang hanya mengandalkan pada satu figur ini akan tersadarkan bahwa kerja itu berbarengan dan bukan sendirian apalagi tanpa arah dan tujuan.
Kapan semua akan berubah? Kita tunggu perubahan sampai masyarakat mulai jenuh seperti jenuhnya pada panggung lawakan mandiri yang sudah dianggap tidak lucu lagi.

Bukan benar atau salah, menarik atau tidak, tetapi zaman selalu membawa cerita masing-masing. Bukan zaman yang salah, tetapi perilaku manusia yang sering berubah-ubah.

AHE

Blog Archive