Jumat, 03 Juni 2016

Negara Tinggal Bendera karena Pajak tak berdaya


Temuan mesin uap menjadi awal perbudakan manusia oleh mesin. Karena kekuatan mesin pengolah bahan baku memunculkan kebutuhan luar biasa suplai bahan baku.

Muncullah upaya tanam paksa di beberapa negara bahkan rodi serta romusha. Petani dipaksa menanam tanaman tertentu yang dibutuhkan industri pabrikan negara maju terlebih dahulu.
Industri seolah tidak peduli kebutuhan pangan petani dan masyarakat, yang ada pemaksaan jenis tanaman yang sesuai dengan pasar. Revolusi industri berlanjut kolonialisme yang menjajah negara-negara pemilik sumber alam.

Revolusi industri saat ini muncul dengan wajah baru. Teknologi komputerisasi dengan kekuatan internet lintas batas negara memaksa masyarakat untuk meninggalkan pasar-pasar tradisional. Boleh jika saya menyebutnya revolusi industri jilid dua.

Jika saat ini pemerintah sibuk membuat regulasi memagari pasar-pasar tradisional dari serbuan mini market pemilik modal besar, mereka mungkin akan kaget ketika barang-barang beredar datang dari pasar maya dan susah dipantau.

Memantau harga daging yang kelihatan saja sulit apalagi daging yang berasal dari pasar maya. Kemana pemerintah akan sidak atau blusukan. Mungkin menteri hanya akan termenung sambil mengigit jari.

Saat ini yang baru nampak singgungannya adalah sektor transportasi. Silahkan membayangkan jika kelak sayur mayur saja dipesan via internet. Tahu dan tempe dikirim ke rumah masing-masing dan pedagang pasar terbengong bengong karena pembeli tak kunjung datang.
Pasar tidak nampak dalam pandangan mata karena ia berbentuk file file yang tidak semua orang bisa melihatnya. Bahkan entah ditempatkan di negara mana barangkali pemerintah bisa gagal mengidentifikasinya.

Merekalah penguasa sebenarnya. Jangan jangan bentuk negara saat ini sudah tidak relevan lagi. Negara sudah tidak berdaya mengejarnya apalagi mengatur bahkan memajakinya. Perusahaan-perusahaan teknologi seolah-olah sedang membentuk kolonialisme bentuk baru.
Kalau revolusi industri jilid satu berefek kolonialisme di negara pemilik kekayaan alam, revolusi industri jilid dua saat ini memunculkan kolonialisme di negara dengan pasar penduduk besar. Ia dipaksa hanya jadi targer pasar semata.

Kolonialisme muncul dimana ada pihak yang sangat dominan dan bisa memaksakan keinginannya. Ada pihak dengan daya tawar tinggi dan ada pihak dengan daya tawar rendah bahkan lemah. Mereka dengan mudah memindahkan aset dan uangnya.

Kompetisi tidak sehat diantara negara sampai pada level kompetisi tarif pajak rendah, suaka pajak, rezim kerahasian perbankan menunjukan negara sedang lemah posisinya dihadapan sang pemilik teknologi yang saat ini sedang jadi raja. Robot telah jauh menghilangkan peran manusia yang lemah tidak berdaya.

Otoritas pajak sulit memajaki karena bukti susah ditelusuri dan pasar bisa dengan mudah berpindah. Jangan kaget bila otoritas pajak dimanapun mungkin sedang gagap dan tertatih mengejar sang pemilik modal teknologi. Lebih lebih saat ini politik kekuasaan sedang berada pada kontrol mereka.
Ketika negara tidak memiliki sumber dana karena otoritas pajaknya tak berdaya maka negara tinggal deretan bendera tanpa makna.


Makasar
AHE