Selasa, 09 Agustus 2016

Panglima itu bernama Ibu Sri


Panglima itu bernama Ibu Sri

Sejarah Aceh mencatat banyak panglima perang wanita yang hebat. Panglima yang dipilih karena kecerdasan, kecerdikan dan keberanian. Seorang raja atau presiden membutuhkan panglima yang hebat untuk menjaga keutuhan negara minimal menjaga dukungan warga negaranya. Kepercayaan menjadi sebuah keniscayaan karena negara berdiri dengan komitmen bersama atas dasar kepercayaan.

Bukti telah menunjukan presiden Jokowi terpilih karena dukungan dari sebagian besar warga negara indonesia. Katakanlah garansi ini sebagai dukungan politik yang selama dua tahun ini telah teruji kekuatannya. Pihak yang selama ini berseberangan lambat laun ikut merapat dan memberi dukungan.
Bicara dukungan politik memang penting tetapi ada dukungan lain yang tidak bileh dilupakan yang lambat lain bisa menggerus dukungan publik. Ekonomi lah yang bisa menggerus dukungan politik bahkan sekelas presiden Suharto "takluk" karena tekanan ekonomi. Sektor keuangan dan sektor riil harus terjaga sebagai pilar kekuatan ekonomi negara. Daya beli masyarakat, tingkat pengangguran merupakan sumbu-sumbu pendek bom yang suatu saat membakar emosi bahkan meluluhlantakan kepercayaan yang selama ini terbangun.

Tepat kiranya ibu pertiwi melalui presiden Jokowi kembali memanggil putri terbaiknya untuk menjadi "panglima" keuangan yang harus menjaga ketahanan makro dan mikro sebagai salah satu sendi kekuatan negara. Seorang panglima yang didukung oleh "pandita" ekonomi Darmin Nasution. Selamat datang Ibu Sri Mulyani untuk kembali menata sistem ekonomi yang mungkin dirasa tidak berjalan pada rel yang semestinya.

Keberanian dengan perhitungan yang matang menjadi kekuatan di tengah kondisi dunia yang carut marut akibat perang dan ekonomi yang timpang karena keserakahan. Kita tunggu berbagai langkah dan taktik dari seorang Sri Mulyani karena kita percaya kecerdasan,kepintaran dan keberanian serta wawasannya. Politik sementara diam tanpa kegaduhan karena ekonomi masyarakat harus lebih diutamakan.

Gerentes Hate
AHE

Blog Archive