Minggu, 28 Agustus 2016

Maaf Saya Lupa Pajak.

Maaf saya "Lupa" Pajak!

Kesadaran timbul karena seluruh kelebihan yang dimiliki manusia dipergunakan sebagaimana mestinya Tuhan ciptakan. Manusia diciptakan dengan panca indera yang lengkap dengan tambahan akal dan hati. Akal lah yang menuntun manusia untuk berpikir dan hatilah yang memperkuat rasa. Panca indera misalnya mata hanya bisa melihat fenomena. Kesengsaraan yang nampak di depan mata tidak menggugah rasa empati apabila hati tidak menyertainya. Akal menuntun manusia dengan pengetahuannya. Pengetahuan yang seharusnya membawa kepada pentingnya kemaslahatan bersama dan bukan keserakahan individu.

Ada dialog menggelikan dari beberapa teman ketika bertugas sebagai juru suluh juru terang pajak. Seorang pengusaha angkutan mempertanyakan peran negara pada usaha pribadinya. Aneh kedengarannya. Tiap hari ia berusaha di jalan yang tidak dibuatnya. Tiap hari lalu lintas diatur pak polantas agar kendaraanya lancar. Apakah matanya tidak melihat. Saya yakin ia melihatnya, tetapi akal dan hatinya sedang dibutakan. Kembali ia sedang tidak sadar. Ibarat gajah sebesar apapun tidak kelihatan karena ada di pelupuk matanya.

Dialog berikutnya dari seorang teman yang sedang memberi "nasehat" pada teman yang mungkin sudah sukses berusaha dan berkeberatan dengan pajak yang harus ditanggungnya. Kategori kelas menengah yang sudah mengenyam bangku pendidikan. Barangkali ia sudah lupa bagaimana dulu ia bersekolah di sekolah yang dibangun negaranya, guru yang digaji negaranya. Senyum sang sahabat mengingatkan bahwa utang budi baik negara saatnya dibayar dengan sepersekian dari penghasilan yang di dapatkan.

Itulah kharakter manusia yang sering kali lupa. Seringkali tidak mau berpikir dan menggunakan hatinya. Hanya panca inderanya yang sering digunakan untuk menikmati secara pribadi kelebihan yang selama ini ia dapatkan. Ia lupa temannya, ia lupa negaranya bahkan mungkin ia lupa Tuhan-nya.

Bagaimana peran negara agar masyarskat tidak lupa. Negara harus mendidik masyarakat yang sadar pajak. Entah melalui jalur  pendidikan formal maupun non formal. Akal dan hatinya harus dibukakan agar ia punya kesadaran dan jangan dibiarkan lupa sampai tidak sadar diri. Bukannya berkontribusi tetapi hanya bisa menuntut dan menghujat. Meminta tanpa mau urun rembug. Lebih celaka ia berusaha menipu negara yang membesarkannya.

Selain itu negara juga harus bisa membangun kepercayaan. Negara lahir bukan karena kekuasaan tetapi karena pengorbanan seluruh elemen negara. Negara harus tampil menciptakan keadilan, kesejahteraan bersama dan bukan kesejahteraan pribadi atau golongan penguasa. Negara harus tranparan menggunakan dana yang berasal dari masyarakat dan tidak menjadikan bancakan atas nama nafsu berbungkus hadiah dan sumbangan padahal sejatinya suap. 

Kesadaran itu harus dimulai dari negara yang sadar tentang hak dan kewajiannya. Pemerintah harus jujur mengemban amanah. Jika tidak jangan harap masyarakat sadar. Masyarakat akan melawan meskipun hanya sebatas melawan dengan  "lupa". Masyarakat akan bilang maaf saya lupa pajak.

Gerentes Hate
AHE

Blog Archive