Senin, 13 Juni 2016

Berharap Rumah Baru


Banyak pertimbangan ketika seseorang hendak memutuskan untuk membuat rumah baru. Baru dalam artian semuanya baru, sekedar memperbaiki yang rusak atau merubah tata letak rumah. Tentu ada pertimbangan kenapa seseorang menginginkan rumah baru dengan suasana yang diharapkan lebih nyaman untuk ditempati.

Alasan dibalik keinginan rumah baru barangkali karena penghuninya sudah sesak karena ada anggota baru bisa anak atau saudaranya. Mungkin juga jumlahnya tetap tapi anak-anak sudah tumbuh besar sehingga memerlukan kamar baru. Pertimbangan lain bisa juga karena isi rumah berupa barang-barang sudah terlalu banyak sehingga terkesan menumpuk dan tak sedap dipandang mata.

Demikian pula dengan rencana rumah baru DJP. Kebutuhan anggaran yang semakin lama semakin besar memaksa institusi untuk merubah rumahnya. Entah rumah itu akan dibuat baru dan terpisah dengan rumah lamanya atau hanya sekedar perluasan dengan ruang utama yang masih menempel dengan bangunan lamanya.

Jumlah pembayar pajak serta nilai pembayaran yang diharapkan bertambah memaksa DJP untuk berbenah. DJP harus punya tempat yang lebih luas dengan jumlah pegawai yang juga harus bertambah. Keterampilan dan pengetahuan pegawai harus ditingkatkan. Perilaku harus ditata agar sesuai dengan visi dan misi organisasi.

Namun demikian membangun rumah baru harus berdasarkan pertimbangan yang matang. Anggota keluarga hendaknya diajak urun rembug bagaimana konsep rumah kedepan yang akan dihuni. Bagian mana yang akan dikurangi ditambah bahkan mungkin dibongkar. Mungkin akan ada kamar kesayangan sang anak yang harus dibongkar, padahal selama ini sangat disenanginya.

Orang tua harus bisa menjelaskan terlebih dahulu sebelum proyek rumah itu dijalankan. Anak-anak bukan lagi anak kecil yang hanya manut dan turut. Mereka punya keinginan meskipun semua biaya rumah tersebut sebenarnya kedua orang tuanya yang menanggungnya. Yang utama tentu bukan rumah baru tetapi harmonisnya keluarga yang kelak akan mendiaminya.

Wacana yang sedang hangat dibicarakan dalam rancangan Undang-undang KUP ternyata tidak hanya berbicara ketentuan hak dan kewajiban perpajakan serta konsekuensinya. Seiring kebutuhan, perubahan status DJP sedang menjadi bahan diskusi mengenai model kelembagaan serta kewenangan yang akan diamanahkan.

Sayang seandainya pembentukan rumah baru DJP hanya menjadi bahan diskusi tetangga dan tukang serta arsitek bangunan. Anak-anak yang bertebaran diseluruh pelosok nusantara semestinya memahami rencana besar tersebut. Mereka semua akan sangat terdampak karena merekalah pelaku utama yang kelak harus memelihara rumah baru tersebut agar sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Jikalau tidak ada upaya mengajak mereka, bisa jadi karena mereka sudah tidak dianggap anak, atau orang tua hanya memandangnya sebagai anak kecil yang tidak akan memahami banyak rumah barunya. Jika pekerjaan saja yang diberikan tanpa sebuah kepercayaan entah apa hasil yang akan dituainya. Atau mungkin semua hanya sekedar pemanis kerja belaka karena semua tidak paham apa yang hendak ditujunya.

Rumah baru memang perlu. Akan tetapi jangan sampai rumah itu hanya jadi lapangan baru tanpa atap karena perencanaan yang tidak mantap. Mulailah berencana dengan mengajak anggota keluarga untuk ikut berbicara. Biarkan semua bersuara meskipun sang Ayah yang pada akhirnya
 memutuskannya.


Selamat berharap rumah baru.
Abepura
AHE.

Blog Archive