Jumat, 10 Juni 2016

Ampunilah Kami Yang Lupa Peduli!




Apa yang senantiasa harus diucapkan seorang hamba pada Tuhannya? Allah memerintahkan untuk senantiasa memohon ampunan atas dosa yang senantiasa dilakukan. Bahkan terhadap sesamanya yang sudah meninggal sekalipun do'a permohonan ampunan senantiasa dipanjatkan keluarga dan saudaranya.

Selaku mahluk sosial yang senantiasa berinteraksi satu dengan yang lainnya, Allah juga memerintahkan manusia untuk saling memohon dan memberi maaf. Terkadang kesalahan itu disadari atau tidak disadari seseorang, alangkah mulianya bila diantara keduanya saling memaafkan.
Tentu ada rahasia dibalik permohonan ampun dan permintaan maaf. Seseorang yang lidahnya selalu memohon ampunan kepada Tuhannya dan meminta maaf kepada sesamanya akan dibekali hati yang lapang.

Ia akan dijauhkan dari perasaan sombong termasuk sombong atau riya dalam kebaikan. Ada kesadaran dalam dirinya yang lemah bahwa ia belum menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin dimuka bumi yang telah diamanahkan Tuhannya.

Saling memaafkan diantara sesama manusia akan menumbuhkan kasih sayang. Silaturahmi akan mudah terjalin karena tidak ada keangkuhan diantara keduanya. Keangkuhan karena dirinya merasa paling benar sendirian dan mudah menyalahkan sirna seiring tumbuhnya saling pengertian dan menyadari kelemahan masing-masing.

Salah satu dosa yang mudah terlupakan adalah dosa karena lupa untuk peduli. Sering seseorang merasa bersalah karena telah menyakiti fisik atau hati seseorang, mengumpat, menjelekan bahkan menghinakan seseorang. Manusia kadang tidak merasa bersalah padahal ia telah bersalah. Ia telah melupakan saudaranya, tetangganya yang kekurangan dan butuh pertolongan.

Bukankah Allah perintahkan manusia untuk saling tolong menolong dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? Bukankah Allah telah mengecam mereka yang tidak mau berbagi dengan sesuatu yang berguna?

Seringkali manusia tidak menyadari ketidakpedulian sebagai sebuah kesalahan. Mereka yang menumpuk-numpuk harta mungkin sedang berpikir harta itu satu-satunya yang mengekalkan kebahagiaannya. Ia lupa harta itu suatu saat meninggalkan atau ditinggalkan.

Hanya amal kebaikan yang akan kekal menyertainya. Bukankah gajah mati meninggalkan gading sedang manusia mati meninggalkan jasa? Jasa adalah amal kebaikan yang telah diperbuat termasuk yang dilakukan kepada sesamanya. Allah peduli pada seseorang yang peduli pada mahluknya. Ketika perintah dan larangan terlupakan barangkali kita lupa menyadari sebuah dosa sedang kita lakukan.

Marilah kita mulai berkaca pada lingkungan sekitar kita, negara dan bangsa kita. Begitu banyak mereka yang serba kekurangan yang tergambar dalam angka statistik kemiskinan.Boleh jadi angka ini muncul karena banyaknya yang kaya yang tidak peduli. Mereka yang kaya harta, kaya ilmu tidak mau berbagi dengan saudaranya.

Ramadhan adalah bulan latihan untuk melatih kepekaan hati untuk peduli, mau bergotong-royong bersama baik dengan tenaga maupun harta.
Kita mungkin lupa dengan ayat-ayat yang memerintahkan untuk peduli dan berbagi. Kita lupa untuk memiliki kesalehan individu dan kesaleh sosial.

Shalat wujud kesalehan individu, sedangkan zakat infaq dan sedekah sebagai wujud kesalehan sosial. Kesalehan sosial pada individu lainnya, alam sekitarnya termasuk negaranya. Demikian pula dengan pajak sebagai wujud sedekah untuk negeri.

Ya Rabb, Ampuni kami karena kami lupa tidak peduli!
Abepura
AHE

Blog Archive