Selasa, 09 Agustus 2016

Tax Amnesty saatnya tidak lari dan sembunyi

Tax Amnesty saatnya tidak lari dan sembunyi.

Satu yang paling membosankan dalam hidup adalah ketika kita harus menunggu. Menunggu sesuatu yang sudah jelas sekalipun terasa tidak menyenangkan apalagi menunggu dalam suasana ketidakpastian. Orang akhirnya merubah menunggu itu dalam bentuk aktivitas. Ia bisa membaca buku, berita, bermain termasuk aktivitas menikmati tontonan. Seandainya tidak ada aktivitas ujungnya tidur memang menjadi sebuah pilihan.

Tidur memang sebuah kebutuhan tetapi bukan berarti manusia hidup hanya untuk tidur. Dia harus beraktivitas karena memang tubuh diciptakan untuk bergerak dan istirahat hanya sebuah periode selingan. Kebanyakan tidur tidak baik bagi kesehatan termasuk kebanyakan menunggu.

Dalam menghadapi masalah ada dua pilihan yakni menghadapi atau lari. Maju atau bersembunyi. Untuk maju tentu butuh pengetahuan demikian pula sebenarnya untuk bersembunyi. Maju identik dengan keberanian yang penuh perhitungan, sedsngkan sembunyi bisa dipahami sebagai ketakutan dan lari dari permasalahan. Meskipun sebenarnya lari dan sembunyi juga pilihan yang tidak disalahkan seandainya lari dan sembunyi hanya sebuah taktik mengatur waktu pertempuran.

Manusia hidup tentu memiliki kebutuhan. Kebutuhanlah yang memaksa dia melakukan aktivitas ekonomi.Ia tidak mungkin diam menunggu pemberian Tuhan tetapi bangkit berdiri mencari dan menjemput rejeki. Burung lapar sekalipun akan terbang meski harus kepayahan menjemput rejeki yang telah diatur Tuhan.

Namun demikian manusia tidsk boleh lupa dengan rejeki terutama harta yang diperolehnya. Harta itu tidak hanya milik ia seorang. Ada harta yang harus dikeluarkan yang sementara dititipkan kepadanya. Ada kewajiban keagamaan dan kewarganegaraan yang jangan dilupakan. Ia bisa saja lari dan bersembunyi sebagai sebuah pilihan. Tapi ingat lari dan sembunyi dari kewajiban membuat hidup lelah karena hidup tanpa perasaan lega. Rasa khawatir akan terus membuntutinya dan menguras habis energi dan pikirannya.

Terkait kewajiban bernegara saat ini negara sedang memberikan keleluasaan pada warganya agar himpitan dan tumpukan kesalahan masa lalu tidak selalu membebani pundak warganya. Ada kesepahaman bahwa barangkali ada kekeliruan yang juga dilakukan mungkin tanpa sadar juga dilakykan negara. Maka saatnya untuk melakukan rekonsiliasi dan sama-sama saling menahan diri. Sebagai bentuk komitmen negara memberikan kesempatan menebus kesalahan dengan nilai yang relatif kecil.

Sejatinya bukan tebusan yang menjadi tujuan tetapi rasa saling percaya dan terbuka itulah sejatinya hal yang diinginkan kedepan. Menuju dunia perpajakan baru yang lebih kompetitif dan berkeadilan. Ampunan hanyalah sebuah pintu untuk selanjutnya mari menata rumah kita bersama karena negara ini bukan milik siapa-siapa tapi milik kita.

 gerentes hate
AHE

Blog Archive