Kamis, 26 Mei 2016

Senjakala Rumah Makan.


Saya bukan penikmat kuliner sejati yang pandai mencicipi cita rasa sebuah masakan. Saya hanya sekedar melamun makan yang enak, murah meriah dengan berbagai variasi menu makanan. Makanan pembuka sampai penutup yang bikin perut kenyang dan lidah terasa bergoyang.

Dunia masakan katanya dipengaruhi oleh kemampuan koki mengolah bahan masakan. Ia punya cukup bahan masakan, yang segar dan segera tersedia ketika ia membutuhkan. Ia punya resep yang bagus, lengkap serta bisa meramu bahan resep sesuai jenis hidangan yang akan disajikan.
Tak biasanya sang koki seperti kebingungan. Bolak balik ia membuka lemari pendingin

menginventarisir bahan masakan. Ternyata lemari besar itu kosong dengan bahan masakan. Koki yang satu terlihat kaget begitu buku resep yang biasa tergantung hilang entah kemana.

Sang koki hari itu bengong dan gagap bekerja. Pesanan yang datang sedang banyak-banyaknya. Sampai berjam jam pelayan bingung dengan masakan yang belum satu pun dibuat. Tidak ada makanan cita rasa lokal maupun barat yang satupun tersaji. Lebih marah lagi pelayan melihat koki asyik ngerumpi di pojokan dapur.

Ia langsung mengambil kesimpulan koki sedang malas bekerja entah dengan alasan apa. Esoknya dia berniat mengadukan semuanya pada pemilik warung makan. Mendengar laporannya seketika sang pemilik murka dan bertekad merumahkan semua juru masak di restoran kebanggaannya selama ini.
Minggu itu semua koki telah berganti. Pemilik toko menyuruh keluarganya pura pura membeli. Pesananan disajikan cepat, pelayan pun girang dan cepat mengambil kesimpulan dan memuji kinerja koki yang baru.

Alangkah kaget keluarga pemilik tempat makan ketika mencicipi hidangan. Makanan yang ada tidak jelas rasa dan aromanya. Barangkali masakan rendang rasa mie baso. Perut belum-belum sudah mual karena lidah sudah terbiasa dengan makanan enak. Keluarga pun ujungnya mengadu dan pemecatan kembali dilakukan.

Anak sang pemilik rupanya berpikir lain. Ia tidak cepat mengambil kesimpulan. Ia butuh jawaban dari kegagalan ayahnya mengelola restoran. Hari itu ia sidak ke dapur. Kaget begitu lemari pendingin setengah kosong dan hanya terisi bahan dengan variasi bahan resep yang tidak jelas. Resep setengah bahan mie baso setengah bahan rendang.

Ia pun menyadari kekeliruan ayahnya. Ia segera ke pasar membeli semua bahan yang dibutuhkan. Ia segera memanggil koki lama ayahnya dan mengajaknya bekerja kembali di restorannya. Akan tetapi dia harus menyesali kesalahan ayahnya, karena semua koki sudah pergi dan bekerja di tempat yang lain.

Anak pemilik restoran itu terbangun kaget karena tadi malam ternyata ia lama bermimpi. Semuanya ternyata hanya sebatas mimpi saja.

Ia lantas berdoa. Semoga usaha ayahnya tetap jalan, dan mimpi itu tidak menjadi kenyataan.
AHE

Blog Archive