Jumat, 03 Juni 2016

Andai Presiden "Pegawai Pajak"


Republik ini sedang sakit. Mungkin bahasa ini terlalu hiporbola. Siapa yang sakit? Ekonomi masih tumbuh. Gedung pencakar langit sedang dibangun. Jalan sedang diperluas dan diperpanjang. Jadi apanya yang sakit?

Datanglah ke sekolah-sekolah yang hampir rubuh, datanglah ke rumah-rumah sakit pemerintah yang kewalahan menerima pasien tidak mampu! Datanglah ke perkampungan kumuh tak terawat!

Kita jangan hanya melihat mall megah yang sedang rame dikunjungi pengunjung! Jangan lihat kuota haji yang penuh berdesakan menunggu antrian! Jangan lihat jalanan waktu liburan yang padat merayap bahkan macet nggak ketulungan.

Silahkan bandingkan jumlahnya antara yang kasus pertama dan kedua. Bandingkan! Mana yang porsinya lebih banyak. Disana kita akan lihat ketimpangan. Ada jurang terpisahkan antara si kaya dan si miskin. Itulah sakitnya republik ini.

Siapa yang harus peduli? Kita semua harus peduli. Andai tidak peduli maka kita semua sedang sakit. Kita merasa sebagai mahluk hebat yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang. Atau kita sedang berpikir bahwa uang bisa membeli segalanya.

Presiden adalah orang paling berkuasa di republik ini. Maka presiden harus mampu mengurangi ketimpangan. Bagaimana caranya. Mudah, alirkan dana itu, jangan mengendap pada individu semata. Jangan tergenang di kelompok tertentu. Alirkan itu!

Jangan biarkan nyamuk tumbuh karena air lama tergenang. Caranya perkuat institusi pajaknya. Pajaki mereka yang kaya, subsidi mereka yang papa.

Mungkin saya sedang melamun jadi presiden, atau barangkali saya sedang bermimpi. Jangan-jangan saya sedang terlalu berharap sampai lupa apa yang bisa saya kerjakan

.
Makasar
AHE