Selasa, 13 September 2016

Saya Percaya Maka Saya Ada

Saya Percaya Maka Saya Ada.

Apa yang disampaikan Ibu Sri Mulyani di kalangan civitas akademika UI sungguh membangunkan saya. Ketika orang-orang disekitarnya memandang aneh apa yang beliau perbuat. Menahan lapar dan dahaga dalam kisaran yang jauh lebih lama dalam wujud shaum dimaknai sebagai sesuatu yang aneh dan menyiksa bagi sebagian kalangan. Saya yakin Beliau sedang tulus percaya sehingga hambatan alam tidak mengurangi keteguhan menjalankan perintah agama. Kepercayaan sebuah kekuatan.

Karena kepercayaan adalah modal besar yang menyatukan jiwa dan raga. Raga akan kuat karena jiwa juga mendukungnya. Ruh dan badan ada di saat dan tempat yang sama dengan satu tujuan. Jiwa dan badan tidak terbebani karena satu dengan lainnya saling memberi motivasi.

Itulah kunci penting kehidupan. Karena percaya itulah yang menyatukan keluarga, suami istri dan anak serta induvidu dan organisasi. Maka kaget begitu saya mendengar jawaban teman yang susah percaya apalagi percaya pada institusi. Bagi saya percaya itu modal awal. Ketika rasa percaya mulai goyah , badan terasa lebih cepat lelah dan jiwa sedikit terguncang dan menemukan ketidaknyamanannya.

Kepercayaan pada Tuhan dilandasi percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah tidak menepati janjinya. Tidak demikian dengan manusia yang janji terkadang meluncur secara cepat tetapi realisasi bicara sebaliknya tersendat dan hampir hilang terbungkus oleh kharakter lupa. Manusia memang harus selalu diingatkan.

Ketika saya percaya, badan dan jiwa saya ada. Ketika kepercayaan perlahan terkikis waktu, waktu jualah yang suatu saat akan menjawabnya. Semoga spirit shaum tumbuh karena ia menjadi kekuatan super dan kepercayaan senantiasa terjaga. Entah teman saya apa yang melatarbelakanginya untuk memilih tidak percaya "sesuatu". Mungkin ada kisah duka yang pernah dan dia sembunyikan rapat di dadanya.

Seandainya semua saling percaya, indah nian semua saling berkarya.

Gerentes Hate
AHE

Blog Archive