Rabu, 25 Mei 2016

Pajak dalam senandung Bung Rhoma.


Salah satu persoalan dalam aliran uang haram adalah praktik penghindaran pajak dalam skala besar. Aliran uang haram salah satunya berdampak pada ketimpangan ekonomi(Alex Cobham).

Persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi melibatkan banyak negara. Semakin lemah kemampuan negara dalam mengungkap kasus tersebut maka ketimpangan akan jauh semakin besar.
Negara yang seharusnya dapat mensejahterakan masyarakatnya menjadi kehilangan daya karena penerimaan negara yang tidak maksimal. Negara tidak akan pernah mewujudkan janji luhurnya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Pajak yang memberikan porsi terbesar pada penerimaan negara akan terancam kehilangan potensi penerimaan akibat maraknya praktik penghindaran pajak terutama yang dilakukan oleh individu atau perusahaan yang menghindari pajak dengan memanipulasi keuntungan yang diperolehnya.
Penghindaran pajak memang tidak semuanya bermuara pada praktik illegal namun bisa dilakukan melalui skema dengan memanfaatkan celah ketentuan yang tidak secara tegas mengatur. Kejahatan tidak dianggap kejahatan begitu undang-undang tidak mengatur, barangkali itu argumen yang dikedepankan.

Persoalan lebih berat begitu negara tidak mempunyai kemampuan mendeteksi berbagai jenis transaksi yang terindikasi merupakan aliran uang haram. Otoritas pajak bisa tertipu perusahaan yang membebankan beban yang seolah sesuai ketentuan dalam skema pinjaman padahal boleh jadi mereka meminjam pada uangnya sendiri yang telah mereka simpan.

Kejahatan rawan terjadi pada tempat-tempat tersembunyi, gelap dan tanpa pemantauan yang cukup. Negara tidak boleh kalah dengan individu yang berkuasa yang menghendaki ekonomi yang minim pengawasan. Semua individu harus transparan kepada negara. Negara harus mempunyai peran besar untuk dapat memantau seluruh aliran uang termasuk mampu mendeteksi aliran uang haram.

Negara yang lemah pada sisi penerimannya pada akhirnya dipaksa berutang meskipun dengan bunga yang bisa mencekik lehernya. Masyarakat pada akhirnya bukan bergotong royong membangun, tetapi bergotong royong mensejahterakan negara pemberi pinjaman.

Hanya dalam kata akhirnya suatu negara merdeka, tetapi hakekatnya ia terjajah dan dihinakan. Ketimpangan akan semakin membesar. Mereka yang segolongan kecil menguasai kekayaan sedangkan yang miskin makin bertambah dan terus disengsarakan. Bukan miskin karena ketidakberdayaan semata tetapi secara siatematis mereka dimiskinkan karena negara gagal melindunginya.

Senandung Bung Rhoma akan terus bergema di seantero nusantara. "Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin".

Mampukah pemerintah menjawabnya. Penguatan otoritas pajak langkah awal terbaik yang menjadi jawabannya. DJP dengan dukungan institusi dan lembaga lainnya tidak boleh gagal melawan praktik uang-uang haram terutama yang berasal dari praktik penghindaran pajak dalam skala besar dan masif.
Mari kita sampaikan salam perpisahan buat syair lagu Bung Rhoma di atas.
AHE

Blog Archive