Selasa, 17 Mei 2016

Hati hati Menilai Label Orang.


Alkisah di sebuah kota kecil pengrajin rame rame membuat produk industri rumahan. Sejak menggunakan label atau merk dari jenis kaos tertentu yang sudah terkenal mendadak omsetnya naik perlahan lahan.

Orang butuh produknya sekaligus butuh merknya. Sewaktu omset penjualannya sedang merangkak naik, pemilik model belum bertindak apa-apa. Setelah produk dengan merk tersebut laku keras, pemilik merk serta merta mengadukan dan menuntut ganti rugi.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut adalah hati hati dengan merk dan label. Label adalah simbol perjuangan yang diupayakan dan butuh waktu membangunnya. Jadi wajar kalau ada pihak lain yang mengaku memiliki padahal sudah ada pihak lain yang lebih dulu memiliki marah dan mengadukan urusannya.

Pelajaran kedua adalah penggunaan label untuk kepentingan sendiri dan skala kecil mungkin masih ditolerir pemiliknya. Begitu usaha anda sudah besar siap-siap saja menerima gugatan pihak pemilik label ketika menggunkan model.miliknya.

Selama seminggu ini jagad media termasuk media sosial memberitakan pelabelan tertentu yang dianggap menyakiti pihak lain. Masalahnya karena yang bicara dianggap mewakili sosok lembaga yang semestinya kredibel dan hati-hati menilai label.

Ucapan seorang walikota yang menyatakan pendek pikir seseorang yang mudah mengeneralisir masalah, seolah menemukan pembenaran. Ketika ada pemilik label yang merasa terganggu, langsung bereaksi begitu labelnya dipermalukan
.
Diperlukan pemilihan sampel yang cukup dari populasi begitu pernyataan untuk menilai label tertentu akan disampaikan. Ketika ceritanya kebaikan mungkin tidak terlalu masalah mengeneralisir pernyataan. Ketika kita bicara keburukan atas label tertentu butuh seribu kali pemikiran ulang untuk membuat suatu pernyataan yang menyakitkan.

Semakin tinggi posisi seseorang, ia harus semakin hati-hati memberikan atau menggunakan label. Jangan jangan label yang dibicarakan merupakan label kebanggaan sehingga seseorang belum layak menilainya jika ia belum paham benar label tersebut.

Permintaan maaf memang bisa disampaikan. Tapi sakit sudah kadung masuk ke hati. "Sakitnya Tuh di Sini" bisa mewakili luka yang susah untuk disembuhkan. Ada pintu darurat maaf, tetapi itu hanya pintu darurat yang berharap tidak banyak digunakan.


AHE