Selasa, 13 September 2016

Surat Pernyataan

Surat Pernyataan

Kata memang memiliki nilai tersendiri. Kata juga mempunyai strata sosial sendiri. Dalam bahasa daerah tertentu bahkan kata harus disesuaikan oleh penuturnya dengan melihat dengan siapa ia bicara dan dimana ia bicara. Ketika di terminal barangkali berbeda dengan ketika dialog dilakukan di keraton misalnya.

Ketika undang-undang ampunan pajak lebih memilih kata pernyataan dibandingkan ampunan sebagai nama surat yang memuat daftar harta bersih, mungkin saja ada pertimbangan rasa disana. Kata ampunan terlalu  mengesankan tuduhan berdosa. Ketika salah dan khilaf dipandang sebagai kekeliruan bersama, masyarakat akan memandang bahwa tidak ada salah secara individu yang ada "kesalahan" bersama.

Mungkin masyarakat akan berpandangan bahwa dalam relasi negara dengan warganya, otoritas negara juga punya sisi "kesalahan" itu. Argumen kurangnya mendapat penyuluhan sampai dengan stigma perilaku pegawai dengan embel-embel Mr X seakan terus menghantui dan tertanam kuat di benak masyarakat. Masyarakat tidak mau "disalahkan" sendirian.

Amnesti sebagai tema kampanye yang lebih sering digunakan mungkin juga dilatarbelakangi rasa bahasa. Ibarat penggunaan "tuna .." untuk menunjuk sesuatu yang lebih halus dibanfingkan kosa kata lain yang mempunyai rasa yang dipandang terlalu sensitif bagi telinga sebagian orang.

Jadi saya anggap wajar ketika saya bisa bercanda dengan mereka dan menjelaskan lembar demi lembar surat pernyataan. Mungkin saya juga akan terbebani begitu lembaran itu berisi kata "pengampunan". Saya hanya bisa berucap terima kasih karena kesadaran itu muncul meskipun orang berperilaku denfan motif yang berbeda.

Ada senyum kelegaan karena menyimpan "sesuatu" disadari atau tidak membebani dada. Sama beratnya ketika kita sadar diri merasa ada sesuatu yang salah maka himpitan itu tanpa sadar ada di ruang dadanya. Terima kasoh untuk senyum dan candanya karena semua harus lega dan memulai kembali dengan sapaan " pagi pace  mace" dengan senyuman seindah mungkin.

Gerentes Hate
AHE

Blog Archive