Selasa, 14 Juni 2016

Ketika Diam menjadi pilihan


Hidup harus punya pilihan dan tujuan. Pilihan ibarat jalan menuju suatu titik tujuan yang hendak dicapai. Seandainya seseorang ingin ke Bandung tentu jalan yang diambil bisa berbeda. Berangkat dari satu kota yang sama bisa berbeda rute apalagi bila kota asal sama sekali berbeda.

Pilihan seseorang dibangun dengan ilmu yang dipelajari secara tekstual dan pengalaman hidup yang sering berubah seiring bertambahnya usia seseorang. Seseorang yang merasa rute a lebih pas, bisa saja seiring ilmunya merubah rute yang selama ini ditempuhnya. Seseorang yang sudah merasakan dua rute berbeda memilih salah satu rute atau bahkan keduanya karena ada plus minus yang dirasakannya.

Ketika rute itu diperdebatkan kadang-kadang saya ingin bicara rute a begitu ada pandangan rute b itu yang paling nyaman. Demikian pula sebaiknya. Saya mungkin dah punya pilihan rute tapi boleh jadi berbeda sudut pandang alasan memilih rute yang bersangkutan. Ketika perdebatan semakin tajam barangkali diam akhirnya menjadi pilihan. Bukan tidak punya pandangan,tetapi kegaduhan sudah terlalu bising sehingga diam bisa mengurangi kebisingan.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap mereka yang terang-terangan memilih, saya kadang-kadang terdiam dengan pilihan saya. Kadang muncul ketakutan saya sombong dan riya dengan pilihan saya. Ketakutan muncul karena saya pun sedang belajar dan begitu banyak ilmu yang belum saya dapatkan. Betapa saya masih bodoh sehingga belajar mutlak menjadi sebuah kebutuhan.

Dalam kebingungan hanya kepasrahan yang muncul. Wahai Tuhan pembolak-balik hati,tetapkan diri ini dalam agama-Mu yang lurus! Lindungi kami yang lemah ini! Mata hamba terlalu lemah untuk melihat, telinga hamba terlalu lemah untuk mendengar, dan hati hamba barangkali terlalu kotor untuk menerima bisikan kebaikan. Jiwa hamba terlalu lemah untuk berjuang.

Berilah hamba ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik dan amal yang diterima, karena hamba tidak tahu dari pintu mana surga bisa hamba raih! Berilah hamba waktu agar hamba bisa menambah ilmu dan amal, karena hamba masih merasa bodoh dan lemah dan tidak mempunyai cukup bekal. Hamba malu, karena itu diam kadang menjadi pilihan hamba untuk berpuasa bicara.

Entah berapa ayat yang belum hamba paham, berjuta ilmu yang harus hamba pelajari, bejuta pengalaman yang harus hamba lalui agar hamba tidak tersesat jalan. Bahagiakanlah dan berkatilah hamba dalam mencari ilmu-Mu, ilmu yang berjuta-juta pena pun tak kan sanggup mencatatnya.
Diam bukan karena hamba tidak memilih, tapi diam karena hamba sangat bodoh dan lemah.
Terimakasih untuk nasehatnya pak Agus Nugroho, Mang Asep Wahyudin Nugraha atas masukannya.

Jangan sungkan mengingatkan. Kepada semua teman yang tidak mungkin semua disebutkan terima kasih telah berbagi ilmu!
Abepura
AHE

Blog Archive