Selasa, 14 Juni 2016

Tax Amnesty dan Rel yang belum disiapkan


Perencanaan yang gagal bisa jadi indikasi kegagalan di awal waktu. Hasil mudah ditebak sejak dini karena alur tidak lagi lurus dan jalan cerita terlalu acak dan zigzag. Kereta tidak mau bergerak karena rel ternyata belum sepenuhnya siap.

Alotnya pembahasan RUU Tax Amnesty bisa jadi karena ruang terlalu luas sehingga memancing pertanyaan yang menyusahkan jawaban. Ibarat karya ilmiah mahasiswa yang tersandera maju sidang karena pembimbing sedang bingung menilai karya anak didiknya.

Bab pendahuluan yang memuat latar belakang dan tujuan tidak jelas dipetakan arah pokok bahasannya. Kajian teoritis yang memuat perbandingan dengan penelitian sebelumnya tidak banyak disajikan. Variabel penelitian belum memuat indikator yang jelas dan teruji.

Wajar kalau pada akhirnya banyak pertanyaan yang belum terjawab secara memuaskan. Ujungnya semua jadi ragu apakah kebijakan itu menguntungkan dan layak atau merugikan dan jauh dari kelayakan. Pertanyaan seputar siapa, apa, dan bagaimana kebijakan yang diwacanakan gagal di sidang awal.

Dampaknya revisi terus dilakukan. Revisi yang berulang berujung keraguan. Revisi sebuah keniscayaan, tetapi revisi yang berulang sinyal ketidaksiapan menjawab pertanyaan. Apa yang hendak dituju menjadi kabur karena banyak hal yang belum jelas diatur.

Arah kebijakan jangka pendek dan jangka panjang hanya tersampaikan di permukaan. Begitu masuk pada hal yang lebih dalam barangkali jawaban sulit disampaikan dan kembali menguap ke permukaan. Argumen dibalik semua pilihan mental karena daya dukung belum siap tersajikan.

Apa yang hendak dituju oleh sebuah kebijakan perpajakan tidak lepas dari subjek,objek, dasar pengenaan dan tarif serta mekanisme pengenaan termasuk tempat dan waktunya. Siapa subjek yang hendak dituju. Objek apa yang hendak diminta ampunan, bagaimana mekanisme perhitungannya serta berapa tarif yang akan diberlakukan.

Seandainya skema a, b dan c hendak diambil, argumen apa yang melatarbelakanginya. Kenapa harus 2, kenapa tidak 3 tentu pihak pengusul harus terlebih dahulu memberi jawaban. Harta mana yang akan masuk ruang lingkup.

Apakah harta yang ada di dalam negeri atau di luar, halal atau termasuk harta haram menjadi isu sensitip yang sejak awal harus dijelaskan dengan lebih rinci. Demikian juga dengan tarif, semua harus tersaji dengan jelas argumen dibalik semua alternatif pilihan. Kereta hebat belum beranjak barangkali rel jalannya belum sepenuhnya dipersiapkan.

Mungkin di timur ini terlalu jauh untuk sekedar tahu. Karena tidak tahu wajar andaikan tidak paham. Tax amnesty memang menciptakan berbagai pertanyaan yang berputar tentang bagaimana semua akan diatur.

Jangan-jangan saya terlalu jauh untuk mengerti dan paham.

Abepura
AHE

Blog Archive