Jumat, 24 Juni 2016

Komunikasi Lintas Generasi DJP

Sebagai orang tua yang lahir era 70 an bahkan mungkin sebelumnya tentu pernah menikmati masa kanak kanak yang sarat dengan permainan kolektivitas di luar ruangan. Ada berbagai permainan adu kelereng, petak umpet, gobak sodor dan sebagainya. Hubungan yang dibangun sangat personal meskipun kadang ada gesekan fisik antar teman. Ujungnya persahabatan tetap terjaga karena satu sama lain merasa saling ketergantungan dan saling membutuhkan.

Setiap era memunculkan cara berkomunikasi sendiri. Era baru bahkan sudah memasuki era pertemanan yang lebih banyak terjadi di dunia maya. Dukungan bahkan pertentangan sudah tidak lagi dalam bentuk hubungan personal dan ikatan emosional yang tercipta dari pertemuan dan kontak fisik termasuk gestur tubuh dan tatapan mata. Saat ini komunikasi banyak terjadi dalam tatapan kamera dan tatapan mata dunia maya.

Pada suatu kesempatan presiden Jokowi sangat bangga begitu mengetahui pegawai DJP lebih banyak kalangan muda usia 20 sd 30 tahunan. Barangkali Sang Presiden begitu terobsesi dengan pidato presiden Sukarno tentang pemuda sebagai sebuah kekuatan bangsa. Meskipun beliau harus juga menyadari ada gejolak kaum muda yang "kurang sabar" dan berbuntut peristiwa "penculikan" Rengas Dengklok.

Seandainya kita petakan DJP berdasarkan usia, jenjang jabatan dapat dikelompokan berdasar fase umur. Eselon satu dan dua umumnya generasi yang lahir tahun 50 sampai dengan 60. Eselon tiga dan empat lahir di era 70 an. Beberapa fungsional terdistribusi dari era 50 sampai dengan era 90 an. Untuk pelaksana rata-rata sebaran terbanyak kelahiran tahun 80 sampai 90 sehingga disinilah data menunjukan kaum muda mendominasi sebaran pegawai DJP.

Beberapa pakar komunikasi banyak yang memberikan pandangan terhadap karakteristik masing-masing generasi dengan ciri-ciri khusus yang dimilikinya. Setiap generasi punya cara yang berbeda sehingga pola komunikasi pun pasti beragam. Disinilah justru tantangan yang harus disikapi dengan bijak terutama oleh level pimpinan.

Seandainya komunikasi dianggap bagian penting dalam organisasi maka langkah pertama yang harus disadari institusi adalah kesadaran tentang perbedaan pola komunikasi yang berbeda antar generasi. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan sehingga perlu kesadaran untuk saling memahami dan bukan saling memaksakan pola komunikasi sesuai standar generasi yang membentuknya.

Pimpinan tidak bisa memaksakan pola komunikasi sesuai pandangan jaman yang membentuknya. Pun demikian dengan bawahan tidak bisa memaksakan pola sesuai apa yang menjadi kebiasaannya. Siapakah yang seharusnya lebih banyak mendekat? Tentu ibu jari yang harus banyak mendekati kelingking dan bukan sebaliknya. Tangan memberi contoh sebuah perumpamaan.

Perbedaan bisa menjadi kekuatan. Anak-anak muda adalah aset negara yang berharga. Namun demikian tanpa komunikasi lintas generasi yang baik kekuatan akan menjadi kelemahan, persatuan akan menjadi pemberontakan. Inilah yang harus disadari karena komunikasi adalah kebutuhan hidup manusia yang terjamin sebagai hak asasi untuk bisa bebas berpendapat tanpa paksaan dan tekanan.

Untuk menciptakan komunikasi yang baik dibutuhkan telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, mulut untuk bicara,hati untuk menilai, serta akal untuk berfikir. Mari saling percaya untuk saling mendengar dan bicara. Institusi adalah keluarga yang harus terjaga harkat dan martabatnya. Buka mata buka pikiran dan buka hati karena keluarga bukan satu badan tetapi satu jiwa.


Salam satu jiwa dari Abepura.
AHE

Blog Archive