Rabu, 20 April 2016

Perbedaan bukan Pembedaan


Jagad politik di Indonesia sedang gonjang ganjing. Dari dunia nyata sampai dunia maya pro kontra isu yang berbau politik seolah memaksa masyarakat dalam dua kubu yang saling berhadap-hadapan.
Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup yang harus dengan bijak dipahami sebagai sebuah realita yang tidak mungkin dihindarkan.

Inti masalah bukan pada perbedaan itu sendiri. Sesuatu yang dianggap biang permasalahan adalah adanya pihak yang merasa diperlakukan berbeda. Ini bisa dikatakan sebagai suatu pembedaan.

Pembedaan yang didasari oleh pembedaan atas nama suku, agama, ras dan kepentingan apapun akan menjadi sumber bencana yang akan membuat gesekan berkembang sebagai bara yang membakar kebhinekaan masyarakat.

Satu hal yang sangat mengkhawatirkan kondisi negara yang bersatu di atas perbedaan. Pelangi yang indah akan hilang sirna ditelan kabut hitam pembedaan.

Kemarahan akan tumbuh cepat ketika rasa keadilan masyarakat tidak terpenuhi. Disinilah peran negara harus ada. Dia harus jadi pengawal keadilan bukan sebagai pihak yang justru membedakan masyarakat dalam kotak kotak teman atau lawan, pendukung atau bukan pendukung.

Masyarakat mungkin sementara diam dalam bisu karena ketidakberdayaannya. Akumulasilah yang menjadikan semut melawan karena kaki gajah selalu terus menerus menginjaknya.

Hukum yang seharusnya menjadi alat mencapai keadilan justru hadir sebagai penindas yang kecil, dan seakan tidak berdaya melawan kekuatan sang penguasa yang tajam melihat peluang membungkam mereka yang dianggap lawan.

Azas perpajakan dibangun dengan azas keadilan. Bukan kesewenang-wenangan meski berbalut aturan, tetapi gotong royong yang dibangun dengan semangat keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pajak telah mengajarkan keadilan bagi sesama.

Mari kita pahami keadilan dalam bingkai perbedaan dan bukan dalam figura pembedaan yang menyesakkan!
AHE

Blog Archive