Selasa, 09 Agustus 2016

Diskusi Kopi Aceh dan Papua

Diskusi Kopi Aceh dan Kopi Papua

Kopi Aceh bisa berbeda dengan Kopi Papua. Beda cita rasa barangkali para penggemar kopi mendefinisikannya. Meskipun berbeda hakekatnya keduanya sama-sama memiliki label kopi dan sama sama pahit tanpa penambah gula.  Nama belakang yang berbeda menjadi penanda seperti kopi ulee kareng dari Aceh dan Kopi Wamena dari Papua.

Tiga hari ini "penikmat" kopi itu dipersatukan dalam forum diskusi untuk mencari solusi-solusi terbaik yang bisa disumbangkan bagi kebaikan institusi. Meskipun kadang kami berbeda kutub pemikiran dalam diskusi yang melelahkan, kami tetap punya spirit yang sama. Itulah yang menyatukan kami meskipun cerita pengalaman hidup kami memiliki latar belakang yang berbeda.

Sebuah tantangan besar untuk bisa memetakan pemikiran dan gagasan yang ingin kami sampaikan. Kadang gesekan mengenai apa yang menjadi prioritas saja harus kami damaikan. Hulu yang berbeda mengakibatkan hilir pemikiran yang berbeda. Asumsi yang terbentuk akan menentukan arah pemikiran dan gagasan kami masing-masing.

Sesuatu yang dianggap penting atau tidak penting, mendesak atau tidak mendesak menambah lama pembahasan. Waktu-waktu yang seharusnya istirahat terpaksa kami ambil hanya agar rasa "kopi" kita masing-masing menjadi padu dan serasi untuk kami hidangkan bagi kebaikan institusi. Rasa sama-sama memiliki dan mencintai institusi menumbuhkan perasaan untuk saling berempati dan simpati.

Semua punya masalahnya sendiri-sendiri. Semua punya  cerita sendiri yang harus kami sampaikan untuk menjadi topik yang layak didiskusikan. Kendala geografi menjadi satu point tersendiri begitu kami diberi ruang dan waktu agar kami punya kesempatan menjelaskan tantangan yang selama ini kami hadapi. Butuh kesabaran untuk saling memberi waktu berbicara dan mendengar.

Komunikasi dapat disimpulkan sebagai inisiatif strategis yang harus dibangun agar organisasi sukses mewujuskan visi dan misi yang ingin diraihnya. Kami punya mimpi yang sama agar semua bisa memiliki kesempatan menuangkan karya-karya terbaiknya. Kami sedang sama-sama belajar berkomunikasi. Silaturahmi dalam berbagai  nama dan bentuk adalah bentuk komunikasi terbaik yang dibangun dengan semangat saling percaya satu dengan lainnya.

Indonesia dengan keragaman rasa kopi dan pemikirannya harus dikelola dengan baik. Hal yang jelek sekalipun begitu dikelola dengan baik bisa berdampak seolah-olah baik apalagi jika sejak awal yang dibicarakan adalah kebaikan dengan niatan yang baik pula. Kebaikan bersama adalah kebaikan bagi institusi, keluarga termasuk pegawai itu sendiri.

Seandainya sajian kopi kami belum berasa nikmat barangkali bukan karena kopinya tetapi kami keliru menyajikannya.

Bogor
AHE

Blog Archive