Rabu, 31 Agustus 2016

Ada apa dengan Warisan (AADW)

Ada apa dengan "Warisan"

Salah satu isu perpajakaan yang sedang "kekinian"  terkait amnesti pajak adalah isu  perlakuan terhadap harta karena warisan termasuk hibah di dalamnya. "Kebingungan" sebagian masyarakat termasuk kelas "elit" barangkali karena keterbatasan pemahaman tentang kaitan antara penghasilan dengan harta.

Begitu sang juru suluh menyatakan bahwa warisan sebagai penghasilan, seketika masyarakat bisa kaget. Masyarakat bisa memaknai berbeda karena ketidakpahaman pada definisi penghasilan.  Timbul kesadaran pada diri kita kenapa guru guru  kita semenjak kecil selalu mengajarkan definisi baik definisi umum naupun definisi khusus. Karena dari sinilah semua akan mencapai kesepahaman. Seandainya satu berbicara definisi umun sedanfkan yang satu khusus maka ketika diskusi tidak ada kesamaan frekuensi hasilnya bisa menjadi debat kusir tak berkesudahan.

Karena konteks amnesti erat kaitannya dengan undang-undang pajak maka pemahaman amnesti pajak harus dimulai dati pemahaman undang-undang perpajakan. Dalam bahasa sederhana Penghasilan adalah tambahan  kemampuan ekonomis. Seseorang menjadi punya kemampuan mengkonsumsi atau menambah harta. Dengan warisan yang diterimanya ia punya kemampuan lebih. Ia bisa berbelanja, ia bisa menyimpan warisannya sebagai tambahan kekayaan. Jadi disinilah titik temu bahwa warisan adalah penghasilan. Karena ia penghasilan maka terkait pajak penghasilan ia harus dilaporkan.

Maaf ini baru pengantar dan jangan terburu-buru "gaduh". Kata itu bisa meluncur dari sang juru suluh. Penghasilan dalam undang-undang pajak penghasilan terbagi pada tiga kriteria. Pertama penghasilan yang juga objek penghasilan, kedua penghasilan tetapi bukan objek penghasilan dan ketiga penghasilan dengan model pemajakan khusus (final). Pada bagian penghasilan yang bukan objek inilah warisan diletakan oleh rezim perpajakan Indonesia.

Dalam bahasa keseharian penghasilan cenderung sesuatu yang harus dicari dan diupayakan. Kenyataannya ada penghasilan yang didapat penerimanya tanpa diusahakan sebelumnya seperti hibah, hadiah, sumbangan, warisan dan sebagainya.

Selain itu dalam konteks warisan yang belum  dibagi undang-undang pajak mengatur ketentuan bahwa subjek yang meninggal tetapi memiliki warisan yang belum terbagi, subjek atas penghasilan yang berasal dari harta itu tetap atas nama yang meninggal sampai warisan itu terbagi. Sebagai contoh seseorang meninggalkan warisan tempat futsal yang disewakan. Sampai warisan itu dibagi maka subjek pajak tetaplah nama pewaris.

Inilah salah satu yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum membicarakan isu terkait warisan yang katanya menghebohkan. Heboh wow mungkin karena tidak tahu. Setelah dijelaskan ia akan tersenyum tertawa karena dia sekarang bisa memahaminya.

Gerentes Hate
AHE

Blog Archive