Selasa, 23 Agustus 2016

Goresan Pena Amnesti

Kegalauan Cinta

Cinta terkadang menyiksa, karena cinta itu memberi bukan meminta. Cinta ada karena ada perhatian dan kepedulian. Cinta kadang menyiksa karena ia berarti peduli tapi orang bisa memandang sebagai posesif banyak perhatian dan sebagainya.

 Yakinlah ketika kita galau artinya kita masih punya cinta..cinta keluarga, institusi dan negara. Entah orang bicara apa dan menilai seperti apa karena sesungguhnya kuta sendirilah yang paling memahami arti sebuah rasa.

Ketika kita kecewa dengan kondisi yang ada, niatkan bahwa semua kegalauan itu tumbuh karena masih ada cinta. Ketika potret-potret dashboard terpampang, kita boleh marah dan kecewa. Kita boleh menyalahkan diri kita dan sekitar kita. Tapi ketika cinta berbicara, semua akan sirna seiring waktu karena kita sadar ada solusi yang harus kita cari, ada cara yang harus segera ada. 

Teruntuk yang galau karena cinta pribadi, keluarga dan institusi. Untuk yang sedang kecewa bernyanyilah karena kita masih bisa bersuara meski dengan syair tanpa musik dan hanya tepukan tangan semata.

Untuk sahabat-sahabat penulis yang berjuang dengan tulisannya, mas Yustinus Prastowo Pradirwan Cell Slamet Rianto. Kita menulis karena kita masih ada.

Gerentes Hate
AHE

Repatriasi dan Deklarasi Luar Negeri  vs Azas Domisili

Dalam ketentuan UU Tax Amnesty diatur bahwa yang berhak pengampunan adalah mereka yang menjadi Wajib Pajak yang Wajib SPT yang wajib SPT. Wajib Pajak mengacu pada UU perpajakan yakni pembayar atau pemotong pajak. Ciri Wajib Pajak Dalam Negeri yang paling mudah dia harus punya NPWP.

Terkai dana di Luar Negeri yang konon katanya besar bisa kemungkinan di miliki oleh warga negara Indonesia yang sudah berdomisili di luar negeri. Karena UU Pajak Indonesia tidak menganut azas kewarganegaraan maka mereka sudah bukan Subjek Pajak Dalam Negeri . Mereka tidak akan dikenakan Pajak di Indonesia kecuali berdasar Azas Sumber mereka memperoleh penghasilan 

Ketika UU pengampunan pajak mengatur bahwa yang menjadi target Amnesti adalah dana di luar negeri melalui repatriasi atau sekedar deklarasi , maka pertanyaannya adalah apakah dana di luar negeri yang dimiliki warga negara Indonesia semua menjadi sasaran? Bukankah mereka tidak lagi sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri  karena permasalahan residen mereka disana. Objek Amnesti adalah dana di luar negeri yang dimiliki Wajib Pajak yang Wajib SPT.

Inilah yang menjadi tantangan ketika target Amnesti telah ditetapkan dan kita tidak menganut Azas kewarganegaraan. Pemajakan memang berawal pada apa azas yang dipakai suatu negara dalam pengenaan pajaknya. Domisili, kewarganegaraan,sumber dan teritori adalah langkah awal memetakan potensi pajak juga amnesti yang tidak mengatur khusus definisi Wajib Pajak.

Saya harus bertanya pada ahlinya. Mas GusHar Wegig Pramudito semoga berkenan menjelaskan dengan pemahanan hukumnya. 

Gerentes Hate
AHE

Amnesti itu Individu dan Negara

Bicara Amnesti adalah bicara pribadi yang satu dengan yang lainnya tidak bisa saling mengungkapkan kecuali yang bersangkutan yang menyatakan di depan publik. 

Seandainya Tuhan membuka aib orang mungkin kita semua tersadarkan bahwa ada dosa dan kesalahan yang sadar tidak sadar saat ini Tuhan tutup aib itu.

Ketika sang penceramah menyuruh dan menjelaskan kepada kita untuk selalu meminta ampunan, layakkah kita bertanya atas apa ampunan itu dimohonkan?

 Demikian pula dalam kontek individu dan negara, masing-masing individu tidak berhak bertanya anda meminta ampunan atau tidak karena yang berhak tahu individu yang bersangkutan dan negaranya. Apalagi atas apa ampunan itu diberikan.

Konteks amnesti memang jelas ampunan karena selama ini perintah negara untuk melaporkan harta bagi mereka yang masuk katagori  Wajib Pajak tidak diikuti. Kenapa harta perlu di laporkan, karena ia menjadi kontrol otoritas  negara yang sudah memberi kepercayaan kepada masyarakat untuk menghitung pajaknya sendiri.

Ketika budaya untuk melihat teman atau figur sebagai sesuatu yang layak menjadi panutan, muncul "kegatelan" untuk masuk dalam ranah individunya yang sebenarnya tidak layak kita memasukinya. Sebagai individu yang terpisah dengan jabatannya ia juga hak privasi. Walaupun dalam hal tertentu hak itu dipangkas dengan kewajiban pelaporan hartanya kepada KPK misalnya yang mau tidak mau di umumkan juga ke ranah publik.

Surat pernyataan amnesti berbeda konteks dengan LHKPN dimana undang-undang secara tegas mengaturnya. Seandainya amnesti juga diperluas ke ranah UU KPK barangkali LHKPN pun akan dirahasiakan. 

Itulah hukum yang harus mengatur dengan keseimbangan. Hanya kita sedang berusaha mencari titik keseimbangan itu.

Gerentes Hate
AHE

Tangan yang selalu "dibawah"

Pemerintah sudah berupaya memberikan kesempatan untuk mengungkap harta dan memberikan kesempatan bebas dari segala tuntutan administrasi bahkan pidana. Tebusan yang disyaratkan masih dipandang sebagai beban. Seandainya semua tahu betapa banyaknya pengecualian yang melegakan yang semestinya bisa didapatkan andai pintu terbuka itu benar-benar dimanfaatkan.

Ada baiknya bertanya pada mereka yang pernah mengalami sesuatu ketika kita ingin memahami sesuatu. Bagaimana ongkos kepatuhan baik waktu maupun uang yang harus dikorbankan begitu ketentuan di langgar. Kadang orang baru  sadar begitu merasakan langsung dan bukan orang lain. Pernah bertanya bagaimana menerima sanksi  administrasi  apalagi pidana. Semoga semua tidak menemuinya. Ada upaya untuk membangun kepatuhan sukarela tanpa dipaksa.

Saat ini pintu kelegaan sedang dibuka. Apakah karena syair gelisah,galau dan merana sedang asik didengarkan hingga semua hanya mau mendengar musik tanpa mau memahami bahwa sang penyanyi sedang bersedih dengan bait syair lagunya. Mungkin semua terbiasa berdendang untuk melupakan kesedihan sehingga lama-lama sedih itu menjadi nafas kehidupan.

Berhentilah sementara mendengarkan musik saja karena barangkali syairnya sedang sedih,galau merana. Seandainya semua tidak peduli maka semua hanya mau menuntut sekolah dan pengobatan gratis, jalan yang nyaman, fasilitas yang serba  tersedia dari sumbangan orang lain. Jika semua itu terjadi maka semua sedang jadi pengemis yang meminta jatah dari orang lain dan mengharap belas kasihan semata dan bersungut-sungut memaki orang yang tidak membantunya. Lebih sedih lagi semua tidak menyadari sedang jadi pengemis yang serakah.

Amnesti adalah pemaafan untuk mulai langkah ke depan dengan mengubah posisi tangan di bawah menjadi tangan-tangan di atas. Pintu itu sudah dibuka. Pintu kelegaan sudah terbuka. Jika pintu terbuka itu kembali ditutup, siap siap lah kelegaan itu hilang dalam genggaman. 

Gerentes Hate
AHE