Selasa, 13 September 2016

Ada apa dengan nilai Ujian Sekolah?

Ada apa dengan nilai "Ujian Sekolah"

Jauh sebelum ujian akhir yang akan dilaksanakan dua tiga bulan lagi, guru kesiswaan sudah mulai ancang-ancang membuat simulasi ujian. Harapannya tentu saat ujian akhir nilai siswa ada di kisaran minimal 90 sampai 100. Sebuah harapan yang sebenarnya juga harapan semua anak didiknya termasuk orang tua siswa.

Setelah beberapa kali simulasi, hasil ujian murid ternyata rata-rata masih dibawah nilai 50. Dewan guru panik, murid-murid cemas dan orang tua tambah khawatir. Gambaran suram nasib anaknya mulai terbayang. Guru-guru mulai takut disalahkan karena gagal memberi pelajaran dan pemahaman bentuk-bentuk soal ujian.

Kepala sekolah berinisiatif melakukan rapat dengan semua siswa dan guru serta orang tua siswa. Bising rapat tersebut karena semua saling berargumen dan saling "menyalahkan". Setidaknya ada beberapa catatan penting meskipun belum sepenuhnya benar atau salah. Target nilai ujian yang sudah ditentukan dari awal ternyata malah membawa beban psikologis pada siswa. Model pembelajaran soal-soal ujian belum jelas dipahami murid-murid. Dukungan buku-buku penunjang sangat minim. Kondisi sekolah tidak mendukung proses pembelajaran. Siswa dibebani target lain yang juga tinggi dalam.bidang ekstra kurikuler.

Rapat itu hanya menghasilkan temuan  beberapa masalah. Saking beratnya masalah semua pihak tidak ada yang sanggup lagi bicara ketika diskusi mengarah pada solusi yang harus diambil. Semua seolah bingung dengan masalahnya sendiri. Seorang murid sejensk terhentak dalam lamunannya. Ia mulai bertanya pada dirinya. Apakah ia mempunyai motivasi untuk belajar, apakah sekolah dan jajarannya punya motivasi untuk berhasil, apakah orang tua punya motivasi menyekolahkan anaknya.

Jangan-jangan semua tidak punya motivasi yang tinggi. Siswa sudah apatis dengan target nilai yang harus diraih, guru dengan model pembelajarannya, dan orang tua dengan kondisi keuangannya. Semua mungkin sudah bekerja keras. Murid-murid sudah  dengan sigap berupaya belajar, begitu juga gurunya. Tapi,  lamunannya tiba-tiba berhenti pada sebuah kesimpulan. Masih adakah semangat itu? Ah, barangkali semangat itu perlahan mulai luntur di telan waktu.

Gerentes Hate
AHE

Blog Archive