Selasa, 29 November 2016

,

DJP Pu Rasa DJP Pu Kinerja

DJP Pu Rasa  DJP Pu Kinerja

Kenapa cinta itu buta? karena cinta tidak hanya bicara mata. Cinta bicara hati. Saya mencintai seseorang sementara anda mungkin tidak. Dalamnya laut bisa diselami, tetapi dalamnya hati belum tentu kita mudah memahaminya. Seorang penceramah mengatakan "jagalah hati!". Mengapa ia menyampaikan hal tersebut karena ia sadar pentingnya menjaga rasa.

Rasa itu ada di hati bukan di pikiran. Rasa sedih,gembira,suka,duka,kesal dan marah bahkan kecewa ada di hati. Ketika hati terluka maka pikiran bisa tertutup rasa.  Rasa yang katanya sulit dimengerti kecuali oleh orang yang merasakannya. Demikian pula dengan rasa cinta. Cinta termasuk cinta pada institusi dimana seseorang bekerja.

Ketika ada harapan yang tersia-siakan, wajar kalau ada rasa kesal dan marah. Begitu organisasi mengharapkan anggotanya mencintai dengan sepenuh hati institusi, namun yang ada sebaliknya wajar kalau institusi marah dan kecewa. Pemimpin kecewa ketika nilai-nilai yang harusnya dianut anggotanya seakan dicampakan. Integritas yang seharusnya dijunjung tinggi hilang dari diri pegawainya.

Kekecewaan adalah keniscayaan selaku manusia. Namun demikian kecewa tidak lantas membuat kita terlena. Kita harus dengan jernih melihat bahwa yang mengecewakan rasa hanya sedikit dibandingkan dengan mereka yang membuat organisasi bangga. Saat waktu sudah mengambil hak pribadi pegawai untuk bercengkrama dengan keluarga, tertawa bersama anak-anak semata-mata pengabdian pada institusi, pegawai tidak ada yang menolak dan serta merta taat pada pimpinannya.

Jadikanlah kepedihan, kekecewaan sebagai bagian yang menyadarkan institusi untuk terus belajar. Belajar menata pegawainya, belajar membuat rasa bahagia pegawaianya muncul. Organisasi yang pegawainya bahagia cenderung efektif berkinerja.  Organisations with more satisfied workers are more effective than those with less satisfied workers (Robbins).  Pemimpin memiliki tugas mengefektifkan kerja pegawainya dan bukan sekedar menghukumnya. Hukuman penting tetapi pembinaan jauh lebih penting.

Momen pelantikan  pimpinan yang menggawangi kepatuhan internal dan sumber daya aparatur harusnya menjadi momentum untuk menata kembali kebijakan atas pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan DJP. DJP Pu Rasa DJP pu Kinerja. Salam hangat dari ujung timur Indonesia.

AHE