Selasa, 09 Agustus 2016

Si cantik itu bernama Maya

Si Cantik itu bernama "Maya"

Cantik identik dengan perhatian. Seseorang ingin terlihat cantik agar mendapatkan perhatian. Perhatian pasangan, teman bahkan orang-orang disekililing yang tidak dikenalnya. Cantik seolah menjadi prasyarat untuk bisa terkenal dan digemari.

Saat ini yang paling cantik adalah "Maya". Bukan neneng Maya teman Sule dalam sebuah acara stasiun TV dengan lagu-lagu memujanya tetapi dunia "Maya". Sebuah dunia yang tidak tampak yang terhubung dengan perangkat elektronik. Ia bisa berupa aplikasi pertemanan,game yang biasanya menggunakan koneksi internet.

Seseorang merasa banyak berteman begitu   teman dunia mayanya sudah sangat banyak bahkan sudah tidak mungkin bertambah lagi. Seorang "gamer" serasa jadi jagoan bola begitu ia memainkan permainan bola. Seseorang yang pemalu mendadak jadi banyak bicara di laman sosial media.

Dunia maya sekarang sudah bertransformasi dengan dunia nyata. Lihatlah aplikasi game pokemon yang sedang ngehit, aplikasi pemesanan tiket,hotel termasuk pesanan transportasi seolah menyatukan dua dunia yang awalnya seolah berjauhan.

MAYA adalah sesuatu yang tidak tampak tapi bisa nyata. Dunia memang permainan, makanya aktivitas kehidupan sudah seperti permainan. Ia seolah tidak hadir padahal hadir. Ia tidak ada tetapi sejatinya ada. Tantangannya bagaimana memetakan kecantikan dan kehebatan dunia maya.

Dunia maya barangkali menjadi sesuatu yang sulit untuk dibuat  regulasi. Lihatlah kebingungan begitu moda transportasi berbasis dunia maya masuk pada ranah publik yang semestinya diatur sebuah pemerintahan yang mewakili negara. Pemerintah menjadi gugup dan gagap mengaturnya.

Demikian pula dalam hal pengaturan perpajakannya. Bagaimana negara akan memajaki penghasilan yang berasal dari dunia yang katanya tidak tampak? Kunci pertama adalah memetakan sumber penghasilannya. Kunci kedua siapa yang menerima manfaat ekonomis berupa penghasilan dari kegiatan yang dilakukan di dunia maya.

Dunia Maya menambah daftar pekerjaan rumah otoritas berwenang untuk sesegera mungkin membuat regulasi yang bisa mengatur aspek perpajakannya. Setelah program Tax Amnesty saatnya pemerintah segera mempersiapkan regulasi yang bisa mencegah potensi kebocoran pajak di masa yang akan datang.

Hati-hati jangan hanya terpesona si cantik "Maya" tapi lupa memajakinya.

AHE

Mas Slamet Rianto ujung-ujungnya kok Pajak Lagi..barangkali karena pajak sedang menjadi profesi saya saat ini...hehe

Blog Archive