Selasa, 30 Agustus 2016

"Kegaduhan" buah kegigihan

"Kegaduhan" buah Kegigihan.

Media sosial sudah menjadi gaya hidup. Smartphone menjadi sesuatu yang wajib dibawa selain dompet. Internet sudah menjadi sarapan pagi bahkan sebelum sarapan nasi dan secangkir kopi. Informasi apapun entah benar atau tidak muncul berseliweran tak terbandung. Efek eforia demokrasi yang sedang dinikmati. Bayangkan puluhan tahun sebelumnya, bayangkan negara lain yang mengetatkan sensor atas informasi yang layak maupun tidak layak menurut cara pandang pemerintahnya.

Tentu ada plus minus dari sebuah kebebasan atas nama kemerdekaan berpendapat dan berserikat. Masyarakat bisa dengan mudah menerima informasi dalam hitungan detik bukan informasi yang harus ditunggu dalam siaran berita seperti tayangan televisi di era-era sebelumnya. Berita sudah tidak jelas batasan siapa yang boleh memberitakan dengan batasan kode etik. Semua menjadi jurnalis dan berusaha berlomba memposting berita. Informasi menjadi alat mengangkat sekaligus menjatuhkan seseorang. 

Media sosial sudah mengantarkan seseorang menjadi kepala negara. Demikian pula media sosial sudah menjadi hakim yang memberikan vonis sosial seseorang padahal kebenarannya masih memerlukan penelitian. Orang mudah terhasut karena media sosial ibarat lahan gambut yang mudah terbakar. Pemantik api sekecil apapun memudahkan "api" cepat merambat dan membuat kepanikan.

Sebuah keniscayaan bahwa plus minus media sosial tidak bisa terhindarkan. Ia sudah menjadi bagian dari masyarakat dengan dua keping mukanya. Ia bisa menjadi alat berdakwah tetapi sekaligus slat memfitnah. Tinggal bagaimana orang menggunakan untuk kepentingannya dengan oenuh tanggung jawab.

Otoritas DJP menyadari peran media sosial. Di bawah komando kehumasan seluruh pegawai DJP menjadi corong humas institusi. Forum diskusi banyak membahas mengenai kebijakan dsn peraturan perpajakan. Sosialisasi dilakukan bahkan tidak mengenal sekat jam kerja. Warga negara yang selama ini tidak mengenal pajak sekalipun bisa banyak mengetahui informasi perpajakan meskipun hanya dari facebook temannya. Informasi yang bertubi-tubi memancing rasa ingin tahu masyarakat mengenai dunia perpajakan. Namun demikian mefia ini punya sisi kelemahan karena ingirmasi terlalu bersifat umum dan sepotong-sepotong. Gambar utama sebuah kebijakan atau aturan bisa kehilangan wajah aslinya karena potongannya sampai tidak berbarengan.

"Kegaduhan" amnesti pajak menjadi sesuatu yang bisa dilihat pada kacamata yang wajar dan bukti sebuah keberhasilan kehumasan DJP karena semua pegawai telah menjadi agen humas di masyarakat. Tantangannya bukan pada apakah media sosial harus dihindari bahkan dilarang, tetapi bagaimana peran media ini positip memberi pemahaman kepada masyarakat. Eforia meskipun masih muncul kekecewaan hinaan bahkan hujatan bisa disikapi dengan bijak oleh institusi, pimpinan bahkan seluruh pegawai. Bukan mengedepankan  pada sikap reaktif tetapi proaktif karena membangun kesadaran adalah perjalanan panjang dan melelahkan.

Gerentes Hate
AHE

Blog Archive