Minggu, 17 April 2016

Pajak dalam Pusaran "Sang Penggoda"

Pajak dalam Pusaran "Sang Penggoda"
Sembari menahan kantuk, tulisan mas yustinus tentang tax havens saya paksakan untuk terus dibaca. Dukungan data dan penjelasan akademisnya serasa pas disajikan.
Televisi yang sejak tadi ditongkrongi berisi perdebatan seputar sumber waras langsung saya matikan. Inti diskusinya adalah kelaziman sebagai ukuran membaca niat seseorang. Selebihnya bumbu bumbu perdebatan yang tidak perlu dan terkesan emosial.

Tulisan berikutnya karya Dendy Raditya Atmosuwito berjudul Matinya Ilmu Sosial dan Humaniora, Matinya kemanusiaan kita, mengingatkan saya pada keangkuhan 23 tahun lalu sewaktu mengambil kelas Fisika SMA.
Empat tahun setengah di kampus jurangmangu bergelut ilmu hukum,akuntansi,ekonomi, dan pajak membuat otak saya campur-campur antara ilmu pasti dan ilmu sosial.

Bacaan lain dari harian indoprogress karya alumni FH UII dan Aktivis Social Movement Institute tentang Brengseknya Pendidikan Hukum di Indonesia, jeli menangkap realitas hukum yang seolah jauh panggang daripada api dengan tujuan hukum sendiri.

Kaitan antara tulisan-tulisan itu saya coba rangkai. Entah benar atau tidak ilmu sosial saat ini sedang kebingungan mencari bentuk dan terkungkung dalam pola pola angka. 
Lihat saja mahasiswa yang meneliti ilmu sosial cukup puas hanya berdasar angka statistika semata tetapi gagap menjelaskan fenoma dan keterkaitan antara variabel yang sedang ditelitinya.

Demikian juga ketika bicara hukum, kebenaran lebih dilihat dari rangkaian pasal-pasal kaku yang diterjemahkan mirip dengan pola persamaan matematika yang terkunci dan tidak dapat diganggu gugat lagi.
Pemikiran seseorang sangat beragam apalagi sudah ada motif lain yang mengiringinya. Aparat penegak hukum seolah menjadi bingung ditengah beragamnya pemikiran orang. Untuk kepentingan praktis pola-pola matematis akhirnya menjadi pilihan yang mudah diambil.

Berapa banyak karya ilmiah yang lebih mengedepankan pendekatan kuantitatif dibanding kualitatif yang katanya susah di ukur. Angka statistik putusan lebih mengemuka dibanding kedalaman isi sebuah putusan.
Ilmu perpajakan juga tergoda pemikiran praktis ini. Tax Ratio dan angka angka lain lebih memperlihatkan warnanya sehingga sudah cukup menarik tanpa mau lebih jauh meneliti sebab dan akibatnya. Keberhasilan institusi DJP lebih dilihat dari angka-angka penerimaan yang mudah dilihat semua orang.

Institusi dianggap gagal hanya karena angka yang gagal dicapai. Vonis segera meluncur dan sanksi sudah cepat dipikirkan sebagai bentuk hukuman. Upaya yang telah dilakukan bahkan nyawa sudah dipertaruhkan seakan lenyap tanpa bekas tertelan angka statistik yang lebih senang dibicarakan.
Hingar bingar panama papers saat ini sedang jadi perhatian besar. Ketua BPK sampai harus melakukan klarifikasi karena namanya ikut dalam pemberitaan.

 Tax amnesty seakan tidak mau ketinggalan berlomba mewarnai jagat isu isu utama perpajakan yang lagi hangat-hangatnya didiskusikan. Belum belum orang sudah bicara angka rupiah sebagai patokan keberhasilan.
DJP sedang terbelenggu angka. Suatu keadaan yang susah dihindari karena semua orang sedang menginginkan dunia yang praktis dan malas berpikir terlalu panjang. Semua ingin segera tersaji dan siap dihidangkan

Pajak tidak sekedar bicara angka semata, ia berbicara ketaatan manusia yang sering goyah. Jangankan kepada negara, kepada Tuhannya pun ketaatan seseorang bisa naik dan turun.
Tugas DJP menghimpun dana hakekatnya adalah menjaga ketaatan. Godaan untuk tidak taat saat ini sudah semakin beragam. Panama Papers hanya salah satu variabel penggoda orang untuk taat atau menghindar pajak.

Tax Havens atau apapun skema penghindaran, penggelapan pajak hanyalah pengggoda. DJP harus berupaya menjaga ketaatan masyarakat dengan memahami unsur penggodanya.
Angka jangan terlalu diresahkan. Penggoda itu yang selalu meresahkan dan menggelincirkan.

AHE.

Blog Archive