Minggu, 25 September 2016

Satu Keping Dua Sisi

Satu Keping Dua Sisi

Entah saya sedang terlalu bersenang diri dengan respon masyarakat terkait dengan program amnesti pajak, sampai saya "melupakan" kepingan lain dari sebuah keberhasilan. Ketika Arsenal tadi malam dengan gagah mengalahkan rivalnya Chelsea barangkali saya bisa dengan bangga menyebutnya sebagai kehebatan pemain arsenal saat ini atau saya menunjuk "kekurangan" pemain arsenal generasi sebelumnya. Selalu ada dua sisi yang bisa kita lihat.

Ketika saya melihat masyarakat sedang antusias dengan program amnesti dan data harta lebih dari ribuan triliun masuk dengan sukarela pada basis otoritas negara bisa saja saya memandang ini sebagai sebuah keberhasilan atau sebuah ketidakberdayaan rezim pemaksaan.

Otoritas perpajakan bisa dianggap "gagal" untuk memaksa data itu masuk dalam sistem dan rezim pemaksaan tidak laku di republik ini. Masyarakat ternyata lebih senang dengan model pemaafan dan ampunan dan tidak mau "ribet" dan "ribut" dalam urusan pelaksanaan kewajibannya. Ada batas pemaafan negara dan ada juga batas penerimaan dari masyarakat pada kebijakan yang diambil.

Saya lebih senang tidak menyebutnya sebagai "kegagalan" tetapi justru keberhasilan dari sebuah keihklasan negara melepas "sementara" hak paksanya untuk sejenak berhenti dari model lamanya untuk kedepsn berbenah diri. Tidak salah kita menengok sisi lain dari pandangan yang selama ini kita pegang untuk disandingkan, dievaluasi dan dengan jujur kita mulai perbaiki.

Saya melihat keberhasilan sebagai sebuah kerja keras, kerja cerdas dan ihklas dari semua pihak yang berkepentingan serta komitmen kuat pimpinan yang didukung warga negaranya. Saya harus berbangga dengan Mr Jokowi yang ikut turun langsung ke tengah masyarakat. Presiden tidak harus bicara teknis masalah pajak tetapi komitmen dukungannya yang bernilai besar pada terciptanya kepercayaan masyarakat.

Masyarakat akan ada ketika mereka percaya. Masyarakat akan dengan sadar ketika mereka paham. Masyarakat butuh dimengerti demikian pula negara juga butuh dipahami dan dimengerti kebutuhannya. Negara hadir karena ada warganya. Tanpa warga negara tidak ada negara. Kehadiran warga negara bukan hanya pada sisi badaniah semata tetapi jiwanya yang hadir jauh lebih penting. Apa yang lebih penting dari rasa cinta itulah yang saat ini selalu digaungkan Sri Mulyani.

Tokoh yang sudah malang melintang di berbagai dunia ini mengemukakan masyarakat untuk merasakan merindingnya saat kita bernyanyi bersenandung Indonesia Raya. Bangunkan dulu jiwanya lantas bangunkan raganya, karena jiwa yang terpanggil turut menggerakkan badannya untuk sama-sama bergerak terpanggil.

Ketika menyaksikan antrean warga negara menyerahkan daftar hartanya saya ingin melihatnya sebagai sebuah jiwa-jiwa yang terpanggil dan sejenak melupakan motif lain seperti ketakutan dan lain sebagainya. Saya sedang ingin melihat kepingan putih itu. Bukan tidak menoleh kepingsn hitam itu tetapi kepingan putih jauh kebih menarik untuk sering-sering dilihat dan cukup menoleh saja kepingan hitam. Saya akan mengangap keping hitam sebagai sebuah pembelajaran saja dan keping putih sebagai sebuah harapan.

Keping putih adalah komitmen pimpinan, kepercayaan masyarakat, kerjasama dan dukungan semua pihak, keihklasan, pemaafan, kerja keras dan sisi baik kehidupan lainnya. Kalaupun kepingan hitam itu harus ada, ia hanya jadi pemacu agar kita tidak berada di keping hitam itu. Tuhan menciptakan dua keping itu untuk menjadikan manusia senantiasa mawas diri dan mengambil pelajaran pada kedua sisinya.

Semoga ke depan lebih baik karena yang hebat itu yang saat ini dan masa depan ia berbuat lebih dan lebih baik. Majulah Negara menuju cita-cita luhurnya.

Gerentes Hate
AHE

Mas Pradirwan Cell kapan kembali tertawa dan kumpul kembali di pos kenangan Cibeunying.